Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 27


__ADS_3

Di rumah orang tua Bu Bakir, hari ini sedang ada persiapan acara peringatan tiga hari meninggalnya Pak Bakir. Tersebarnya kabar Pak Bakir seorang napi yang meninggal saat menjalani hukuman, membuat warga sekitar enggan melayat dan menghadiri acara doa yang diadakan keluarga.


Bu Bakir, Kakek dan Nenek dapat memaklumi pendapat warga tentang Pak Bakir, tapi tidak dengan Nabila. Gadis itu sedari pagi mengurung diri di kamarnya. Sang Ibu yang berusaha membujuk, belum berhasil membuat gadis itu membuka pintu kamarnya.


Siang ini, beberapa orang guru dan Dessy teman sebangku Nabila, datang melayat. Tak ada teman sekelas yang lain, hanya Dessy yang datang, dan hal itu membuat Nabila semakin sedih.


Tok ... tok ... tok


"Ndhuk, buka pintu! Itu ada guru-guru dan temanmu datang. Ayo temui mereka, Ndhuk!


Nabila masih belum mau membuka pintu, hanya suara isak gadis itu saja yang terdengar sampai ke luar.


"Ndhuk! Boleh Ibu masuk?"


Nabila bahkan tak mau menjawab pertanyaan Ibunya, pintu juga belum terbuka. Akhirnya Bu Bakir mengalah, meninggalkan kamar anaknya, dan menemui para guru yang melayat.


"Maaf ya, Pak, Bu! Nabila belum bisa menemui Bapak dan Ibu. Saat ini Nabila masih bersedih, maklum dia anak satu-satunya, dan sangat dekat dengan bapaknya."


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, kami bisa maklum kok, mungkin Nabila masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Ibu dan keluarga, kiranya bisa mengerti bagaimana Nabila ya, jangan dimarahi," kata Bu Nanda, wali kelas dan guru yang cukup dekat dengan Nabila.


Bu Bakir hanya bisa tersenyum dan mengangguk, wanita itu tampak sangat mengkhawatirkan keadaan anak gadisnya. Sedari pagi, Nabila belum keluar kamar, dan juga belum makan apa-apa dari kemarin malam.


"Iya, Bu. Ibu yang sabar ya! Apalagi kami dengar dari Dessy, dulu Nabila pernah mengalami perundungan, waktu masa SMP, terkait musibah yang menimpa Bapak. Bisa jadi, saat ini Nabila mengkhawatirkan hal yang sama akan terjadi lagi. Kita sebagai orang tua, harus bisa memberikan dukungan secara moral, agar Nabila tak merasa sendirian," Bu Tami, guru BK turut ambil suara.


"Boleh Dessy coba menemui Nabila, Bu?"


"Silakan, Dess! Mungkin dengan kamu Nabila bisa berbagi keluh kesah."


"Terima kasih, Bu. Akan saya coba menemui Nabila."


Dessy beranjak dari ruang tamu menuju kamar sahabatnya itu. Tak lama, Nabila membuka pintu dan menghambur dalam pelukan Dessy.

__ADS_1


"Nangis aja, Bil! Kalau itu bisa membuat rasa sesak di dada menjadi lebih plong. Aku tau, beban kamu berat saat ini, dan kamu harus tau, aku siap untuk jadi teman curhatmu."


Nabila semakin terisak, dan Dessy membiarkannya untuk beberapa saat. Gadis itu menepuk-nepuk punggung Nabila, untuk sekedar menguatkan sahabatnya.


"Aku takut, Dess, takut kejadian seperti jaman SMP terulang lagi, aku takut," kata Nabila di tengah isak nya.


"Iya, aku tau, kamu pasti takut. Tapi hidup itu perlu dihadapi, Bil! Kita gak bisa selamanya lari dari kenyataan. Percayalah, aku sebagai sahabatmu, gak akan pernah ninggalin kamu, aku janji akan selalu ada buat kamu. Mendukung kamu, untuk menghadapi kenyataan, sepahit apapun itu."


"Terima kasih ya, Dess. Saat ini, kurasa cuma kamu, satu-satunya teman yang aku punya."


"Kak Rio---"


"Kak Rio udah putusin aku, Dess. Karena mamanya tau, bapakku seorang napi dan meninggal di penjara."


Nabila semakin terisak, kembali Dessy membawanya dalam pelukan. Dessy paham betapa hancurnya hati Nabila saat ini.


"Kamu yang sabar ya! Aku yakin kok, kamu gadis yang kuat, kamu akan berhasil melewati semua ini dengan baik. Untuk Kak Rio, aku tau, pasti berat bagi kamu untuk menerima. Kak Rio cinta pertama kamu, dan kamu baru mengalami yang namanya patah hati. Kecewa boleh, tapi jangan membenci ya, Bil!"


"Iya, aku tau kok, aku paham gimana posisi Kak Rio saat ini. Sebagai seorang pengurus OSIS yang punya banyak fans, tak mungkin baginya pacaran dengan anak seorang napi. Kalau kemarin-kemarin sih oke, dia udah tau bapakku napi, tapi teman-teman di sekolah kan belum."


"Iya, aku paham."


"Tapi sekarang, karena meninggalnya Bapak, semua jadi tahu, Dess. Satu sekolah sekarang tahu, dan itu membuatku takut, aku takut, Dess, takut sekali."


Nabila kembali terisak, bahkan sekarang lebih keras dari sebelumnya. Dessy juga bingung, mau menghibur dan menguatkan bagaimana lagi, sahabatnya berada di posisi rapuh. Akhirnya, mereka berdua jadi menangis bersama sambil saling memeluk.


Para guru sudah berpamitan pulang, tanpa ditemui oleh Nabila. Mereka merasa maklum dengan keadaan anak didik mereka itu. Dessy memutuskan tinggal lebih lama, untuk menemani Nabila.


Bu Bakir masuk ke kamar anaknya, mengantarkan makanan untuk Nabila dan Dessy.


"Ini, Ndhuk! Kalian berdua makan dulu, ini sudah lewat dari jam makan siang. Terutama kamu, Bil, dari kemarin malam kamu belum makan. Jangan sampai kamu jatuh sakit ya, gak mau kan, kamu merepotkan Ibu?"

__ADS_1


"Iya, Bu. Maafkan Bila ya, Bu, sudah membuat Ibu khawatir!"


"Iya, Ndhuk. Sekarang kamu makan yang banyak, Dessy juga, kalau kurang, kalian bisa nambah di belakang."


"Terima kasih, Bu. Ini juga porsinya udah kebanyakan kalau buat Dessy."


"Pokoknya habiskan ya, Dess. Apa gak kasian lihat Ibu yang sudah susah-susah masak?"


"Iya, Bu, pasti Dessy habiskan kok, kan soto ayam tuh makanan favorit Dessy."


"Ibu ke belakang dulu ya, kalau begitu, mau bantu Nenek masak lagi, buat acara tiga harinya Bapak."


"Iya, Bu, silakan."


Setelah Ibu berlalu, Dessy dan Bila melanjutkan obrolan mereka yang tadi sempat tertunda.


"Jadi, Kak Rio belum ke sini, Bil?"


"Belum, Dess. Pasti dilarang sama mamanya. Kan tau sendiri, mama Kak Rio itu galak sekali. Beliau juga gak suka anak lelakinya berteman dengan sembarang orang, harus selektif."


"Pasti Kak Rio merasa sangat tertekan ya, dengan sikap mamanya itu."


"Ya pastinya, tapi sebagai anak, bagaimanapun dia harus berbakti pada orang tua."


"Iya juga sih, mana masih jadi beban juga buat orang tuanya. Tapi ... kamu patah hatinya jangan lama-lama ya, Bil!" Harus segera move on, masih banyak yang harus kita perjuangkan, masa depan kita masih panjang. Jangan sampai patah hati, membuat kita terus terpuruk dan merasa jadi mahkluk paling menderita di dunia."


"Putus dari Kak Rio belum jadi beban yang paling berat kok buat aku, yang ku takutkan, bagaimana menghadapi teman-teman."


"Tenang aja, kan ada aku. Kalau semua orang gak mau berteman karena kamu anak napi, aku akan tetap menjadi temanmu."


"Terima kasih ya, Dess."

__ADS_1


Mata Nabila kembali berkaca-kaca, karena terharu mendengar omongan Dessy.


__ADS_2