Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 56


__ADS_3

Winda tersenyum puas, sedang Dika tersenyum kecut. Rencana yang sudah dibuatnya bersama Rika gagal total, karena Winda menyusulnya ke bengkel. Benak Dika masih bertanya-tanya, dari mana Winda tau rencananya, dan membuatnya gagal?


Senyum masih merekah di bibir Winda saat meninggalkan bengkel, suatu petualangan baru yang baru saja dia alami, memompa semangatnya. Dalam hati, Winda ingin mengulangi kembali petualangan yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Selama ini, kehidupannya dan Dika selalu monoton, dan itu sangat membosankan.


"Harusnya dari lama Mas Dika ngajakin kayak gini, kan menyenangkan, kok baru sekarang sih? Tapi gapapa, mending terlambat daripada gak sama sekali," gumam Winda sambil menghidupkan motornya.


Rika yang masih uring-uringan, sengaja menunggu Winda meninggalkan bengkel. Rasa kesal di hatinya, membuatnya ingin melabrak Winda, tapi apa daya, Winda istri sah Dika, bukan dirinya. Sadar diri dengan hal itu, membuat Rika terpaksa mengalah. Tapi hasratnya sudah di ubun-ubun, ingin segera di tuntaskan.


"Mas, wanita gendut itu sudah pergi?"


Pertanyaan Rika membuat Dika terlonjak kaget, pria itu tak menyangka Rika akan datang lagi ke bengkelnya.


"Bikin kaget aja kamu, Mbak. Ngapain lagi ke sini, nanti Tasya nyariin lho?"


"Kok ngapain? Ya aku masih pengen lah, Mas. Ngapain juga kamu nyuruh Body Gajah kemari sih? Ganggu aja!" Rika merajuk.


"Aku gak nyuruh dia, malah aku juga heran, kenapa dia nyusul ke sini dan tau perihal jamu itu. Jangan-jangan---"


"Apa?"


"Ada yang mendengar waktu kita merencanakan ini, Mbak Rik."


"Bik Sari! Pasti wanita tua itu, Mas."


Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bisa berabe kalau benar Bik Sari sudah mencium permainannya dengan Rika. Keluarganya bisa hancur berantakan, Bik Sari akan mengadu pada Winda.


"Bisa gawat kalau begitu, Mbak Rik. Rumah tanggaku bisa hancur."


"Ya gapapa, kalau kayak gitu kan malah bagus. Setelah kamu cerai sama Gajah itu, kamu bisa nikah sama aku, Mas."


"Oh, tidak semudah itu Markonah! Hampir semua harta yang kami miliki itu warisan dari orang tua Winda. Bahkan bengkel ini juga modalnya dari dia, bisa kere mendadak aku cerai dari dia," gerutu Dika.


Rika tertegun, tak menyangka kalau Dika tak sekaya dugaannya. Sekali lagi Rika salah sasaran. Niatannya untuk hidup enak bergelimang harta lagi-lagi pupus. Setelah Juragan Rojali, Dika juga setali tiga uang, sama-sama kere.

__ADS_1


"Kenapa malah bengong di situ? Udah sana ke sekolah Tasya, nanti dia nyariin!"


"Tapi, Mas---"


"Apalagi?"


"Aku tunggu nanti malam di kamar ku. Kamu harus datang, aku gak mau tau!"


Rika keluar dari bengkel masih membawa kekesalan, Dika yang melihatnya dari belakang, menelan air liur, efek jamu itu masih terasa, meski tadi udah dicoba bersama Winda.


Di sekolah, Dessy menceritakan kedatangan Rara ke rumah Rio pada Nabila. Juga tanggapan Tante Hesti, mama Rio.


"Kok aku jadi takut ya, Dess," kata Nabila setelah mendengar cerita itu.


"Takut kenapa?"


"Kalau mamanya Kak Rio tau kebenarannya, apa gak bakal nuduh kalau kita nipu dia?"


"Ya tinggal balikin aja, salah sendiri dia ngeyel waktu dikasih tau. Kata mamaku sih begitu, Bil. Kamu tenang aja, gak usah khawatir!"


"Kamu sendiri lho, yang bilang mulutnya biasa gitu. Jadi kamu juga harus terbiasa mendengar omongan pedasnya, jangan masukan hati!"


Nabila menghela napas, sebenarnya gadis itu enggan terlibat lagi dengan Rio dan keluarganya yang aneh. Menutup lembaran lama yang penuh luka dan melupakan Rio, sudah dipilih Nabila sebagai jalan hidupnya. Tapi keisengan Dessy dan mamanya, mau tak mau membuatnya terlibat lagi dengan keluarga aneh itu.


"Sebenarnya, manfaat apa sih, yang kamu dan mamamu dapat dengan melakukan lakon ini?" tanya Nabila hampir putus asa.


"Gak ada, hanya iseng. Kalau mamaku sih punya tujuan, agar Tante Hesti itu sadar. Gak lagi merendahkan orang-orang yang levelnya di bawah dia. Manusia sama saja kedudukannya di mata Tuhan, gak peduli miskin atau kaya."


"Emang bakal bisa berhasil? Kalau menurutku sih, gak


masuk akal cara yang dipakai mama kamu itu, Dess."


"Aku juga meragukannya, tapi pasti mamaku punya pertimbangan lain kok. Lagian, cara itu udah berhasil menyelamatkan satu orang."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Itu, si Rara. Kan sekarang dia udah sadar, dari bucin dia yang gak ada otak sama Rio. Jadi dia gak akan mempermalukan diri lagi untuk dapat simpati Rio. Bahkan sekarang Rara jadi ilfil, setelah ketemu mamanya Rio."


"Ya baguslah kalau begitu. Jadi cewek emang harus bisa jaga harga diri, kalau bisa jual mahal, ngapain juga jual murah. Meski aku miskin gini, ogah aku ngelakuin cara kayak Rara kemarin buat dapetin simpatinya Kak Rio."


"Sip. Memang harus gitu jadi cewek!"


Nabila tersenyum, baginya Dessy teman yang menyenangkan dan selalu peduli padanya. Dessy selalu ada setiap kali Nabila butuh bantuan. Bahkan, mamanya Dessy, Tante Anna, tak melarang anaknya bergaul dengan gadis miskin sepertinya. Dessy dan mamanya terlalu baik bagi Nabila.


Tiba-tiba saja, Raka sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Raut wajah Dessy yang semula ceria, berubah menjadi manyun dan kecut setelah melihat Raka. Dengan setengah membentak, Dessy bertanya pada Raka.


"Ngapain ke sini?"


"Ada yang mau ku omongin, Dess. Penting!"


"Aku gak ada waktu buat ngomong sama kamu. Dan bagiku, gak ada urusan yang dibilang penting antara aku dan kamu!"


"Ayo lah, Dess! Jangan kayak anak kecil! Masalah gak akan pernah selesai kalau kamu terus menghindar. Ayo kita selesaikan masalah kita berdua!"


"Dengar ya, Ka! Aku gak mau lagi punya urusan sama kamu, apalagi keluargamu. Anggap saja kita gak pernah kenal!"


"Dessy!! Sudah ku bilang kan, jangan kayak anak kecil!"


"Harusnya aku yang ngomong kayak gitu, Rak. Bukan kamu. Kamu dan keluargamu, terutama mamamu, yang seperti anak kecil."


Dessy mulai meninggikan suaranya, hingga beberapa orang yang saat ini berada di dalam kelas, menoleh karena ingin tau.


"Bisa kan, gak usah teriak-teriak?" kata Raka lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Dessy dan Nabila.


"Kenapa? Kamu malu?"


"Bukan aku, tapi kamu yang akan malu, kalau aku membeberkan semua yang pernah kita lakukan, pada mereka," kata Raka sambil tangannya menunjuk wajah-wajah yang melihat dengan penasaran.

__ADS_1


Seketika Dessy membeku, amarah terlihat jelas di matanya saat memandang Raka. Cowok itu hanya tersenyum miring.


"Nanti malam, aku akan ke rumahmu," kata Raka sambil melenggang pergi.


__ADS_2