
Joni melajukan motornya dengan sedikit ngebut. Melewati areal persawahan yang sepi, apalagi pada jam yang menunjukkan beberapa menit sebelum tengah malam, membuat orang harus mengadaikan nyali.
"Ya, Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini," doa yang terucap dari bibir Joni.
GUBRAAAKKKK
Tiba-tiba motor Joni seperti tersangkut, membuat Joni jatuh terguling dan masuk ke parit. Tiba- tiba, dua sosok tubuh dengan penutup wajah, segera menghampiri dan mengambil alih motor Joni.
"WOI ... MALING, RAMPOK, BEGAL! TOLONG, ADA BEGAL, TOLONG!"
Kedua orang itu terbahak melihat ulah Joni, kemudian dengan santai mereka pergi mengendarai motor Joni. Joni yang berusaha keluar dari parit menjadi kesal.
"SIALAN...BABI NGEPET...BULU MONYET...KUTIL KUDA!!!!"
Joni terus saja meneriakkan umpatan-umpatan yang terpikir oleh otaknya. Seluruh pakaian dan muka Joni penuh lumpur, sehingga dia lebih mirip seperti mahluk rawa dalam kisah film horor, Swamp Thing.
"Sial banget sih, aku hari ini. Niatnya kerja lembur di kantor buat cari duit tambahan, ehh motor malah ilang. Mana masih kredit lagi...benar-benar siaalll."
Dengan gontai Joni berjalan meninggalkan areal persawahan, tak ada gunanya lagi berteriak, toh tak akan ada orang yang mendengar.
Kedua begal yang berhasil membawa kabur motor Joni merasa sangat senang, misi mereka sukses malam ini. Saat dirasa sudah aman, mereka memutuskan untuk berhenti.
"Gimana, Bro? Hasil kerja kita malam ini?" tanya Mus pada Sueb.
"Lumayan banget, Bro. Motor ini masih baru, masih dua bulan yang lalu. Bisa lumayan nih cairnya," jawab Sueb sambil tertawa.
"Sapa nih yang mau cairkan? Kamu, atau aku?"
"Biar aku aja gimana, Bro? Karena tukang tadah langganan ku, biasanya pasang harga paling tinggi."
"Oke deh, Bro. Kalo begitu apa kata kamu aja. Aku terima beres."
__ADS_1
"Jadi, kamu percaya sama aku, Bro?"
"Percayalah, Bro. Kan di antara para pelaku curanmor, kamu terkenal jujur soal pembagian hasil.
" Ya udah kalo begitu, serahkan saja padaku! Kamu tinggal terima beres."
"Istrimu lagi gak ada di rumah kan, Bro?"
"Kok kamu tau?"
"Ya kalo istrimu ada di rumah, gak mungkin kan kamu tadi pengen bersenang-senang sama Mira? Kan istrimu jauh lebih cantik dan bohay dari Mira."
"Pinter juga kamu, Bro. Istriku memang sedang pulang ke rumah bapaknya. Dia ngambek karena aku gak mampu beliin dia tas branded."
Mus tertawa melihat wajah kesal Sueb. Di antara teman-teman curanmor mereka, cerita istri Sueb yang sangat matre, sudah menjadi rahasia umum.
Juga kabar kecantikan dan keseksian istri Sueb, sering kali menjadi bahan ledekan. Kedua pasangan itu sangatlah tidak sepadan, tak heran jika banyak yang menduga, Sueb bisa mendapatkan istrinya dengan memakai ilmu pelet.
Memang, sejak Dika menolak diajak melakukan pekerjaan lama, Sueb berganti teman sekerja. Tak mungkin bagi Sueb meninggalkan pekerjaan itu sekarang, bisa-bisa istri cantiknya minta diceraikan. Karena itu, sekarang Sueb bekerja bersama Mus, teman seprofesi dan seperjuangan.
Di tempat lain, tampak Bu Bakir merasa senang, keinginannya untuk pulang kampung dan bertemu anak gadisnya terwujud.
Setelah berjam-jam duduk di kereta, akhirnya Bu Bakir tiba juga di rumah orang tuanya. Kerinduannya pada Nabila, anaknya semata wayang dia luapkan dengan memeluk erat anaknya itu.
"Apa kabarmu, Sayang? Ibu kangen banget sama Bila," kata Bu Bakir sambil memeluk anaknya.
"Bila juga kangen banget sama Ibu. Padahal baru beberapa bulan kita gak bertemu, tapi bagi Bila sudah seperti bertahun-tahun," kata Bila sambil menghapus air matanya.
"Sama, Sayang. Ibu juga merasakan seperti yang Bila rasakan, Ibu kangen banget sama kamu. Andai Ibu bisa, Ibu akan terbang ke sini menemui kamu."
Bu Bakir berusaha tersenyum, membuat raut wajahnya tampak aneh, menangis dan juga tertawa bersamaan. Setelah dirasa cukup melepas rindu, Bu Bakir mengajak Bila untuk segera pulang. Kali ini mereka akan menggunakan angkot, karena bawaan yang banyak dan agar mereka bisa mengobrol.
__ADS_1
"Ibu sudah tau kan, gimana keadaan Bapak di penjara?"
"Iya, Tante Winda udah cerita banyak pada Ibu, tentang keadaan bapakmu. Bapakmu sedang sekarat sekarang, mungkin umurnya gak bakal panjang lagi," kata Ibu sedih.
"Bila sudah menemui Bapak, Bu. Memang Bapak kelihatan tak sehat dari awal-awal Bapak masuk ke penjara. Ditambah lagi dengan kerinduannya pada kita berdua, membuat keadaan Bapak semakin menurun. Ibu juga akan tega melihatnya."
"Yah, andai saja bapakmu gak pernah terjerumus dalam tindakan melanggar hukum, pasti keadaan kita gak bakal kayak gini. Kita akan terus bersama dan bahagia, meskipun dengan keadaan pas-pasan."
Kembali Ibu menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Untung saja, angkot yang mereka tumpangi, sedang sepi penumpang. Hingga mereka lebih leluasa untuk mengobrol, tanpa malu jika ada yang mendengarnya.
"Semuanya sudah terjadi, Bu. Waktu gak bisa diputar ulang kan? Tak ada gunanya juga disesali. Yang penting, besok kita akan bertemu dengan Bapak. Mari kita saling memaafkan, agar Bapak tak lagi mempunyai beban. Mungkin dengan begitu, Bapak menjadi lebih cepat sembuh."
"Iya, Bil, kamu benar. Selama ini Ibu yang salah, terlalu menuruti keegoisan Ibu. Ibu gak pernah menerima alasan Bapak, di mata Ibu juga, bapakmu selalu salah, tak pernah melakukan hal yang benar."
Nabila hanya mendesah sebentar, berusaha mencerna apa yang barusan Ibu katakan. Bapak selalu salah di mata Ibu? Tak pernah melakukan hal yang benar? Apakah Ibu tak salah bicara?
"Maksud Ibu, yang salah Bapak?"
"Bukan, Bil, Ibu yang salah. Cuma anggapan Ibu saja, kalau bapakmu yang salah. Padahal bisa saja bapakmu yang benar, dan Ibu yang salah. Ibu terlalu berprasangka yang buruk pada bapakmu."
"Syukurlah, Ibu sudah menyadari kesalahan Ibu. Jadi besok kita akan sama-sama ketemu Bapak dan minta maaf, karena Bila juga merasa banyak salah ke Bapak."
Bu Bakir mengelus punggung anaknya lembut. Dalam hati Bu Bakir bersyukur, Nabila anaknya bisa mandiri dan bersikap dewasa dalam menghadapi kehidupan.
Tak lama, angkot berhenti di depan gang sempit yang menuju rumah kakek dan nenek Bila. Segera saja keduanya turun dari angkot, dan berjalan bersisian menuju rumah. Nabila membawakan tas besar yang berisi pakaian Ibu, sedang Ibu menenteng kotak kardus mie instan, yang berisi oleh-oleh.
Kakek dan nenek Nabila yang melihat anak dan cucu mereka berjalan dari kejauhan, merasa sangat gembira, kemudian menyambut Nabila dan ibunya di depan gerbang.
"Ah, nyaman sekali rumah ini, Ibu sudah bertahun-tahun tidak kemari."
Nabila tersenyum manis, mulai malam ini, Nabila mempunyai seorang ibu. Ibu yang sudah lama pergi dan baru kembali.
__ADS_1