
Hari ini Rio menjadi sangat pendiam. Sejak menjemput Nabila di rumah kakeknya sampai tiba di sekolah, hanya beberapa patah kata sapaan saja yang dia ucapkan. Nabila heran dengan sikap pacarnya, namun tak berani bertanya. Nabila tak mau dibilang pacar bawel dan suka kepo.
Setelah memarkirkan motor, Rio tetap tak bicara. Hanya gerakan kepala saja yang mengajak Nabila untuk segera ke kelas.
"Nanti pulang, aku tunggu di parkiran."
"Iya, Kak."
Rio meninggalkan Nabila, untuk pergi ke kelasnya. Hanya perkataan singkat itu saja yang sempat terucap sebelum Nabila masuk ke kelasnya. Sampai duduk di bangkunya, Nabila masih tetap kepikiran akan Rio pacarnya.
"Woy, pagi-pagi kok udah melamun sih, Neng?"
"Duh, bikin kaget aja sih, Des."
"Habis kamu melamun, jadi aku pengen iseng, ngagetin kamu. Kenapa nih, kok murung?"
"Aku cuma heran aja sama Kak Rio. Hari ini dia jadi pendiam banget, ngomong juga seperlunya aja."
"Kok gitu? Emang kalian lagi berantem?"
"Gak kok, Des. Baru hari ini Kak Rio kayak gitu, semalam juga masih becanda kok. Seperti ada yang lagi dipikirin gitu lho."
"Gak kamu tanyain?"
"Emang gapapa ya kalau aku nanya? Aku takut dia tersinggung aja sih."
"Ya gapapa lah, kan kamu pacarnya. Mungkin dia lagi ada masalah, kamu kan bisa kasih solusi."
"Tapi aku gak enak, Des, kalau nanya-nanya.Apa aku tungguin aja, biar dia cerita sendiri?"
"Ya terserah kamu aja sih, Bil. Kalau aku jadi kamu, ya aku tanyain."
Nabila menghela nafas, dia baru pertama kali punya pacar. Masih ragu bagaimana harus bersikap, takut menyinggung perasaan Rio.
*****
Sepanjang hari ini, Rio tampak sering melamun di kelas. Wajahnya yang murung, membuat Yosua, teman sebangkunya menjadi heran. Belum pernah Rio bersikap seperti itu, Yosua tau, karena dia teman sebangku Rio dari kelas 10 sampai kelas 12 saat ini.
"Tumben mendung ya, Yo."
Rio mengalihkan pandangan ke luar kelas, di luar matahari bersinar sangat cerah, kenapa Yosua malah bilang mendung?
"Sehat, Yos?"
__ADS_1
"Sehat kok, gak panas nih," kata Yosua sambil memegang dahinya.
"Mungkin kamu perlu pakai kacamata!"
"Mataku masih normal kok, masih bisa melihat dengan baik."
"Lha, panas gini kok malah kamu bilang mendung?"
"Wajahmu tuh, yang mendung. Dari tadi pagi manyun terus."
Rio menghela nafas. Kegelisahannya ternyata terbaca oleh Yosua.
"Mamaku mau, supaya aku ajak Nabila ke rumah."
"Kan bagus tuh, pasti mamamu pengen kenal sama calon mantunya."
"Tau sendiri kan, mamaku gimana? Pasti nanti diinterogasi, aku jadi kasian sama Nabila. Dia pasti kaget lihat sikap mamaku."
"Iya juga sih. Jadi ingat Si Cindy, pacarmu yang langsung nangis setelah diinterogasi mamamu."
"Gimana gak nangis, mamaku nanya sampai berapa gaji ayah Cindy selama sebulan. Kan tau sendiri, ortunya Cindy kan buka warung, mana bisa diitung penghasilan sebulan."
"Sampai segitunya ya, mamamu. Terus, apa masalahnya dengan Nabila?"
"Jadi itu yang dari tadi kamu pikirin? Sampai gak konsentrasi sama pelajaran?"
Rio mengangguk, Mama selalu mendesaknya agar mengajak Nabila main ke rumah. Sudah banyak alasan yang Rio kemukakan, saat ini sepertinya sudah tak ada lagi alasan yang masuk akal dan bisa diterima Mama.
"Ajak aja deh, tuh Si Nabil ketemu mamamu! Tapi sebelumnya, ajarin buat ngomong."
"Kamu gak tau Nabila sih, dia tuh pantang untuk berbohong. Jadi susah, ngajarin dia ngomong."
"Kok aku jadi ikutan pusing ya, Yo."
"Pusing itu berat, kamu gak akan kuat, biar aku aja," kata Rio berusaha melucu.
Yosua dan Rio tertawa, menertawakan candaan garing Rio. Tak lama kemudian Rio terlihat murung lagi.
*****
Papa Rio yang seorang pengusaha air mineral yang sukses, sedang bersiap hendak ke luar kota. Sebuah koper besar telah disiapkan oleh Mama. Papa tampak sibuk dengan ponselnya, sementara Mama hanya bisa melihatnya dengan muram. Setelah beberapa saat, Papa tampak tersenyum dan meletakkan ponselnya.
"Gimana kabar anakmu, Ma?"
__ADS_1
"Baik kok, Pa. Tumben Papa nanyain Rio?"
"Gak boleh ya?"
"Boleh kok, Pa," Mama tertunduk sedih.
"Udah ketemu, sama pacarnya Rio?"
"Belum, Pa."
"Ingat ya, Ma! Jangan sampai anakmu itu bikin malu keluarga, dengan pacaran sama gadis yang gak sekelas dengan keluarga kita. Ingatkan dia! Dia bukan lagi anak seorang pemilik warung, tapi anak pengusaha."
"Iya, Pa. Mama sudah ingatkan Rio kok."
"Dan satu lagi, suruh tuh anak bawa mobil, jangan motor butut kayak gitu. Papa gak mau ya, nanti ada omongan jelek tentang Papa!"
Mama cuma menunduk, sudah berulang kali Mama menyuruh Rio untuk membawa salah satu mobil mereka ke sekolah, tapi Rio selalu menolak. Dengan alasan ribet kalau jalanan macet, mending bawa motor.
"Kata Rio, lebih enak bawa motor kalau ke sekolah. Bawa mobil, ribet kalau macet."
"Mana ada macet sih disini, ini kan bukan Jakarta atau Surabaya. Alasan aja anakmu itu."
Mama tak membalas omelan Papa. Suaminya itu kalau sudah ngomel, panjang jadinya, mungkin terbiasa mengomeli karyawannya di kantor.
"Papa perginya lama nih, mungkin sampai 2 minggu. Dan Papa mau, sebelum Papa pulang, Mama harus cari tau, gimana tuh pacarnya Rio. Kalau gak sesuai sama kriteria Papa, mending suruh putus aja!"
"Iya, Pa."
"Baiklah, Papa berangkat dulu. Jaga diri baik-baik!"
"Iya, Pa. Hati-hati ya!"
Mama mencium tangan Papa dengan takzim, kemudian mengantarkan Papa sampai ke depan. Sementara Pak Narto, supir mereka, sibuk memasukkan koper Papa ke dalam bagasi mobil.
Setelah kepergian Papa, Mama duduk tercenung seorang diri di teras depan. Diamatinya kumpulan aglonema mahal yang berjajar rapi di rak-rak besi. Mama menghela nafas, ada kesedihan yang dalam yang Mama sembunyikan.
Menjadi istri seorang pengusaha sukses seperti Papa, ternyata tak menjamin hidup menjadi lebih bahagia. Bergelimang harta tak membuat hati menjadi tentram. Deretan pot aglonema di depannya yang berharga puluhan juta, tak membuat hati Mama tentram saat memandangnya.
Kehidupan yang sangat bertolak belakang, dengan saat Mama menjadi istri seorang pemilik warung nasi. Meskipun pagi sebelum subuh, Mama sudah berkutat di dapur, bahkan sambil mengendong Si Kecil Rio, tapi Mama bahagia. Ayah Rio yang penuh perhatian dan kasih sayang pada anak dan istrinya, membuat rumah kecil mereka tak pernah sepi dari canda tawa.
Bahkan kebandelan Rio kecil, tak sekalipun membuat ayahnya marah. Dengan kata-kata lembut, Ayah menegur Rio untuk tidak mengulangi kebandelannya.
Ah, semua itu cuma sebatas kenangan, Mama menyusut air mata yang sempat merebak di sudut matanya.
__ADS_1