
Kekhawatiran Nabila, benar-benar terjadi, hari ini, gadis itu kembali menginjakkan kaki di sekolah. Mulai dari gerbang sekolah, sampai masuk ke dalam kelas, murid-murid lain memandangnya dengan pandangan sinis. Bahkan beberapa siswa, terang-terangan membuang muka.
Nabila pernah mengalami hal semacam ini waktu duduk di bangku SMP, saat-saat awal bapaknya menjadi tersangka pembegalan dan pembunuhan. Namun saat itu, rasa sakit hati yang dirasakan Nabila, tidaklah sesakit saat ini.
Jika masa SMP, Nabila sudah lulus dalam hitungan bulan--jadi bisa melanjutkan sekolah di tempat lain--saat ini, Nabila baru beberapa bulan duduk di bangku SMA. Itu artinya, masih panjang waktu yang akan dilalui gadis itu di sana.
Nabila berjalan sambil menunduk, juga membuat telinganya seolah tuli, agar tak mendengar cemooh yang keluar dari beberapa mulut usil.
Sampai di kelas, Nabila tertegun di depan pintu. Mata Nabila memandang teman-teman sekelasnya yang seolah tak mau lagi, dia masuk ke kelas itu. Hanya satu orang yang masih menyambutnya ramah dan senyum yang merekah, Dessy.
"Hay, Bil. Ngapain kamu bengong di situ? Mau mati kayak ayam tetanggaku, tiba-tiba kejang tuh, karena bengong kayak kamu gitu."
Nabila tersenyum mendengar candaan Dessy. Gadis itu segera masuk ke kelas, dan duduk di bangku yang dia tempati bersama Dessy.
"Gimana, Beb? Aman kan, gak ada yang ganggu kamu?"
Nabila mengangguk, rasa sedih kembali menghinggapi wajah gadis itu. Pandangan sinis yang diterima gadis itu, sejak dari gerbang sampai kelas, sangat membuatnya terluka.
"Kok diam, Bil? Ada yang menyakiti kamu? Ayo jujur aja, nanti aku bantu kamu menghadapi mereka."
"Gak ada kok, Dess, aku sedih karena kangen sama Bapak."
Dessy memeluk Nabila, berharap sahabatnya itu merasa sedikit terhibur. Nabila sangat dekat dan menyayangi bapaknya, kehilangan orang yang disayang, sungguhlah ujian terberat.
"Sabar ya, Beb! Kamu yang iklhas, biar Bapak tak merasa sedih di Sorga sana. Percayalah, saat ini Bapak sudah bahagia, sudah tidak lagi merasakan kesakitan. Kamu harus kuat, kan kamu anak kebanggaan Bapak!"
"Makasih ya, Dess. Saat ini, kamu satu-satunya teman yang kumiliki, tanpa kamu, aku gak akan sekuat ini."
__ADS_1
Nabila menunduk, sebuah isak kecil yang sedari tadi dia tahan, akhirnya keluar juga. Dessy sekali lagi memeluk sahabatnya itu, dan air mata keluar juga tanpa bisa dibendung.
"Yuk kuat yuk! Kita harus bisa tunjukan pada orang-orang, kalau pandangan mereka terhadap Bapak dan keluargamu itu salah. Bapak hanya korban, dan aku yakin, suatu saat kebenaran akan terungkap. Selama menunggu waktu itu, kamu harus kuat, percayalah Tuhan itu tidak tidur!"
Nabila mengusap air matanya dengan kasar, kemudian berusaha tersenyum, meskipun terlihat getir.
"Sekali lagi makasih ya, Dess. Makasih buat dukungan kamu, aku gak akan melupakan itu, seumur hidupku."
"Udah, sekarang kamu sudah mengerjakan PR apa belum? Kalau belum, masih ada waktu buat ngerjain, sebelum bel masuk berbunyi."
Dessy berusaha mengalihkan perhatian, agar sahabatnya itu tak sedih lagi. Nabila mengangguk, dan mengeluarkan buku PR miliknya.
"Udah sih, tapi aku gak yakin semuanya benar. Coba tolong kamu periksa, apa ada yang salah, biar ku perbaiki!"
Dessy mengambil buku PR milik Nabila, dan mendapati beberapa soal kurang tepat pengerjaannya. Mereka segera larut dalam diskusi, hingga Nabila sejenak melupakan kesedihannya.
"Oh, jadi ternyata bapaknya tuh napi yang meninggal di penjara? Kok bisa ya, Rio pacaran sama anak penjahat gitu? Paling-paling dia ditipu tuh," bisik seorang anak perempuan berambut keriting pada temannya.
"Hus, jangan keras-keras ngomongnya, nanti dia dengar! Mau nanti kamu jadi korban dia, secara bapaknya kan gitu, bisa jadi nurun ke anaknya," bisik temannya yang memakai bando merah.
"Kalian berdua ini, kalau bisik-bisik mbok ya jangan keras-keras, nanti kedengaran sama orangnya lho! Mau kalian berdua jadi korban?"
Ketiga orang itu tertawa cekikikan, sambil melirik Dessy dan Nabila yang duduk tak jauh dari sana. Dessy menepuk bahu Nabila pelan, memberi kode untuk tidak mendengarkan obrolan tiga gadis centil yang membuat kuping panas.
Rio juga makan di kantin bersama teman-teman sekelasnya. Ketika lewat di dekat meja Dessy dan Nabila, cowok itu membuang muka. Nabila yang melihatnya, kembali bersedih.
Apalagi, ada seorang cewek centil yang tampaknya sengaja nempel pada Rio, dan cowok itu membiarkannya. Rio dan teman-temannya, seperti sengaja memilih meja dekat Dessy dan Nabila.
__ADS_1
"Rio, kamu mau makan apa, tar ku pesenin, Say?" si Centil bertanya dengan nada sok manja.
"Terserah kamu aja deh, Ra. Yang kamu suka, aku juga suka kok," jawab Rio acuh.
"Kalau gitu, aku mau pesan cireng rujak aja, buat kamu juga ya, Say?" tanya si Centil yang ternyata bernama Rara.
Rio mengangguk, tapi matanya fokus pada ponsel yang dipegangnya. Cowok itu bahkan mengabaikan Rara, namun Rara terlihat girang, Rio mau bicara padanya.
"Padahal, Kak Rio itu gak bisa makan pedas, dia punya sakit lambung yang lumayan parah," gumam Nabila.
"Ngomong apa kamu barusan, Beb? Maaf, aku gak dengar, karena lagi balas chat," kata Dessy merasa tak enak.
"Eh enggak kok, Dess. Aku cuma lagi hafalin yang tadi, pelajaran biologi, bukan ngomong sama kamu kok."
"Oalah, kirain ngomong sama aku. Maaf deh ya, bukan niat buat cuekin kamu lho ya, ini aku lagi balas chat mamaku."
"Iya, Dessy bawel. Siapa sih yang merasa kamu cuekin? Kan kamu teman aku yang paling perhatian."
Meskipun sedang berbicara pada Dessy, tapi mata Nabila tetap memperhatikan Rio. Melihat bagaimana cewek centil bernama Rara itu, bersikap manja pada mantan pacarnya itu. Dessy turut memperhatikan, kemana mata Nabila menatap, dan cewek itu segera tahu, bagaimana perasaan sahabatnya saat ini.
"Ayo Say, dimakan cireng nya, apa mau aku suapin?" kata Rara melihat Rio masih asik memainkan ponselnya.
Rio menatap ke arah Nabila sejenak, begitu tau cewek itu sedang menatapnya, Rio seketika mengiyakan perkataan Rara. Cowok itu membuka mulutnya lebar, dan dengan senang hati, Rara menyuapinya.
Rio yang tak pernah makan pedas, menjadi gelagapan, saat makanan itu menyentuh lidahnya. Rara yang tau Rio kepedasan, segera mengulurkan gelas berisi minuman, es jeruk, yang segera diminum Rio dengan rakus.
Nabila dan Dessy melihat pemandangan itu dengan ngeri, keduanya kemudian saling tatap dan menautkan alis.
__ADS_1
Tak lama, Rio tampak memegangi perutnya, sambil meringis kesakitan. Tapi Rara yang tak peka, malah menyuapkan kembali sesendok cireng rujak ke mulut Rio.