
Rasa geram Rio pada mamanya, terbawa sampai cowok itu tiba di rumahnya. Sang Mama yang bertanya kenapa dia pulang terlambat, diacuhkan oleh Rio, malah cowok itu masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu.
Tante Hesti yang ikut terbawa emosi, menelepon Tante Anna dengan maksud curhat atas kelakuan anak bujangnya.
"Halo, Jeng Anna masih di kantor," sapa Tante Hesti begitu panggilan tersambung.
"Udah pulang, Jeng. Hari ini saya sengaja pulang lebih awal, ada acara nanti habis magrib. Ada apa, Jeng?"
"Enggak kok, Jeng, cuma lagi kesal aja sama si Rio. Kan jam segini kok baru pulang, giliran ditanya eh gak jawab, malah masuk kamar sambil banting pintu."
"Oh, mungkin dia ada masalah di sekolah, Jeng, terus emosinya terbawa ke rumah. Maklum, kan anaknya Jeng Hesti itu ketua OSIS, jadi pasti banyak yang dipikirkan."
"Ya mungkin juga sih, Jeng. Tapi saya tuh khawatir aja, kalau si Rio itu masih menjalin hubungan dengan mantan pacarnya yang anak napi itu lho, Jeng. Kan bikin malu keluarga saja, masa sama anak napi, kayak udah gak ada cewek lain saja," gerutu Tante Hesti.
"Anu...apa Jeng Hesti pernah ketemu sama gadis itu?"
"Ogah banget, Jeng. Dia itu kan selain anak napi, juga miskin, Jeng. Tinggalnya saja di tempat kumuh, mungkin kayak pemukiman pemulung gitu deh. Bisa gatal-gatal kalau saya ketemu dia, atau mungkin muntah karena bau badannya."
Tante Hesti mengeluarkan suara seperti orang yang mau muntah, membuat Tante Anna merasa geram, namun ditahannya. Bagaimanapun, Nabila sudah dianggap anak oleh keluarga Dessy, tak rela rasanya mendengar orang menghina Nabila, meskipun itu teman akrab sekalipun. Tante Anna menyayangi Nabila hampir sama seperti dia menyayangi Dessy.
"Jeng Hesti jangan seperti itu! Derajat manusia di mata Tuhan itu sama saja, miskin dan kaya itu cuma ukuran dari manusia. Lagi pula, yang napi itu kan bapaknya, itu juga belum tentu karena bersalah juga. Bisa aja karena salah tangkap atau gimana gitu."
"Haduh, Jeng Anna ini bagaimana, sih? Tau kan bibit bebet bobot? Semua itu diturunkan, Jeng, kalau bapaknya penj*hat, ya darah penj*hat itu akan menurun pada anaknya. Nah, bapaknya si Nabila ini kan pemb*nuh, Jeng, ngeri lah kalau anak kita punya hubungan dengan cewek kayak gitu."
Tante Anna semakin pusing mendengar ocehan Tante Hesti yang selalu menjelek-jelekkan Nabila, ingin rasanya menutup telepon, tapi masih ada sesuatu yang membuat Tante Anna penasaran.
"Kalau bahas Nabila yang mantannya Rio, membuat Jeng Hesti kesal, gimana kalau kita bahas Nabila keponakan saya aja?"
"Kalau Nabila yang itu, jadi pacar Rio, saya sih setuju banget, Jeng. Mana anaknya cantik, sopan, pinter lagi. Dan yang penting, dia dari keluarga seperti kita kan."
"Seperti kita? Gimana maksudnya, Jeng?" tanya Tante Anna sambil nyengir.
"Ya selevel sama kita gini lho, Jeng. Dari keluarga menengah ke atas, maksudnya."
__ADS_1
"Oh, kalau itu, Jeng Hesti salah besar. Nabila itu sudah menjadi yatim, Jeng. Sekarang tinggal sama ibunya yang cuma membuka warung makan. Juga sama kakek neneknya yang cuma punya sepetak sawah."
Tante Hesti terkejut mendengar penuturan rekan sosialitanya itu, namun berusaha menutupi dengan tawa yang sumbang.
"Ya gapapa lah, Jeng. Awalnya kan warung makan, lama-lama kan bisa berubah jadi restoran. Sawah yang sepetak, bisa berkembang jadi berpetak-petak, begitu kan, Jeng?"
"Amin. Kita doakan yang terbaik aja ya, Jeng?"
"Tentu Jeng Anna, tentu. Saya setuju sekali kalau Rio sama Nabila keponakannya Jeng Anna, bukan Nabila si anak napi."
Tante Anna menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, agar tak terdengar lawan bicaranya di telepon. Memang mama Rio wanita yang sangat konyol, tidak sadar bahwa yang sedang mereka bahas adalah Nabila yang sama.
"Kalau Jeng Hesti sudah setuju, berarti gapapa kan, kalau Rio mau ngajak Nabila jalan-jalan?"
"Setuju banget, Jeng Anna. Nanti saya juga akan suruh Rio, membawa Nabila ke sini, sekalian kenalan sama calon mertua," kata Jeng Hesti semangat.
Tante Anna tak dapat lagi menahan tawanya, membuat lawan bicaranya di telepon mengerutkan dahi, mendengar suara yang aneh.
"Oh, enggak kok, Jeng. Ini kan saya lagi nonton teve, ada yang lucu. Maaf kalau Jeng Hesti jadi gak nyaman!"
"Oh, kirain ada apaan. Gapapa kok, Jeng, cuma tadi saya heran saja. Oh iya, kalau boleh tau, kenapa Jeng Anna tadi pulang lebih awal?"
"Anu, Jeng. Nanti malam kan ada acara gitu lho, di rumahnya Nabila ponakan saya itu, peringatan meninggalnya bapaknya."
"Oh, begitu ya, Jeng. Kalau begitu, silakan Jeng Anna lanjut istirahat, supaya nanti malam pas acara udah fress lagi!"
"Iya, Jeng."
"Maaf lho ya, kalau saya menganggu!"
"Enggak kok, Jeng Hesti. Santai saja! Selamat sore, Jeng."
"Selamat sore, selamat beristirahat, Jeng!"
__ADS_1
Setelah menutup obrolan, Tante Anna tak dapat lagi menahan tawanya, wanita itu tertawa sampai mengeluarkan air mata. Dessy yang kebetulan lewat, menjadi heran dan bertanya.
"Kenapa sih, Ma?"
"Ini lho, Sayang, mamanya Rio, lucu sekali."
Tante Anna menceritakan semua obrolannya pada anak gadisnya, dan membuat gadis itu turut tertawa.
"Haduh, dasar emak-emak matre. Bisa-bisanya Kak Rio punya emak kayak gitu. Harus dikasih pelajaran nih, Ma!"
"Emang, Mama sih udah ada rencana untuk ngerjain si Hesti itu, biar kapok."
"Apa rencananya, Ma?"
"Akan Mama buat dia merestui hubungan anaknya sama Nabila. Pasti berhasil, selama Nabila kita akui sebagai saudara."
"Apa gak kasihan Nabila nya? Kalau nanti si Tante itu tau, pasti dia akan menghina-hina Nabila lagi. Mending jangan deh, Ma! Dessy aja udah susah payah buat Nabila biar move on, jangan lagi kita buat dia jatuh di lubang yang sama."
"Iya juga, benar katamu, Dess. Maaf, Mama gak kepikiran sampai kesana. Tapi Mama pengen banget tuh, ngasih pelajaran ke Tante Hesti."
"Dessy sih sebenarnya ada rencana sih, Ma. Di sekolah, ada cewek yang ngejar-ngejar Kak Rio. Rencana Dessy sih, mau bantuin biar mereka jadian."
"Terus?"
"Terus Tante Hesti pasti ngenes, kalau anaknya pacaran sama cewek ini. Anaknya kan rada-rada gak waras gitu lho, Ma. Kemarin aja ya, dia tuh ngikutin kemanapun Kak Rio pergi, sampai ke toilet aja diikuti tuh."
"Hah? Sampai segitunya?"
"Iya, Ma. Seru kan, kalau Tante Hesti nanti punya mantu kayak gitu? Pasti dia bakal nyesel, udah menolak Nabila."
"Bener-bener, bagus juga ide kamu itu, Sayang. Mama dukung!"
Dessy dan mamanya melakukan tos, sambil nyengir lebar.
__ADS_1