
Hari Minggu, seharian Nabila membantu ibunya di warung. Dessy yang mengajaknya jalan-jalan ke mall, terpaksa ditolaknya kali ini, Nabila merasa kasihan pada ibunya andai jaga warung sendiri. Dan jadilah Dessy ikut sibuk membantu di warung, alih-alih pergi ke mall sendiri.
"Maaf ya, Dess! Kamu jadi sibuk bantuin di sini, harusnya kan kamu senang-senang gitu, mengisi liburan."
"Ini juga bikin aku senang kok, Bil. Dan bagiku kerja di warung, sama aja mengisi liburan."
"Mengisi liburan kok malah kerja?"
"Lha kenapa enggak? Yang penting kan bikin hati senang. Lagian aku juga sambil belajar, gimana menghadapi para pelanggan kuliner, siapa tau suatu saat nanti aku jadi pengusaha restoran."
"Amin, semoga cita-cita kamu terkabul, Dess. Jadi pengusaha restoran terkenal, terus cabangnya dimana-mana."
"Kamu kira aku pohon, kok bercabang?"
Dessy dan Nabila tertawa, suasana memang selalu menyenangkan jika ada Dessy. Humor receh yang dilontarkan gadis itu selalu berhasil mengocok perut yang mendengarnya. Tapi entah kenapa, bila di sekolah, Dessy berubah menjadi pribadi yang berbeda, begitu dingin dan angkuh. Gadis itu seperti membangun tembok di sekelilingnya, agar tak ada orang yang mendekat, kecuali Nabila.
"Kamu bukan pohon kok, Dess, tapi kamu itu rambut, makanya bercabang."
Kembali keduanya tertawa, sampai ada yang datang dan membuat keduanya terdiam.
"Beli nasi rawonnya satu porsi ya, Mbak. Jangan lupa sambalnya agak banyak."
"Modus ya, biar ditengok sama bidadari kalau sakit lagi?" tanya Dessy ketus.
"Ya gapapa dong, Dess, yang penting kan ketemu bidadari. Dan Mama sangat ingin banget mengambil bidadari itu jadi menantu."
"Yakin bidadarinya mau?"
"Yakin dong. Karena sekarang ini aku melihat binar-binar cinta di mata bidadari itu buat aku," jawab Rio sambil melirik Nabila.
"Ini, Kak. Minumnya apa?" tanya Nabila sambil meletakkan sepiring nasi rawon di depan Rio, tanpa sambal tentu saja.
"Teh tawar hangat, gak usah manis, karena yang jualan udah manis."
Nabila tak menangapi gombalan Rio. Setelah membuatkan Rio minum, Nabila berlalu, untuk melayani pembeli yang lain.
"Cuek banget teman kamu sama Kakak, Dess?"
"Kak Rio udah bikin dia ilfil kali?"
"Entahlah. Tapi aku berusaha lho, untuk memperbaiki hubungan sama Nabila. Kalau bisa, aku mau mengajaknya balikan, karena sekarang Mama sudah setuju."
Dessy pura-pura terkejut mendengar mama Rio sudah menyetujui hubungan anaknya dengan Nabila.
__ADS_1
"Masa sih, Kak? Kan dulu mamanya Kakak tuh yang paling menentang hubungan kalian?"
"Sekarang Mama tiba-tiba setuju tuh, mungkin udah dapat hidayah."
Dessy menyembunyikan senyum, berarti tujuan mamanya untuk membuat Tante Hesti jera, akan segera terlaksana. Pasti sudah terjadi kesalahpahaman pada wanita itu, mengira mantan Rio dan keponakan Tante Anna adalah orang yang berbeda.
"Ya bagus kalau begitu, berarti udah gak ada halangan lagi buat kalian melanjutkan hubungan."
"Tapi, Dess, .... "
"Tapi apa, Kak?"
"Nabila yang sekarang dingin banget ke Kakak, udah kayak lemari es dua pintu aja dinginnya. Kakak sampai ngeri kalau berada di dekatnya. Apa artinya dia udah benci banget sama Kakak ya, Des?"
"Dessy juga gak tau sih, Kak. Nabila gak pernah lagi bahas-bahas Kakak sekarang ini. Mungkin masih sakit hati sama perlakuan Tante Hesti ke dia."
Rio menghela napas, nasi rawon di piring cowok itu cuma diaduknya, tidak dimakan.
"Wajar saja sih, karena Mama dulu memang jahat banget sama Nabila, padahal belum pernah bertemu, tapi sudah mengata-ngatai dia."
"Nah, berarti Kak Rio harus maklum. Jangan memaksa Nabila untuk balikan, karena bisa saja dia akan semakin menjauh."
"Iya, aku paham kok, Dess."
"Kakak masih ada rasa sama Nabila?"
"Terus, Rara?"
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, cuma sekedar teman saja."
"Tapi yang di kantin itu?"
"Itu ku lakukan supaya Nabila cemburu, tapi dia malah lempeng aja, gak menanggapi. Jadi kesel ke diri sendiri kalau ingat hal itu. Dan sekarang aku kena karma, Rara nempel mulu sama aku, bahkan ke toilet juga ditungguin, kan suek."
Dessy terpingkal mendengar cerita Rio, meski sudah pernah mendengar sebelumnya, tetap saja menarik mendengar dari sumbernya langsung.
"Sepertinya, Rara itu naksir berat sama Kakak, udah bisa dibilang terobsesi gitu. Kenapa Kakak gak jadian saja sama dia? Bukankah dicintai itu lebih baik dari mencintai?"
"Yang namanya cinta itu gak bisa dipaksa, Dess. Seburuk apapun seseorang, kalau memang cinta ya akan terlihat baik. Meski banyak yang bilang, Rara lebih baik dari Nabila, tapi tetap saja cintanya Kakak cuma buat Nabila."
"Berarti Kakak harus berusaha lagi, untuk kembali mendapat cintanya Nabila, karena sepertinya dia sudah menutup hati buat Kakak."
"Aku takut aja, sih. Giliran aku berhasil balikan sama Nabila, Mama malah menolak lagi. Kasihan Nabila kalau kayak gitu, pasti dia akan lebih terluka dari sebelumnya."
__ADS_1
"Berarti, Kakak sama Rara aja!"
"Gimana kalau sama kamu aja?"
"Ogah banget jadi menantu Tante Hesti yang bawel dan suka pilih-pilih kayak gitu. Tar bisa aja lho dia kena karma, dapat menantu yang jauh lebih buruk dari Nabila."
"Semoga Mama dapat menantu Rara."
"Tapi kayak e sih, emang lebih cocok si Rara yang jadi menantu Tante Hesti daripada Nabila."
"Sama-sama aneh sih mereka, pasti cocok. Yang satu gak ada otak, yang satunya lagi gak pakai otak."
"Kualat lho, Kak, ngatain mama sendiri."
"Abis aku sebel banget sama mereka berdua, sama-sama ngeselin."
"Jangan kesel-kesel, takutnya malah jatuh cinta lho."
"Dess, kamu dipanggil Ibu, disuruh ke belakang," kata Nabila yang sedari tadi menghilang.
"Emang ngapain?"
"Mama kamu telepon ke ponsel Ibu, karena nelpon kamu dari tadi gak diangkat."
Dessy mengambil ponsel dari dalam sling bag, benar saja, ada 20 panggilan tak terjawab dari mamanya. Ponsel Dessy ternyata dalam mode senyap, makanya cewek itu tak tau mamanya menelepon.
Segera Dessy menelepon mamanya balik, agar tak khawatir karena panggilannya tak terjawab.
"Mama dalam panggilan lain, Bil."
"Tentu saja, kan lagi ngobrol sama Ibu. Makanya kamu disuruh nemuin Ibu di belakang."
"Oalah, baru paham aku, Bil. Aku ke belakang sebentar kalau begitu, kalian berdua yang akur ya, jangan berantem!"
"Yang lama juga gapapa kok, Dess," kata Rio.
"Kalau bisa, gak usah balik kan, Kak?"
"Itu tau, hahaha."
Setelah Dessy berlalu, Rio dan Nabila merasa canggung untuk mengobrol. Sekian lama mereka hanya diam, sampai Rio merasa tak betah dan memulai obrolan.
"Bil, Kakak mau ngomong sama kamu!"
__ADS_1
"Maaf, Kak! Itu ada pembeli."
Nabila juga berlalu, tanpa bisa dicegah oleh Rio.