Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 18


__ADS_3

Akhirnya, saat yang ditunggu tiba, Bu Bakir dan Nabila akan berkunjung ke penjara tempat Pak Bakir ditahan dan dikabarkan sakit.


Rio, pacar Nabila, bersedia mengantarkan ibu dan anak itu menggunakan mobilnya.


"Beneran nih, pacar kamu mau ngantar kita ke penjara?" tanya Bu Bakir.


"Iya, Bu. Sekarang Kak Rio sedang jalan kemari. Barusan dia chat, ini lho chat nya," kata Nabila sambil menunjukkan layar ponselnya.


Bu Bakir menarik napas berat. Bukannya tak setuju Nabila punya pacar, tapi Bu Bakir tak ingin anaknya kecewa. Setelah pacarnya tau keadaan keluarga mereka dan memutuskan meninggalkan Nabila.


"Kenapa, Bu? Ibu gak suka Bila punya pacar?" tanya Nabila setelah melihat ibunya terdiam cukup lama.


"Bukan begitu, Ndhuk. Ibu hanya takut kamu kecewa saja. Sapa tau, pacarmu tak dapat menerima keadaan keluarga kita. Kan bapakmu itu seorang narapidana, sering disebut sampah oleh masyarakat."


"Bila sudah menceritakan semuanya kok, Bu. Kak Rio sudah tau, kalau Bila anak seorang napi, dan dia bisa menerimanya."


"Benar begitu, kamu yakin dia bisa terima?"


"Yakin, Bu. Kak Rio juga yang nawarin buat antar kita ke tempat Bapak. Masa kalau dia belum tau, nawarin buat antar ke penjara, sih? Kan gak mungkin, Bu."


"Baguslah kalau begitu. Ibu kira dia belum tau. Makanya Ibu kuatir, orang seperti kita ini, kadang membuat orang lain salah paham. Banyak yang menilai buruk, padahal gak tau apa-apa."


"Ibu tenang aja, Kak Rio sudah tau, dan dia tidak menilai kita buruk juga."


Sebuah mobil berhenti di depan gang sempit yang menuju rumah kakek Nabila. Seorang pemuda turun dari mobil dan segera berjalan ke dalam gang. Saat tiba di depan sebuah rumah, pemuda itu melihat dua orang wanita sedang duduk di teras.


"Nah, itu Kak Rio," kata Bila sambil menunjuk si Pemuda dengan dagunya.


"Pagi, Bu. Pagi Bila," sapa Rio sambil mencium tangan Bu Bakir.


"Pagi juga, Nak."


"Pagi, Kak. Ini ibuku. Ibu, ini Kak Rio," Nabila memperkenalkan Rio pada ibunya.


"Makasih ya, Nak. Udah mau dibuat repot Ibu dan Bila, buat ngantar ke tempat Bapak."

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa kok, Bu. Saya tidak repot, jadi Ibu dan Nabila jangan merasa sungkan. Ini saya sendiri kok yang menawarkan, bukan Nabila yang meminta."


"Iya, Ibu sangat berterima kasih padamu, Nak Rio."


"Jangan merasa sungkan, Bu. Mari kita berangkat saja, daripada nanti keburu siang! Mobil saya, saya parkir di depan gang, karena gak mungkin bisa masuk kemari."


"Iya lah, jelas. Kan gang nya emang sempit kayak gini. Paling cuma motor yang bisa masuk kemari," kata Nabila.


Setelah berpamitan pada kakek dan nenek Nabila, ketiganya segera berangkat menuju penjara. Kakek dan Nenek mengantar mereka sampai depan pagar.


Sementara itu rumah Dika, tampak keluarga kecil itu sedang menikmati sarapan mereka. Si Kecil Tasya, tampak makan dengan lahap. Pipinya yang gembil, bergerak naik-turun ketika dia mengunyah.


"Gimana, Tasya? Enak gak masakan Papa?"


"Enak banget, Pa. Nasi goreng bikinan Papa emang yahud. Ini aja Tasya udah nambah dua kali, " jawab Tasya sambil mengacungkan jempolnya.


"Pinter anak papa, makan yang banyak ya, Sayang! Biar Tasya cepat gede," kata Dika sambil tersenyum.


"Hari ini, Mbak Yu dan Bila akan mengunjungi Pak Bakir di penjara lho, Mas," kata Winda sambil mengunyah nasi goreng.


"Tadi pagi Mbak Yu nelepon Mama. Gimana kalo kita ketemu juga sama mereka, Pa?"


"Maksud, Mama? Kita juga pergi ke penjara gitu?"


"Iya, mumpung Mama lagi free nih. Lagi pula, sejak Pak Bakir masuk penjara, Mama belum pernah sekalipun menjenguknya. Biasanya cuma Papa aja kan, yang pergi ke sana?"


"Iya juga sih. Tapi hari ini Papa sibuk, Ma. Ada beberapa laptop yang akan diambil siang ini. Sueb juga beberapa hari ini gak nongol di bengkel. Coba ada dia, kan Papa bisa nitip bengkel dan antar Mama ke penjara."


"Emang Bang Sueb kemana, Pa?"


"Gak tau, Ma. Sejak dia nemu dompet kapan hari itu, dia gak pernah nongol lagi di bengkel. Ngabisin duitnya kali."


"Emang banyak ya, isinya?"


"Isi apa?"

__ADS_1


"Dompet yang nemu itu."


"Banyak. Ada kali lima juta, waktu itu sempat dihitung depan Papa sih, sama si Sueb."


"Kok gak dikembalikan aja? Kan kasian yang kehilangan tuh dompet."


"Udah Papa saranin, tapi Sueb gak mau dengar. Dia juga butuh duit buat nyenengin bininya, mungkin karena itu, dia gak muncul lagi di bengkel."


"Bisa jadi sih. Emang Papa gak minat lagi kerja sama dagang sama dia lagi? Kan hasil dagang motor lebih gede dari buka bengkel servis laptop."


Dika terdiam mendengar pertanyaan istrinya. Selama ini yang Winda tau, Dika dan Sueb berkerja sama dalam bidang perdagangan motor. Sering kali Dika pergi berhari-hari ke luar kota untuk dagang. Mungkin karena tak mau lagi terlalu sering meninggalkan anak dan istrinya, Dika kemudian membuka bengkel komputer.


"Pa, kok diam sih?"


"Enggak kok, Ma. Papa gak mau aja sering-sering ninggalin kalian. Papa pengennya tiap hari ketemu, jadi Papa buka bengkel," dusta Dika.


"Papa jangan kerja sama Om Sueb lagi ya, Pa! Tasya gak mau ditinggal-tinggal lagi sama Papa, nanti Tasya kangen," mohon Tasya yang ternyata dari tadi menyimak obrolan orang tuanya.


"Enggak kok, Sayang. Kan sekarang Papa udah punya bengkel, jadi Papa gak bakal pergi-pergi ke luar kota lagi," janji Dika pada anaknya.


Tasya berlari memeluk dan mencium pipi papanya. Dika balik mendudukkan Tasya di pangkuannya. Dicubitnya pipi gembil Tasya karena gemas.


"Kalau gitu, aku pergi sendiri ya, Pa. Tar Papa abis jemput Tasya, bawa dia ke bengkel, nanti setelah Mama pulang, Mama jemput ke bengkel!"


"Emang Mama mau naik apa ke sana? Bawa mobil atau naik motor?"


"Bawa motor aja biar cepat, kalo bawa mobil kan takutnya macet."


"Ya udah, kalo gitu Papa yang bawa mobil. Nanti Mama bawa pulang mobilnya dari bengkel."


Winda mengangguk mendengar pesan suaminya. Kemudian Winda mengantar Dika dan putrinya sampai depan pintu. Dika akan pergi ke bengkel, sekalian mengantarkan Tasya ke sekolahnya.


Winda belum juga beranjak, meskipun mobil yang dikendarai Dika dan putrinya sudah menghilang di balik tikungan. Wanita itu menghela napas, untuk sekedar melapangkan dadanya yang terasa sesak. Entah kenapa, Winda merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.


Setelah beberapa lama, Winda baru beranjak masuk, bersiap pergi ke penjara, menjenguk Pak Bakir serta bertemu Nabila dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2