
Winda kembali menggedor pintu kamar yang ditempati Rika, tapi pintu itu sudah terbuka. Tampak penghuninya sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam sebuah tas besar.
"BAGUS! TAU DIRI JUGA TERNYATA JADI ******! GAK PERLU DIUSIR SUDAH BERKEMAS."
Winda berkacak pinggang dengan tampang seram. Di belakangnya, Bik Sari berdiri sambil memegang sapu. Rika tak menghiraukan keduanya, tangannya masih sibuk berkemas.
"Heran ya, Nya! Ada manusia kok kelakuannya lebih buruk dari binatang. Udah ditolong tapi gak tau terima kasih. Anjing aja, gak pernah mengigit tangan orang yang memberinya makan loh."
Bik Sari berkata dengan menahan geram. Wanita tua itu memang dari awal tak menyukai Rikka, karena sudah dapat mengendus niat busuknya.
"Entahlah, Bik. Mungkin kita juga yang salah. Menganggap semua orang itu baik. Tapi nyatanya, banyak manusia yang jahatnya ngalahin iblis. Mungkin ke depannya, iblis akan tergusur oleh manusia, di neraka nanti."
Winda tak dapat lagi menahan amarahnya. Ingin rasanya mencabik-cabik tubuh pengasuh anaknya itu. Tapi Winda masih punya harga diri. Tak mau disamakan dengan wanita hina di depannya itu.
Rika tak menjawab omelan dua wanita beda generasi yang sedang mengumpat padanya. Percuma. Toh mereka berdua berkata benar. Selama ini dia memang tak tau balas budi. Sudah ditolong tapi malah nikung.
Dengan cepat Rika mengemasi barang-barangnya. Dika sudah menunggunya di luar.
Tanpa pamit, Rika keluar dari dalam rumah Winda membawa sebuah tas besar. Winda mengikutinya sambil menyalakan kamera. Live streaming.
"Nah, Gaes! Kita saksikan ya! Perempuan j*l*ng ini meninggalkan rumahku. Sungguh! Udah kayak binatang! Pergi tanpa pamit dan basa-basi. Oh, lihat itu, Gaes! Kekasih gelapnya menunggu! Laki-laki sampah yang hanya modal batang masuk ke rumahku. Derajatnya udah ku angkat. Udah gak jadi orang melarat! Tapi malah berkhianat dengan perempuan j*l*ng ini! Memalukan."
Dika dan Rika meninggalkan rumah Winda dengan menunduk. Berjalan kaki. Karena semua harta sejatinya milik Winda. Peninggalan orang tuanya. Dika dulunya hanya seorang pengangguran. Yang dipekerjakan oleh ayah Winda. Kemudian Winda jatuh cinta pada pemuda itu. Mereka akhirnya menikah.
Saat ini, tak salah jika Winda mengusir Dika dari rumahnya. Tanpa membawa secuil harta. Kembali lagi menjadi melarat. Ah, Rika telah salah memilih.
Winda menutup pintu gerbang dengan kasar. Setelah kedua pasangan m*sum itu keluar. Hatinya sangat sakit. Sangat-sangat sakit. Dikhianati oleh orang yang sangat dicintai. Wanita itu kemudian berlari ke dalam kamar. Menangis di sana.
__ADS_1
Setelah keluar dari rumah Winda, Dika tak tau harus pergi kemana. Semua ATM dan kartu kredit miliknya, sudah disita oleh sang Istri. Juga ponsel mahal yang memang dibeli oleh istrinya. Yang ada pada Dika saat ini, hanya pakaian yang melekat di badan, dan beberapa lembaran merah di dompetnya.
"Kita mau kemana nih, Mas?"
"Entahlah. Aku juga gak tau."
"Kok gak tau sih, Mas? Gimana sih kamu ini?"
"BISA DIAM GAK? GARA-GARA KAMU NIH, NASIBKU SIAL BEGINI!!"
Rika sangat terkejut, Dika membentaknya dengan suara keras dan terdengar kejam. Biasanya pria itu selalu bersikap lembut dan sopan. Berbeda dengan Sueb yang memang arogan.
"Tapi ... kamu harus tanggung jawab sama aku, Mas! Apalagi di dalam perutku, kini ada calon anakmu."
Rika berkata dengan suara lirih. Namun terdengar bagai petir di siang bolong bagi Dika. Tak mungkin Rika mengandung calon anaknya.
"Aku gak menipumu, Mas. Memang sekarang aku sedang mengandung. Udah ku test. Positif. Dan ini jelas-jelas anakmu! Aku gak pernah melakukannya dengan pria lain."
"Jangan bohong! Kamu pikir aku gak tau? Kamu tidur dengan pria mana aja, asal bisa kasih kamu uang!" kata Dika seraya berbisik.
"Aku berani sumpah. Demi, Tuhan, ini anakmu!"
"Gak usah bawa-bawa nama Tuhan, Wanita j*l*ng! Kamu pikir aku bakal percaya, kalau kamu bawa-bawa nama Tuhan? Tidak sama sekali. Bagiku, kamu tetap seorang penipu."
"DASAR PRIA BR*NGS*K!! MAUNYA CUMA ENAK-ENAK TAPI GAK MAU TANGGUNG JAWAB!! B*NCI!!!"
"Kalau iya, kamu mau apa? Nuntut? Kita gak ada ikatan. Sama-sama sudah dewasa juga. Kamu yang menyodorkan diri. Aku bisa berdalih kalau membeli."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Kamu gak paham? Atau cuma pura-pura beg*?? Anggap aja, kamu itu p*lac*r, dan aku pelanggan. Kamu gak bisa menuntut. Resiko pekerjaan."
Dika tertawa sinis. Sedang Rika merasa miris. Bagaimanapun, wanita itu merasa sakit hati dan tersinggung karena perkataan Dika. Dia masih punya sedikit harga diri.
"L*KN*T!!" desis Rika.
"Sekarang, mending kamu pergi! Aku sudah muak melihat mukamu yang sok cantik itu. Pergi! Pergiii!!!"
Dika mengusir Rika dengan mengibaskan tangan. Rika memandangnya dengan murka. Tak pernah disangka. Beberapa jam yang lalu mereka berdua masih bergulat dengan bahagia. Tapi kini kebencian ada di antara keduanya. Miris.
"PERGI WANITA J*L*NG!!!"
Teriakan Dika menarik beberapa orang yang kebetulan melintas untuk menoleh. Penasaran, tentu saja. Sepasang insan yang terlihat sebagai pasangan suami-istri, bertengkar di tempat umum.
"Awas aja kamu, pria pengecut. Tunggu pembalasan dariku!!"
Rika pergi meninggalkan Dika, sambil menenteng tas besarnya. Sementara Dika menghempaskan diri di trotoar. Meremas rambutnya kasar. Ingin berteriak. Tapi takut disangka orang gila.
Cukup lama Dika duduk di tempat itu. Sampai kepalanya terasa panas oleh sinar matahari yang mulai meninggi. Perut Dika juga mulai berteriak minta diisi.
"SIAAALLLLL!!"
Teriakkan Dika yang frustasi, membuat orang-orang kembali menoleh. Kemudian mereka memilih untuk menghindar. Pria itu merasakan dirinya seperti seonggok sampah bau yang harus dihindari. Sungguh sial.
Dika melangkah gontai. Kali ini tujuannya sudah pasti. Warung makan Bu Bakir. Mengisi perut dan juga meminta maaf dari wanita itu. Hanya itu yang terlintas dalam pikiran Dika saat ini.
__ADS_1