Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 37


__ADS_3

Rio sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kesehatan pemuda itu sudah pulih seperti sedia kala, bahkan Rio sudah siap kembali pada kesibukannya, sekolah.


Mama Rio menjemputnya dari rumah sakit, sedang papa Rio tak pernah menampakkan wajahnya, dari hari anaknya mulai dirawat. Mama mengatakan, kalau papa Rio sedang ada tugas ke luar kota, hingga tak dapat menjenguk anaknya, tapi Rio tau, ada kebohongan di sana. Pastilah papa Rio sedang di rumah istri mudanya, wanita yang dinikahi di bawah tangan oleh sang Papa.


"Sebenarnya, Rio ini anak papa apa bukan sih, Ma?" tanya Rio dalam perjalanan pulang.


"Kalau bukan anak papamu, kamu kira Mama bisa hamil sendiri? Kamu kira Mama cacing, hermaprodit?"


Mama Rio tampak geram mendengar pertanyaan anaknya, tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat, pertanda sangat kesal.


"Ya kali aja nemu di depan pintu atau dibawa burung bangau kayak di dongeng-dongeng gitu. Buktinya, Rio empat hari dirawat di rumah sakit, Papa tak tampak batang hidungnya."


"Kan udah Mama bilang, papamu lagi tugas ke luar kota, apa kamu sudah pikun?"


"Tugas ke luar kota, atau di rumah istri mudanya, kita kan gak tau juga, Ma."


"RIO! JAGA MULUT KAMU! Meskipun begitu, dia itu papamu, tanpa dia kamu gak bakal lahir di dunia."


Mama sangat marah mendengar perkataan Rio yang kurang ajar. Meskipun pada kenyataannya, sang Papa memang berkhianat, Mama tak suka dengan sikap Rio yang tak menghormati papanya.


"Rio tetap mengakui dia sebagai papa Rio kok, Ma, tenang saja! Tapi Rio gak tau, Papa masih mengakui Rio sebagai anak apa enggak."


"BENER-BENER KAMU ,YA. SEJAK BERPACARAN DENGAN ANAK NAPI ITU, KAMU JADI KURANG AJAR!"


"Jangan bawa-bawa Nabila, Ma! Di tak ada sangkut-pautnya lagi dengan Rio, kami sudah putus. Dan Rio juga sudah gak pernah kontak dengan Nabila lagi."


"KAMU PASTI BOHONG! BERTEMAN DENGAN SI ANAK NAPI, MEMBUAT KAMU BERUBAH, DULU KAMU TAK PERNAH BEGINI."


"Sudah, Ma, tak perlu teriak-teriak kayak gitu! Nanti tensi Mama bisa naik lho, nanti Mama juga yang bakal repot."


Mama Rio mendengkus kesal, menurutnya Rio menjadi berubah menjadi sangat kurang ajar, sejak mengenal Nabila, anak napi yang bapaknya mati karena membusuk di penjara. Rio memejamkan mata, berpura-pura terlelap, agar mamanya tak lagi memancing keributan.


Hesti, mama Rio, melihat anaknya yang tertidur, menarik napas dan menghembuskan dengan keras. Hatinya saat ini benar-benar hancur, suaminya tak lagi peduli pada anak semata wayang mereka. Rio tergeletak tak berdaya di rumah sakit, suaminya malah enak-enak di rumah istri mudanya.


Tak terasa, air mata mulai membasahi pipi Hesti yang saat ini lebih tirus dari sebelumnya. Beban pikiran yang menggunung, ditambah tak ada lagi tempat bercerita, membuat wanita itu sedikit depresi. Tak ayal lagi, Rio menjadi tempatnya untuk melampiaskan semua kekesalan, termasuk kekesalan terhadap suaminya.

__ADS_1


Rio membuka matanya sedikit, dilihatnya sang Mama menangis dan menatap ke luar jendela. Ingin sekali Rio menghapus air mata itu, tapi dia juga tak ingin berdebat lagi dengan mamanya. Rio tau, mamanya selalu mencari kesalahannya, sekecil apapun, kemudian akan marah-marah, untuk melampiaskan emosi, terhadap papanya.


Mobil berhenti di halaman sebuah rumah mewah, setelah seorang satpam membuka sebuah gerbang yang tinggi. Rumah mewah yang tampak tenang dan asri, namun menyembunyikan bara api di hati masing-masing penghuninya.


"Rio, udah sampai, bangun!" Hesti mengguncang bahu anaknya kasar.


"Iya, Ma. Bisa gak, bangunin Rio itu pelan-pelan, perut Rio masih sakit?!"


"Kalau masih sakit, kenapa dokter udah ngijinin kamu pulang? Udah deh, gak usah pura-pura, kayak papamu saja!"


Mama Rio turun dari mobil, tanpa menghiraukan anaknya. Rio hanya menggeleng, kemudian menurunkan barang-barangnya dibantu Pak Sopir.


"Taruh aja dikamar ya, Pak! Biar nanti dibereskan Bibi. Saya mau istirahat dulu di kamar tamu, nanti kalau kamar saya sudah rapi, tolong kasih tau!"


"Oke siap, Den."


Rio membaringkan diri di ranjang kamar tamu, cowok itu memikirkan Nabila, gadis manis yang saat ini masih memenuhi semua ruang hatinya. Rio sangat merindukan gadis itu, gadis yang terpaksa dia sakiti karena menuruti kemauan mamanya.


"Bil, Kakak rindu sama kamu. Maafkan Kakak ya, udah bikin kamu terluka dan sakit hati," bisik Rio lirih.


"Mana Mama tau, kalau aku sudah memindahkan semua foto Nabila ke drive. Pasti yang dihapus Mama cuma yang di galeri dan chat."


Jari Rio bergerak lincah, menggeser foto-foto Nabila yang tersimpan rapi di drive ponselnya. Senyum cowok itu makin lebar, melihat ekspresi Nabila di setiap foto. Kadang jutek, usil, cemberut, diam, menangis, tertawa lepas, dan tersenyum lembut.


"Memang cewek satu ini, seperti punya seribu wajah. Tapi semuanya bikin aku gemas, Kakak sayang kamu, Nabila."


Rio memejamkan mata, berusaha melukis wajah dengan ekspresi tersenyum manis milik Nabila, dalam angannya. Sekedar untuk mengobati rasa rindunya yang membuncah.


Tiba-tiba ponsel milik Rio berdering, sebuah nama tampak berkedip di layar, Rara. Dengan enggan Rio menjawab panggilan itu.


"Ya, Ra. Ada apa?"


"Eh, kamu sudah pulang dari rumah sakit, Yo? Aku mau jenguk kamu, katanya kamu sudah pulang."


"Iya, ini baru sampai."

__ADS_1


"Maaf ya, Yo! Gara-gara aku, kamu jadi sakit. Aku beneran gak tau, kalau kamu punya sakit lambung," kata Rara sendu.


"Iya, gapapa kok."


"Kamu beneran mau maafin aku kan, Rio?"


"Iya."


"Kamu gak bohong, kan?"


"Udah ya, Ra. Aku mau istirahat."


Rio mematikan panggilan tanpa menunggu balasan dari Rara. Hal itu membuat Rara kesal, gadis itu menghentakkan kaki dan menggerutu di parkiran rumah sakit.


"Duh, sombong banget jadi cowok, untung aja aku naksir, coba enggak udah ku HIH kamu, Rio," kata Rara dengan gerakan menc*kik.


Rara mengeluarkan ponsel, dan menelepon Dessy.


"Hallo."


"Dess, ini aku, Rara."


"Iya, Kak Rara. Gimana?"


"Rio sudah pulang dari rumah sakit, bahkan sudah sampai rumah dan mau istirahat. Aku barusan telpon dia buat nanyain."


"Oh, terima kasih buat infonya ya, Kak Rara."


"Sama-sama, Des."


Rara menutup panggilan telponnya, kemudian melangkah mencari motornya di tempat itu, dan melaju pulang sambil tersenyum riang.


Rio melanjutkan lagi imajinasinya tentang Nabila yang tadi sempat terputus karena telepon masuk dari Rara. Cowok itu tampak tersenyum sambil memejamkan mata.


Dessy yang baru saja menerima informasi dari Rara, yang mengatakan Rio sudah pulang ke rumah, juga tampak tersenyum. Sebuah rencana telah tersusun di otaknya, rencana untuk Rio.

__ADS_1


__ADS_2