Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 62


__ADS_3

Dika berjalan sambil terhuyung. Kepalanya terasa sangat berat. Apa yang terjadi hari ini, sangat membebani hidupnya. Ketauan sang istri saat berbuat mes*m. Diusir dari rumah. Kehabisan uang. Komplit sudah.


Ketika malam menjelang, Dika tak tau lagi harus melangkah kemana. Tak ada tempat untuk pulang. Pria itu telah kehilangan semuanya, sejak terusir dari rumah istrinya.


Dika memutuskan untuk memulai lagi pekerjaan lamanya. Pekerjaan yang tidak membutuhkan modal. Hanya tekad dan keberanian. Serta keberuntungan. Ya, kembali menjadi begal.


Sisa uang di dompet, sudah Dika sebuah pisau. Pisau dapur biasa, tapi yang terlihat cukup tajam. Membelinya juga mudah, karena tak ada yang bakal curiga, pisau itu untuk apa.


Di jalan yang cukup sepi, Dika menunggu mangsanya. Ingin berdoa agar kali ini usahanya berhasil. Tapi itu sangatlah mustahil. Mana mungkin Tuhan mengabulkan doa seorang begal, agar berhasil dalam eksekusi?? Tentu saja tidak!


Cukup lama menunggu. Capek. Lelah. Digigit nyamuk. Semua Dika jalani dengan sisa kesabaran. Ditengah rasa sakit di kepala yang berdenyut. Juga rasa lapar yang melilit di perut. Makanan terakhir yang Dika makan, adalah makanan dari warung Bu Bakir. Tadi pagi.


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu sedari tadi, muncul juga. Seorang kakek , tampak mengendarai motornya. Pelan sekali jalannya, seperti merayap. Tampaknya, kakek itu bermasalah dengan pengelihatan. Karena itu, dia teramat pelan melajukan motor, membelah malam.


Dika muncul dari persembunyian. Menabrakkan diri ke motor sang Kakek. Kontan, sang Kakek terkejut dan terjatuh dari motornya.


"ADUH! KAMU ITU KENAPA, ANAK MUDA? MABOK?"


Sang Kakek kesal. Kemunculan Dika yang sangat tiba-tiba, hampir membuat jantung sang Kakek pensiun untuk berdetak. Dengan meringis kesakitan, sang Kakek berusaha melepaskan diri dari himpitan motornya. Dika masih terbaring di aspal, pura-pura pingsan.


"Hey, kamu tak apa-apa, anak muda?"


Sang Kakek menghampiri Dika dan hendak mengguncang tubuhnya agar terbangun. Tapi dengan sigap, Dika menyerang kakek tua itu. Pergulatan yang cukup seru. Dika tak pernah menyangka, kakek tua itu tak selemah kelihatannya.


"DASAR GILA! APA MAUMU, HAH? MAU MERAMPOK AKU?"


Kakek tua itu terlihat marah. Kemudian membalas serangan Dika yang membabi buta. Sangat lincah. Sang Kakek dengan mudah mematahkan serangan Dika, bahkan berbalik menyerang.


"AHH, AMPUN, KEK!!"


Dika meringis, merasakan sakit di tangannya yang berhasil diringkus sang Kakek. Tangan itu sekarang terpelintir ke belakang tubuh Dika.

__ADS_1


"Sakit! Tolong lepaskan!!" pinta Dika mengiba.


"Oh, tidak bisa! Tak semudah itu Suparto! Kalau aku di posisimu sekarang ini, belum tentu juga kamu melepaskan aku," kata sang Kakek sambil nyengir.


"TOLONG!! TOLONG!! TOLONG!! ADA BEGAL!!"


Tiba-tiba sang Kakek berteriak. Membuat Dika dilanda rasa panik. Bagaimana tidak, meski tempat itu sepi, bukan tak mungkin teriakan sang Kakek ada yang mendengar.


"Ah, mungkin kurang keras nih, aku teriaknya. Coba ku ulang lagi ahh. TOOLOOONG ... TOOLOOOONG ... TOOOLOOOONG. ADA BEGAAALLLLL!"


Kakek itu kembali nyengir, menyadari ulahnya yang konyol. Dia berteriak dengan berirama. Seperti di anime Upin Ipin saat Jarjit berperan sebagai pengembala domba. Tapi----


"Ada apa Pak Haji?"


Seorang pria tampak berlari menghampiri, ketika mendengar permintaan tolong sang Kakek.


"Ini, Min. Aku tadi mau dibegal! Tapi masih bisa ku atasi. Nih begalnya, cakep kan, Min?"


"Bisa tolong aku gak, Min?"


"Bisa, Pak Haji! Tolong apa?"


"Tolong panggilin warga! Cepat ya, Min! Takutnya ini Mas Begal keburu kabur."


"Oke siap, Pak Haji!! Tunggu, ya!!"


Pak Min segera berlari menuju arah perumahan warga, setelah meletakkan peralatannya berburu belut dan kodok. Ya, tadinya memang Pak Min sedang berburu, ketika mendengar teriakan minta tolong Pak Haji.


"Kamu pasti kaget ya, Mas Begal. Ternyata kakek tua ini bisa mengalahkan kamu? Jangan heran! Aku ini kan guru bela diri, pencak silat. Do you know pencak silat? Hehehe."


Pak Haji mencoba mengajak Dika bercanda. Tapi Dika malah melengos. Takut, khawatir, menyesal, marah serta sedih, semua campur aduk dan dirasakan oleh Dika.

__ADS_1


Tak lama, Pak Min datang bersama serombongan warga. Entah apa yang telah dikatakannya, karena para warga tampak sangat marah. Mereka juga banyak yang membawa senjata. Balok kayu, gagang sapu, tangkai cangkul, bahkan ada yang membawa cemeti untuk gembala kerbau.


"MANA BEGALNYA? HAYOK LANGSUNG SAJA KITA HABISI!!"


"IYA, KITA BUAT DIA JERA!!"


"BAKAR AJA, DAH!! BIAR TAU RASA!!"


"CUKUR GUNDUL, TERUS ARAK KELILING KAMPUNG."


"SETRUM, AJA DEH!!"


Warga saling berteriak mengusulkan hukuman yang pantas diberikan pada Dika. Karena sudah berani membegal orang yang mereka segani di wilayah itu. Pak Haji memang terkenal sebagai orang yang baik dan berwibawa. Tak heran banyak warga yang segan dan menghormatinya. Benar-benar Dika sedang sial malam ini. Hendak membegal orang yang cukup penting.


"Tenang, bapak-bapak! Janganlah kita main hakim sendiri! Mending kita serahkan saja Mas Begal ini pada petugas yang berwajib. Setuju kan, bapak-bapak?"


"Saya sih tidak setuju, Pak Haji. Buat apa kita merepotkan Pak Polisi. Mending kita atasi sendiri saja," kata seorang bapak.


"Iya benar, Pak Haji! Kita gunduli, biar kapok!"


"Jangan, kita sunat aja, gimana teman-teman?"


"Haduh, Solikin! Kok malah disunat sih? Kan kasihan nanti kalau habis."


HAHAHAHAHA...


Suara tawa seketika membahana di tempat itu. Semua tertawa, hanya seorang saja yang tidak. Tentu saja Dika, siapa lagi? Pria itu prihatin akan nasib sial yang menimpa dirinya sendiri.


"Udah, hayo kita bawa ke kantor polisi saja. Biar diurus sama Pak Pol! Sekarang tolong bantu ikat dia biar gak kabur! Tanganku udah kesemutan nih."


Beberapa pemuda segera menghampiri Pak Haji dan Dika. Mengikat tangan Dika dengan sebuah tali, dan membawanya ke kantor polisi. Pak Haji yang sudah terlalu lelah untuk berjalan kaki, memutuskan untuk menaiki motornya yang akan dipakai sebagai barang bukti. Kali ini Pak Haji tak sendiri, tapi dibonceng oleh seorang pemuda.

__ADS_1


__ADS_2