Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 22


__ADS_3

Hari ini, sebuah berita yang menyedihkan harus diterima oleh keluarga Pak Bakir. Lelaki itu sudah menghembuskan napasnya yang terakhir, sehari setelah kunjungan anak dan istrinya.


Nabila yang merasa sangat kehilangan sosok sang ayah, sangat berat menerima kabar kematian bapaknya. Berkali-kali gadis itu jatuh pingsan.


Bu Bakir tampak lebih tabah, wanita itu tampak berkali-kali menyeka air mata dengan sebuah sapu tangan.


"Bu, sebentar lagi jenasah Bapak akan sampai di sini."


Salah seorang pemuda setempat, memberi tahu kedatangan jenasah Pak Bakir dari penjara.


"Iya, Mas. Terima kasih ya, sudah membantu."


Pemuda itu mengangguk, kemudian meninggalkan Bu Bakir yang duduk di tikar, ruang tamu rumahnya. Hanya beberapa tetangga dekat yang membantu persiapan pemakaman jenasah Pak Bakir. Kabar yang menyatakan Pak Bakir seorang penjahat yang tewas di penjara, membuat warga lain enggan untuk sekedar melayat.


Kakek tampak duduk di teras, menemani Pak RT dan beberapa pelayat yang lain.


"Sebenarnya, Pak Bakir itu terkena kasus apa sih, Kek?" tanya Pak RT.


"Menantuku dituduh membunuh seorang wanita dan merampas motornya."


"Apa benar begitu, Kek? Perasaan Pak Bakir itu orangnya baik, tekun beribadah juga. Masa sih bisa melakukan tindakan keji seperti itu?"


"Ya entah, lha wong di pisau yang menancap di dada korban ada sidik jari si Bakir. Cuma motor wanita itu sudah gak ada, padahal si Bakir masih ada di situ, kan aneh."


"Apa Pak Bakir punya teman, jadi motor korban dibawa kabur temannya?"


"Kan gak mungkin kayak gitu, kalau emang temannya kabur, yang jelas si Bakir juga ikut kabur. Ini malah nungguin wanita itu, sampai ada orang lain yang lewat. Bakir juga kan waktu itu bawa motor juga, pasti bisa kabur kan?"


"Aneh ya, Kek? Apa jangan-jangan, Pak Bakir itu korban salah tangkap?"


"Kakek rasa sih begitu, cuma mau bagaimana lagi? Kami ini orang kecil, mana bisa melawan hukum. Kamu tau kan, hukum negara ini tumpul ke atas, tajam ke bawah."

__ADS_1


"Iya Kek, saya paham kok. Orang kecil kayak kita selalu jadi korban, karena gak punya duit."


Beberapa orang yang turut menyimak obrolan Kakek dan Pak RT, tampak mengangguk tanda setuju.


"Mungkin juga kan, Pak Bakir itu niatnya mau menolong wanita itu. Jadi sebenarnya, dia itu memang korban begal, terus begal itu kabur bawa motor wanita itu. Nah, kebetulan Pak Bakir lewat, waktu nolongin, malah disangka pelaku," ujar seorang bapak.


"Ya masuk akal juga, kalau kayak gitu," timpal bapak yang lain.


"Ya mungkin memang seperti itu. Si Bakir aja yang lagi apes, pulang ngojek niatnya berbuat baik, malah dipenjara," kata Kakek.


"Lebih kasihan lagi anak dan istrinya, mereka jadi sengsara. Bu Bakir jadi terpaksa cari kerja jadi pembantu di Jakarta," ucap Pak RT.


"Si Nabila dulu juga sempat dibully di sekolahnya yang lama, gak ada teman yang mau dekat. Sampai anak itu sempat mau mogok sekolah, untung ada tetangga yang baik hati di sana. Memberi dorongan dan semangat, karena Bila hampir lulus SMP, sayang kalau berhenti."


"Wah, kasian banget ya, Kek. Untung di dunia ini masih ada orang baik, yang mau peduli pada orang lain," kata Pak RT.


Kakek hanya mengangguk, hati orang tua itu sangat sedih, melihat musibah yang menimpa menantunya, serta imbas yang diterima anak dan cucunya.


"Turut berduka cita ya, Kek. Semoga keluarga diberi ketabahan dan penghiburan."


Dika menyalami Kakek, diikuti Winda di belakangnya.


"Terima kasih, Nak Dika. Maafkan, kalau Bakir ada salah sama kamu, ya! Biar kuburnya lapang dan jalannya juga terang," kata Kakek.


"Iya, Kek. Kami juga sekeluarga minta maaf, karena sebagai manusia tak pernah luput dari yang namanya salah. Mbak Yu sama Nabila dimana, Kek?"


"Ada di dalam, Bila di kamarnya, anak itu belum dapat menerima kematian bapaknya. Kalau mbak yu mu, tadi ada di ruang tamu, masuk saja!"


Dika dan Winda segera masuk ke dalam rumah, ada Bu Bakir di ruang tamu, tapi tampak mengacuhkan mereka. Bu Bakir berpura-pura ngobrol dengan pelayat lain, tak menyambut kedatangan Dika dan Winda.


"Mbak Yu, kami berduka turut berduka cita, atas berpulangnya Mas Bakir," kata Dika mengucap bela sungkawa.

__ADS_1


"Iya, terima kasih. Sudah puas kan, membuat aku jadi janda dan Nabila jadi anak yatim?"


Bu Bakir berkata dengan sinis, tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Winda yang tak mengerti maksud Bu Bakir, menjadi kesal. Dika hanya menunduk, karena paham apa yang dimaksud Bu Bakir.


"Mbak Yu itu ngomong apa? Kami berdua ke sini cuma mau berbelasungkawa, kok tanggapannya begitu. Salah kami apa, Mbak Yu?"


Winda menjadi marah, mendapat tanggapan kurang menyenangkan dari Bu Bakir. Dika mengajak istrinya keluar, agar tidak timbul keributan.


"Kenapa sih, Pa? Emang Mama salah apa, kok Mbak Yu sikapnya kayak gitu?"


"Ya kan Mbak Yu lagi berduka, Ma. Kamu harus bisa memaklumi lah, nanti juga dia bakal baik lagi sama kita seperti biasanya," hibur Dika.


"Ya gak gitu juga, padahal kita ini sudah merawat anaknya, waktu dia pergi ke Jakarta dan suaminya masuk penjara. Kok bisa-bisanya ngomong kayak gitu ke kita, dasar manusia tak tau terima kasih."


"Hus ... jangan keras-keras kalau ngomong, gak enak kalau kedengaran sama Kakek!"


"Abis kesel, Pa. Mbak Yu kayak gitu."


Dika menepuk pundak istrinya, menyuruhnya untuk bersabar. Winda hanya manyun, menahan rasa kesal. Dika juga menggabungkan diri dengan bapak-bapak yang di teras depan, sedang Winda menyibukkan diri dengan ponselnya.


Tak lama berselang, jenasah Pak Bakir tiba di rumah duka. Beberapa pelayat membantu untuk mengangkat, karena mobil jenasah yang membawanya tak bisa masuk ke dalam gang. Dika salah satu pelayat yang turut membantu.


Setelah doa-doa dibacakan, prosesi pemakaman dilangsungkan. Meski hanya sedikit yang hadir, prosesi pemakaman Pak Bakir berjalan lancar, tanpa ada kendala.


Dika dan Winda berpamitan, tapi hanya Kakek dan Nenek yang menemui. Bu Bakir dan Nabila masih di dalam rumah, keduanya sangat berduka karena ditinggalkan orang terkasih.


"Kami pamit ya, Kek, Nek! Titip salam buat Mbak Yu dan Nabila," pamit Dika.


"Iya, nanti kami sampaikan. Maaf kalau mbak yu mu belum bisa menemui, dia masih sangat berduka."


"Iya, Nek. Kami sangat mengerti kok, namanya juga ditinggal pergi suami," kata Winda.

__ADS_1


Kakek dan Nenek mengantar sampai pagar depan, setelah Dika dan Winda berbelok, baru keduanya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2