Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 57


__ADS_3

Dessy tampak gelisah di kamarnya. Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, tak membuat beban pikiran gadis itu menjadi berkurang. Tapi hanya kakinya yang merasa pegal. Sesekali gadis itu tampak melongok ke luar jendela, menanti seseorang datang.


Akhirnya, Dessy merebahkan diri di atas kasur, matanya terpejam, menahan air mata yang merembes keluar. Peristiwa dua tahun yang lalu kembali terbayang di pelupuk matanya. Peristiwa yang kalau bisa, Dessy lebih memilih amnesia.


Hari itu, Dessy merayakan ulang tahunnya yang ke-15. Papa mama Dessy sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, tak ada yang ingat akan hari jadi anaknya. Dessy tentu saja merasa sangat sedih.


Hanya Raka sang pacar yang mengingat hari istimewa itu. Raka mengajak Dessy merayakan ultahnya di sebuah cafe romantis. Memberinya kado sebuket bunga mawar putih, bunga kesukaan gadis itu. Bahagia? Tentu saja. Dessy merasa sangat bahagia, diperhatikan oleh orang yang disayang.


Namun sayang, kebahagiaan itu hanya sekejap saja dirasakan Dessy. Raka menjebaknya untuk melakukan perbuatan amoral, begitu mereka pulang dari cafe. Dessy yang mengira Raka benar-benar tulus, hampir saja menyerahkan diri sepenuhnya pada sang kekasih.


Mirisnya, mama Raka mengambil gambar perbuatan amoral anaknya dan Dessy secara diam-diam. Semua itu ternyata memang sudah direncanakan oleh wanita itu. Tujuannya, tentu saja, untuk menjatuhkan orang tua Dessy.


Karena peristiwa itu, Tante Anna, memutuskan meninggalkan kariernya yang sedang cemerlang. Wanita itu memilih menjadi ibu rumah tangga untuk menjaga anak semata wayangnya. Jangan sampai apa yang dialami Dessy terulang kembali.


Sejak itu pula, Dessy si gadis ceria, berubah menjadi pemurung dan menutup diri. Gadis itu mulai membangun tembok antara dirinya, dan dunia luar. Hanya di hadapan keluarganya dan keluarga Nabila, Dessy menunjukkan pribadi yang sebenarnya. Dessy yang usil dan selalu ceria.


"NGAPAIN KAMU KE SINI, HAH? TANTE PERINGATKAN, YA! JAUHI DESSY!!"


Teriakan Tante Anna membuat Dessy tersadar dari bayangan masa lalunya. Suara mamanya yang terdengar begitu emosi, entah mengapa membuat Dessy bisa menebak penyebabnya. Raka.


"Maaf, Tante!! Saya kemari gak ada maksud buruk pada anak Tante. Saya cuma mau meminta maaf, saya menyesal."


Benarkan? Itu suara Raka yang terdengar memelas. Sepertinya Raka benar-benar tulus meminta maaf, tapi mama Dessy tak mempercayainya.


"KAMU TAU KAN, APA AKIBAT PERBUATANMU PADA DESSY?"


"Iya, Tante. Saya tau, karena itu saya mau meminta maaf Tante dan Dessy. Saya menyesal sekali."


"MAAF SAJA TIDAK CUKUP!! SEJAK SAAT ITU ANAKKU BERUBAH. TAK LAGI SAMA SEPERTI DULU. DAN MAAF DARIMU, TAK DAPAT MENGEMBALIKAN ANAKKU SEPERTI SEMULA."


"Saya harus apa? Supaya mendapat maaf dari Tante?"


"JAUHI ANAKKU! JANGAN LAGI MENGUSIKNYA!"


"Maaf, Tante! Saya gak bisa. Saya gak bisa jauh dari Dessy. Dia pusat kehidupan saya."

__ADS_1


Kembali air mata menganak sungai di pipi Dessy, mendengar pengakuan Raka. Dalam hatinya yang terdalam, Dessy juga masih menyayangi Raka. Belum berubah sejak mereka resmi pacaran. Perasaan itu masih sama.


Dessy juga sudah memaafkan Raka. Memaklumi khilaf cowok itu. Tapi tidak dengan orang tuanya. Bagi mereka, Dessy adalah harta mereka yang paling berharga. Siapa yang menyentuh kulitnya, harus berhadapan dengan papanya. Apalagi Raka, yang hampir membuat Dessy bermasa depan suram.


Dessy memberanikan diri keluar dari kamarnya, kemudian melangkah turun ke ruang tamu. Di sana, mamanya sedang berdiri dengan berkacak pinggang, di depan seorang cowok yang tampak menunduk.


"Raka?"


Tante Anna dan Raka memalingkan wajah ke arah Dessy. Tante Anna segera menghampiri anaknya, dan merengkuh tubuhnya. Sedang Raka hanya menatap dengan penuh harap.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Dessy.


"Seperti kataku tadi di sekolah. Aku akan ke rumahmu, meminta maaf."


"Buat?"


"Aku sadar, Dess. Terlalu banyak dosa dan kesalahan yang aku buat. Mungkin kamu gak mau memaafkan kesalahanku."


"Aku sudah memaafkan mu. Pergilah!"


"Ta ... tapi, Dess!"


"Sudahlah! Kan sudah ku bilang, aku sudah memaafkan kamu."


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu, Tante! Aku jalan ya, Dess!"


Tak ada jawaban dari kedua wanita itu, sampai beberapa saat Raka menunggu. Akhirnya, cowok itu memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Dengan mengangguk, Raka berlalu.


Dessy duduk di sofa ruang tamu, diikuti Tante Anna yang kemudian duduk di sebelahnya. Wanita itu tau, anaknya pasti pengen bercerita.


"Apa yang terjadi di sekolah? Raka membuat ulah?" tanya Tante Anna lembut.


Dessy menggeleng sambil meremas kedua tangannya di pangkuan, pertanda gadis itu sedang risau.


"Terus kenapa?"

__ADS_1


"Dessy gak mau satu sekolah sama Raka! Apalagi satu kelas!"


Tante Anna menghela napas, mendengar keinginan anak semata wayangnya itu.


"Itu sekolah negeri, Sayang. Kita tidak bisa melarang seseorang untuk sekolah di situ. Apalagi orang itu memenuhi syarat untuk bisa diterima."


"Tapi, Ma! Mama pasti tau, cara apa yang dipakai Raka untuk bisa diterima!"


"Tapi, kita tak punya bukti, Sayang. Jangan sampai kita dibalikin dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik."


Dessy menunduk. Omongan mamanya terdengar benar dan masuk akal. Harus ada alasan dan bukti yang logis, untuk membuat Raka dikeluarkan dari sekolah.


"Tapi Dessy takut, Ma! Dessy takut Raka membeberkan masa lalu yang kelam. Apalagi dia punya bukti. Rekaman itu."


"Orang-orang Papa sudah memusnahkan bukti itu, Sayang. Kamu tenang aja!"


Tante Anna membelai rambut panjang Dessy dengan sayang, saat si empunya merebahkan diri ke pangkuannya. Dessy mulai menangis.


"Maafkan Mama ya, Sayang! Mama dulu terlalu sibuk, hingga kamu harus mengalami peristiwa tak menyenangkan seperti itu."


"Mama dan Papa terlalu mengejar obsesi untuk bisa diakui sebagai yang paling hebat. Hingga melupakan tanggung jawab kami. Melupakan gadis kecil kami yang mulai beranjak dewasa dan mencari jati diri."


"Sudahlah, Ma! Lupakan saja semua itu! Toh sekarang ini Mama dan Papa sudah menebus semuanya. Sekarang Dessy sudah dewasa, sudah bisa mengurus diri sendiri. Kalau Mama mau kembali berkarier, Dessy akan mendukung Mama."


"Enggak ah. Mama udah nyaman dengan situasi kayak gini. Lagian sebentar lagi Mama bakal punya kesibukan baru."


"Hah?"


Mama tersenyum jahil, membuat Dessy semakin penasaran.


"Apa maksud, Mama?"


"Nanti juga kamu bakal tau, Sayang. Yang penting sekarang, ayo kita makan malam. Mama sudah lapar. Lupakan Raka, jangan khawatir dia bakal macam-macam. Ada Mama!"


Dessy tampak cemberut. Percuma juga merayu mamanya, tak akan pernah berhasil. Mama gak mempan rayuan dan juga sangat keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2