Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 12


__ADS_3

Sueb tampak berjalan tergesa menuju bengkel komputer tempat dia bekerja sekarang. Sueb sudah terlambat satu jam dari jam kerja yang telah dia sepakati dengan Dika, Sang pemilik bengkel.


"Maaf, Bro! Aku terlambat."


Dika menoleh sekilas pada rekannya, kemudian berkonsentrasi kembali pada laptop yang sedang diservis nya.


"Udah sarapan? Kalau belum, minta gih, di warung depan!"


Sueb mulai membersihkan bengkel, laptop yang sudah selesai diservis, dia letakkan di rak yang sudah disediakan.


"Udah, nih tadi kan aku dari rumah mertua, jadi sudah sarapan di sana."


Rumah mertua Sueb letaknya memang lebih jauh dari bengkel, tak heran jika Sueb terlambat, karena dia berjalan kaki.


"Gimana kabar istrimu?"


"Itulah, Bro. Istriku mau balik lagi ke rumah, kalau aku udah beliin dia gamis baru. Yang bling-bling kayak punya artis sapa gitu, aku lupa namanya."


"Ya udah, beliin aja. Daripada istrimu ngambek terus, gak mau pulang? Tar kamu gak ada yang masakin."


"Duit dari mana coba? Emang kamu mau kasih kas bon?"


Dika menghela nafas, penghasilan bengkel komputer yang dia kelola hasilnya tak seberapa. Karena itu, dia dan Sueb selalu melakukan aksi. Dika malu kalau istrinya tau, bahwa hasil kerjanya lebih sedikit dari penghasilan istrinya sebagai bidan.


"Bukannya gak mau kasih, Bro. Kan kamu tau sendiri, berapa penghasilan bengkel. Aku aja malu, kasih nafkah cuma dikit buat istriku. Belakangan ini sih, aku selalu alasan kalau bengkel lagi sepi."


"Kalau gitu, kita beraksi lagi yuk, Bro!"


"Ogah, aku mau tobat. Kan udah aku bilang, kalau kamu mau beraksi lagi, coba aja cari partner baru. Aku gak akan mau lagi beraksi, apapun yang terjadi. Aku sudah jera."


"Terus gimana? Istriku bakal protes kalau aku kasih duit belanja cuma hasil dari bengkel."


"Entahlah, aku juga bingung."


Keduanya terdiam, terlihat fokus pada pekerjaan masing-masing, tapi pikiran mereka berdua tak lagi di sana.


"Yuk, Bro! Kita beraksi lagi!" kata Sueb setelah lama mereka terdiam.


"Maaf, Bro. Cari partner lain saja, aku udah gak mau beraksi lagi."


"Apa karena aksi kita udah bikin tetanggamu itu jadi napi, jadi kamu gak mau beraksi?"


"Udah sering kubilang kan, itu cuma salah satu alasan, sebenarnya alasan lain masih banyak kok. Kamu pernah gak berpikir, seandainya kita yang jadi korban, bukan pelaku."

__ADS_1


Sueb tampak tercenung mendengar perkataan Dika. Bisa dibayangkan kalau dia yang jadi korban. Cari uang halal susahnya seperti yang sekarang dia rasakan, kemudian diambil secara paksa oleh seseorang yang gak dikenal. Mungkin ia juga akan melawan seperti beberapa korbannya, kemudian akibat perlawanan itu dia tiba-tiba jadi cacat seumur hidup, sungguh tak dapat dibayangkan.


"Jadi harus gimana, Bro? Cara apa yang bisa kulakukan untuk memenuhi kebutuhan istriku?"


"Entahlah, aku juga gak tau. Aku juga malu, Bro. Karena penghasilan istriku jauh lebih gede dari aku. Meskipun dia gak pernah menuntut ku untuk ngasih lebih, sebagai lelaki aku merasa minder."


"Jadi itu alasan kenapa kamu mau aja, waktu dulu ku ajak beraksi?"


Dika mengangguk. Salah satu alasan Dika melakukan aksi, memang untuk menunjukkan, dia bisa punya penghasilan lebih banyak dari istrinya.


Seorang cewek yang keluar dari sebuah mobil mewah, tampak berjalan menuju bengkel Dika.


"Pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Dika.


"Oh, saya mau perbaiki laptop nih, Om."


"Kenapa laptopnya, Mbak?"


"Tak sengaja kena air, jadinya error. Kira-kira lama gak, Om, selesainya?"


"Coba saya periksa dulu ya?"


Cewek itu memberikan laptop yang dibawanya pada Dika.


"Iya, Om. Ada tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok di situ. Tolong ya, Om, bisa kan diusahakan nanti sore kelar?"


"Bisa, Mbak. Nanti ambil aja sekitar jam 3 an, pasti udah kelar kok."


"Baiklah, Om. Nanti aku kemari lagi, kalau agak telat, tolong ditunggu ya, butuh banget soalnya!"


"Baiklah, Mbak."


Cewek itu segera meninggalkan bengkel Dika, begitu urusannya selesai. Karena tergesa-gesa, tak sengaja cewek itu menjatuhkan dompetnya.


"Dompet cewek tadi nih, Bro."


Sueb menunjukkan dompet yang tak sengaja dia temukan.


"Sini, biar nanti ku kembalikan kalau dia kembali."


Sueb memeriksa isi dompet itu, matanya sedikit terbelalak melihat lembar merah cukup banyak yang membuat dompet itu tampak gemuk.


"Bro, kalau ini buat aku, boleh kan? Sepertinya cewek itu anak orang kaya, kan tadi mobilnya mewah dan pakai sopir."

__ADS_1


Dika menghela nafas, sebenarnya Dika juga bukan orang baik, dia juga tau cewek itu orang kaya, tapi dia merasa bersalah membiarkan Sueb mengambil uang dari dompet yang dia temukan.


"Sebenarnya, aku gak setuju sih, kamu ambil uang itu, tapi...."


"Ini nemu lho, bukan beraksi seperti biasanya. Jangan merasa bersalah gitu dong!"


"Terserah kamu aja deh kalau begitu, tapi kartu-kartu dan surat bisa kan kamu kirim lewat pos? Kasian kalau dia juga harus ngurus itu semua!"


"Nah gitu, itu baru namanya teman."


Dika cuma menggelengkan kepala dan kembali fokus mengerjakan perbaikan terhadap laptop di tangannya. Agar nanti sore sudah bisa diambil oleh pemiliknya.


Sueb mengambil semua uang dari dalam dompet itu, membungkus dompet dan surat-surat didalamnya dengan rapi. Serta menuliskan alamat yang tertera di KTP sebagai penerima. Dia akan mengirimkan dompet itu lewat ekspedisi dengan paket kilat khusus, supaya bisa cepat sampai.


Sueb bisa kembali bekerja dengan gembira, sudah terbayang di matanya, istrinya yang cantik akan kembali ke rumah, karena dia berhasil membelikan gamis mahal yang diinginkan istrinya itu.


*****


Nabila tiba di sekolah dengan senyum merekah di bibirnya. Masih terbayang di angannya, Rio menyatakan cintanya. Mulai hari Minggu kemarin, mereka berdua sudah resmi pacaran.


"Duh, keliatannya bahagia banget, Neng."


"He em nih, Dess. Aku lagi bahagiaaa... banget hari ini," kata Nabila sambil tersenyum.


"Hem, aku tebak, ini pasti karena Kak Rio."


"Kok kamu bisa tau sih, Dess?"


"Cuma nebak aja sih, siapa lagi yang bisa membuat seorang Nabila bahagia banget kayak gini, kalau bukan Kak Rio."


Pipi Nabila memanas mendengar kata Dessy. Selama ini Nabila belum pernah merasakan jatuh cinta, baru kali ini dia merasakan perasaan itu. Ternyata jatuh cinta bisa membuat orang menjadi bahagia.


"Selamat ya, Bill. Semoga kalian berdua bisa langgeng sampai married."


"Apaan sih kamu, Dess? Baru juga masuk SMA, dah ngomongin married," kata Bila malu.


"Doa yang baik, aminin aja kali."


"Iya deh, amin."


"Nah, gitu dong. Jangan lupa, nanti kasih PJ!'


" Iya, Bawel."

__ADS_1


Kedua gadis itu tak bisa meneruskan obrolannya, guru yang mengajar jam pertama, sudah masuk ke kelas.


__ADS_2