Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 53


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Dika selalu menghindar ketika bertemu Rika di rumah, hal ini tak luput dari perhatian Bik Sari. Winda sendiri, tak menyadari perubahan yang terjadi antara suami dan pengasuh anaknya, dia menganggap semuanya berjalan wajar seperti biasa.


Saat itu rumah sedang sepi, Rika mengantar Tasya ke sekolah, dan Winda sedang menangani pasien di ruang prakteknya sebagai bidan. Bik Sari memberanikan diri bertanya pada Dika, tentang hubungannya dengan Rika.


"Pak, boleh Bibi bertanya?"


"Mau nanya apa, Bik? Kok kelihatannya sungkan."


"Anu, Pak ... itu lho, kok Bibi lihat Bapak sekarang sikapnya beda sama si Rika? Seperti menghindar gitu, kenapa, Pak?"


Dika menghela napas, sebelum menjawab pertanyaan si Bibi. Dalam hati Dika juga merancang kebohongan, untuk menutupi perbuatannya, dia akan membuat Rika menjadi kambing hitam saja.


"Aku...aku cuma merenungkan omongan Bibi aja sih, emang Rika itu seperti menyimpan maksud buruk untuk merusak rumah tanggaku dan Winda. Jadi aku berusaha menghindar aja, Bik. Bibi kan lihat sendiri, gimana kurang ajarnya si Rika itu. Dia berani cari perhatianku di depan Winda, aku gak mau Winda cemburu."


Bik Sari menarik napas lega, mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dika. Ternyata majikannya mendengarkan sarannya.


"Baguslah kalau Bapak ternyata tak tergoda sama janda gatel itu. Kemarin-kemarin Bibi sudah was-was saja, karena tuh janda emang udah tebal muka, menggoda suami orang di depan istrinya. Bibi cuma gak mau, rumah tangga Bapak dan Nyonya berantakan, Bibi sayang banget sama keluarga kalian."


"Iya, Bik, terima kasih ya, sudah peduli pada keluargaku. Kami juga sudah menganggap Bibi sebagai orang tua, jadi jangan sungkan menegur, kalau kami ada berbuat salah!"


"Bibi rasa, Nyonya juga pernah kok menegur Rika, makanya sekarang dia kan gak berani kurang ajar sama Bapak."


"Oh ya, kapan itu, Bik?"


"Setelah yang makan malam waktu itu, Pak."


"Oh, pantes. Emang aku lihat sekarang si Rika usah gak ganjen lagi sama aku. Pasti dia takut sama Winda, Bik."


"Ya bagus, biar dia tau diri, Pak. Masa cuma pengasuh Tasya aja lagaknya kayak nyonya besar, main suruh-suruh seenak udel ke Bibi."


"Ya jangan mau, Bik, kan dia bukan nyonya besar. Aku mau ke bengkel dulu ya, Bik."

__ADS_1


"Iya, Pak. Hati-hati di jalan!"


Dika berangkat ke bengkel menggunakan mobil, motornya lagi ngambek, dan terpaksa masuk bengkel. Saat tiba di bengkel, Dika sangat terkejut, melihat Rika sudah duduk manis di depan bengkel yang masih tertutup.


"Ngapain ke sini, Mbak?" tanya Dika ketus.


"Gak ngapa-ngapain kok, Mas. Tadi lagi pengen makan lontong sayur di warung depan situ, dulu sering dibawain sama Bang Sueb, waktu dia masih kerja di sini."


"Oh, terus ngapain sekarang gak pulang, malah nongkrong di sini?"


"Males mau pulang, di rumah Mbak Winda lagi ada pasien, berarti ada Bik Sari doang. Rese banget itu orang tua, jadi males aku, Mas. Mending nungguin Tasya pulang di sini aja, sambil bantu-bantu Mas Dika bersih-bersih bengkel."


"Ya udah kalau gitu, masuk aja! Itu sapunya di pojok."


Rika mengikuti Dika masuk ke bengkel, dan mulai melancarkan rayuan mautnya. Awalnya Dika menolak, tapi lama-lama terlena juga. Dan kejadian seperti pada malam terkutuk itu terulang kembali.


"Ini peringatan terakhir ya, Mbak! Jangan lagi ngelakuin kayak gini ke aku, atau Mbak aku pecat!"


"Terus mau kamu apa, Mbak?"


"Kita itu udah sama-sama gede, Mas Dika. Kamu tau kan, apa yang baru saja kita lakukan itu memang kebutuhan? Anggap saja kita ini saling membantu, sama-sama butuh."


"Kamu itu istri sahabatku, Mbak. Gak pantes banget kalau aku kurang ajar sama kali, sama aja mengkhianati kepercayaan Bang Sueb," Dika menggaruk kepalanya dengan gusar.


"Gak usah m*nafik jadi orang, Mas! Bang Sueb itu sudah meninggal, dan aku masih muda, masih butuh yang namanya begituan. Apa Mas Dika rela, aku malah melakukannya dengan orang lain? Kalau aku malah kenapa-kenapa gimana? Apa Mas Dika bisa bertanggung jawab sama Bang Sueb di akhirat nanti?"


Dika terdiam, benar juga apa yang baru saja diomongkan Rika. Masih mending Rika melakukannya dengan dia, kalau dengan orang lain yang malah berbuat jahat pada Rika macam mana? Dia akan lebih merasa bersalah pada Sueb.


"Kalau sampai Winda tau, apa jadinya rumah tanggaku, Mbak?"


"Ya dia jangan sampai tau lah, Mas. Kalau di rumah, kita gak usah kelihatan akrab, biar gak curiga!"

__ADS_1


"Jadi?"


"Jadi aku akan ke sini kalau lagi pengen, kita melakukannya di sini saja."


Kembali Dika menggaruk kepalanya dengan gusar. Tawaran Rika sangat mengiurkan, jujur saja, Dika lebih menikmati momen bersama Rika daripada saat bersama Winda. Rika lebih agresif dan membuat Dika merasa kewalahan. Sedang Winda yang berbadan tambun, lebih banyak diam dan menerima saja perlakuan Dika kepadanya, tanpa ada niat untuk membalas. Ah, setan memang lebih hebat pengaruhnya pada manusia.


"Jangan sampai ketahuan, Mbak!"


"Tenang aja, Mas! Aku akan melihat situasi dan kondisi dulu, kalau aman, baru kita eksekusi. Tapi,...."


"Apa?"


"Bagi duit dong, Mas. Skin care dan makeup aku udah habis, kemarin nitip Mbak Winda gak dibelikan."


"Berapa?"


"Lima ratus ribu aja."


Dika memberikan lima lembar merah bergambar dua bapak-bapak pada Rika. Wanita itu tersenyum girang, setelah mengecup pipi Dika, Rika melenggang pergi dari bengkel, ke sekolah untuk menjemput Tasya.


"Pantes aja dulu si Sueb sampai nekad kayak gitu, bahkan dia masih lanjut meski aku udah pensiun. Lha wong istrinya model gitu, matre. Bisa-bisa aku bernasib sama kayak Sueb kalau dekat-dekat sama janda gatel itu," gerutu Dika setelah Rika pergi.


Sampai di sekolah Tasya, ternyata bocah itu sudah lama menunggu Rika yang pergi tanpa memberi tau.


"Tante kemana saja, Tasya tadi cari Tante tapi gak ada," protes Tasya begitu Rika muncul.


"Tante dari bengkel, Sayang. Tadi abis pompa ban, maaf ya, udah bikin Tasya nunggu lama."


"Iya, Tante, gapapa. Tasya cuma takut, Tante ninggalin Tasya pulang."


Ya enggaklah, masa Tante ninggalin Tasya sih? Nanti Tante gak digaji dong sama mama Tasya, kalau kerjanya gak bener."

__ADS_1


Tasya hanya nyengir, yang jelas, gadis kecil itu merasa lega, karena Rika tidak meninggalkannya sendiri di sekolah, tapi cuma pergi ke bengkek untuk memompa ban yang kempes.


__ADS_2