Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 19


__ADS_3

Nabila menangis di samping tempat tidur dimana bapaknya terbaring. Keadaan Pak Bakir sangatlah lemah, jauh lebih lemah dari sebulan yang lalu.


Saat ini tubuh Pak Bakir tampak sangat kurus, bisa dikatakan tinggal kulit pembalut tulang. Mata Pak Bakir keliatan cekung dan sekelilingnya menghitam, mata panda kata orang.


Napas Pak Bakir juga tampak tersengal, membuat iba orang-orang yang melihatnya. Bu Bakir juga tampak menangis di samping anaknya. Bu Bakir sangat menyesali sikapnya selama ini pada suaminya.


"Terima kasih, kalian udah datang. Kini Bapak sudah siap, jika Tuhan memanggil Bapak pulang," kata Pak Bakir lirih, nyaris tak terdengar.


"Bapak jangan ngomong kayak gitu, Bapak pasti sembuh kok! Dan nanti kita akan berkumpul lagi kayak dulu," kata Bu Bakir.


"Bu...Maafkan Bapak, ya! Bapak sudah membuat itu dan Bila menderita. Maafkan Bapak yang belum bisa membuat kalian berdua bahagia," kata Pak Bakir sedih.


"Bapak sudah membuat Ibu bahagia kok, Pak. Justru Ibu yang minta maaf, Ibu sudah gak percaya lagi sama Bapak. Sungguh Ibu benar - benar minta maaf. Bapak mau kan, maafin Ibu?"


"Bapak selalu maafin Ibu kok, meskipun Ibu belum minta maaf."


Bu Bakir semakin sedih mendengar perkataan suaminya. Dia menyesal, selama ini sudah menuduh suaminya melakukan tindak kejahatan. Padahal dia tau, Pak Bakir orang yang baik, dan bertanggung jawab. Serta tak pernah lalai melaksanakan kewajiban beribadah.


"Bu, ada yang ingin ku katakan padamu. Bila, bisakah Bapak bicara berdua dengan ibumu sebentar?"


Nabila mengangguk, kemudian berjalan keluar dari dalam klinik, memberi kesempatan orang tuanya untuk berbicara berdua.


"Mendekat lah kemari, Bu. Ada yang ingin ku sampaikan, dan Bapak harap, Ibu bisa menyimpannya sebagai rahasia."

__ADS_1


Bu Bakir mendekat dan duduk di sebelah suaminya. Pak Bakir mengatakan sesuatu, dan hal itu membuat Bu Bakir terkejut dan marah.


"Bu..., kan sudah Bapak bilang, jangan marah!"


"Ta..Tapi, Pak. Keluarga kita jadi hancur karena dia. Ibu gak bisa diam saja. Kasihan Bila, gara - gara orang itu hidupnya jadi menderita. Ibu juga sama, terpaksa harus kerja ke Jakarta. Bapak apalagi, sampai sakit kayak gini," kata Bu Bakir geram.


"Sudahlah, Bu. Amarah itu tak akan merubah keadaan. Semuanya sudah terjadi, kita ambil saja hikmahnya. Tuhan itu tidak tidur, pasti akan ada keadilan buat kita."


Bu Bakir menghela napas, sebenarnya hatinya geram mendengar perkataan suaminya. Tapi kata - kata suaminya ada benarnya, semua sudah terjadi, tak mungkin diulang kembali.


"Bisa kan Ibu menjaga rahasia ini? Biarkan Tuhan yang memberi keadilan."


Bu Bakir mengangguk, tapi hatinya semakin sedih, hingga air mata semakin deras mengalir di pipinya.


"Iya, Pak. Ibu memang tak ingin lagi bertemu dia. Pastinya Ibu gak akan bisa menahan amarah dari dia."


"Sabar ya, Bu. Bapak titip Bila, rawat anak kita, sekolahkan yang tinggi. Bapak ingin Bila bisa jadi sarjana."


"Ta...Tapi, Pak. Ibu mana sanggup bayar biaya kuliah Nabila?" kata Bu Bakir sedih.


"Bapak sudah siapkan kok, Bu. Ada deposito untuk biaya kuliah Nabila. Sudah Bapak persiapkan sedari lama."


Bu Bakir terkejut lagi mendengar kata - kata suaminya. Dia tak pernah menyangka, ternyata suaminya sudah mempersiapkan untuk masa depan anak mereka sedemikian rupa.

__ADS_1


"Maaf kan Ibu ya, Pak! Ibu benar - benar sudah salah sangka pada Bapak selama ini."


"Kan sudah Bapak bilang, Bapak sudah maafin Ibu sebelum Ibu minta maaf kok."


Bu Bakir memeluk tubuh lemah suaminya, dan kembali mencurahkan tangis di dada suaminya yang tak lagi bidang seperti dulu.


Terdengar ketukan di pintu, dan Bila masuk bersama seorang wanita, setelah mendengar sahutan dari dalam.


"Apa kabar, Mas?" tanya Winda, wanita yang masuk bersama Nabila.


"Ya begini ini, Dek. Gak bisa dibilang baik juga sih. Kamu sendirian atau sama Dika?"


"Sendirian, Mas. Dika nganterin Tasya ke sekolah, abis itu kerja di bengkelnya. Tadi ku ajakin kemari, tapi dia bilang gak bisa, banyak laptop yang mau diambil hari ini."


"Oh, begitu. Berarti Dika sekarang fokus kerja di bengkel, gak dagang motor kayak dulu lagi?"


"Iya, Mas. Gak mau lagi kerja ke luar kota kayak dulu. Pengen dekat keluarga katanya."


Bu Bakir diam - diam keluar dari ruangan itu, Bila yang melihatnya, segera mengikuti ibunya keluar.


"Bu, mau kemana?" tanya Nabila.


"Ibu ada perlu sebentar. Kamu temani aja Bapak dan Bulek Winda! Ibu mau ke kantin, beli tah anget, Ibu lagi masuk angin."

__ADS_1


Bila tak bisa membantah permintaan ibunya, karena itu dia segera kembali ke ruang tempat bapaknya dirawat. Sedang Bu Bakir berpura-pura pergi ke kantin, tapi sebenarnya, Bu Bakir tak mau bertemu Winda.


__ADS_2