Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 31


__ADS_3

Rika mulai bekerja di rumah Dika sebagai baby sitter bagi Tasya. Winda cukup puas dengan hasil kerja Rika, perempuan itu sangat telaten dan perhatian pada Tasya. Meskipun belum pernah memiliki anak, Rika dapat merawat Tasya dengan baik, hingga keduanya semakin akrab.


"Tante Rika ini istrinya Om Sueb kan?" tanya Tasya.


"Iya, emang kenapa, Sya?"


"Tasya kangen sama Om Sueb, udah lama gak datang ke bengkel Papa, kan Tasya jadi kesepian."


Tasya tampak sedih, sepertinya gadis kecil itu sangat merindukan Sueb. Sueb memang pribadi yang humoris, sangat menyayangi Tasya juga, mungkin karena Sueb juga merindukan seorang anak hadir dalam rumah tangganya.


Rika dan Sueb menikah hampir delapan tahun, tapi belum juga mempunyai momongan. Rika sengaja meminum obat penunda kehamilan tanpa setahu suaminya. Rika tak mau bentuk badannya yang bagus berubah, karena melahirkan.


"Om Sueb sudah gak di sini, Sayang. Dia kerja di tempat yang jauh banget, jadi gak bisa ke sini dulu untuk main sama Tasya."


"Pulangnya kapan, Tante?"


"Nanti, Sayang, kalau Om Sueb udah dapat banyak uang. Nanti pasti bawa oleh-oleh buat Tasya juga lho."


"Wah, asik kalau begitu, pasti nanti Tasya dibawain boneka beruang kutub, dulu Om Sueb udah janji."


"Janji apa?"


"Kalau udah punya banyak uang, Om Sueb janji mau beliin Tasya boneka beruang kutub yang gede."


Rika tersenyum mendengar jawaban Tasya,karena sebenarnya Rika mempunyai niat khusus untuk keluarga Dika. Tampaknya, Tasya bisa dia manfaatkan untuk mencapai tujuannya itu.


"Iya, nanti Tante Rika akan bilang ke Om Sueb ya, agar tidak lupa beli boneka buat Tasya."


"Makasih ya, Tante Rika."

__ADS_1


Tasya segera memeluk Rika sambil tersenyum bahagia, Rika juga balas memeluk Tasya sambil tersenyum, senyum yang licik.


Di tempat lain, Bu Bakir yang memutuskan tidak kembali bekerja di Jakarta, berusaha menyambung hidup dengan membuka warung nasi kecil-kecilan di depan rumah. Awalnya warung itu sepi, hanya satu dua tetangga yang membeli di tempat itu. Banyak orang menjadi enggan membeli di warung istri napi, begitu alasan mereka.


Lama-lama, warung itu mulai rame, karena pemikiran warga yang mulai berubah. "Yang napi kan suaminya, itupun sudah meninggal. Istri, anak dan mertuanya kan bukan napi, malah terkenal sebagai orang baik, yang tak segan untuk memberi bantuan," begitu kata kebanyakan orang.


Karena ramainya warung, kakek dan nenek Nabila ikut membantu. Nenek bertugas membuat minuman, sedang Kakek bertugas mengantarnya pada pembeli. Jika ada yang meminta delivery, Kakek siap dengan sepeda kumbangnya.


"Bapak gak capek, terpaksa membantu Nur di warung?" tanya Bu Bakir.


"Enggak kok, Nur. Justru Bapak tuh senang, jadi ada kegiatan, gak cuma duduk-duduk dan tiduran saja."


"Kalau capek, bilang ya, Pak! Nanti Nur akan pesan ojol aja untuk antar delivery. Nur gak mau, Bapak sampai sakit karena capek."


"Kan Bapak ngantar pesanan yang dekat-dekat aja, Nduk. Kalau yang jauh ya kamu bisa pakai ojol. Tapi, apa gak rugi kalau kayak gitu?"


Kakek menghela napas, saat teringat dengan nasib na'as yang menimpa menantunya. Niatnya cuma mau membantu korban begal, malah dituduh jadi tersangka, bahkan sampai meninggal di penjara.


"Tetanggamu itu, sekarang sudah gak pernah ke mari ya, Ndhuk?"


"Mana berani, Pak. Kan udah ketahuan, kalau Kang Bakir itu cuma nutupin salahnya dia. Untung saja gak ku laporkan ke polisi."


"Aturan kamu laporkan ada, Ndhuk! Biar dia dapat ganjaran dari perbuatannya."


"Nur gak punya bukti, Pak, kan cuma dengar cerita dari Kang Bakir. Jadi biar Tuhan aja yang nanti memberi dia hukuman. Seperti pada temannya yang tewas karena kecelakaan itu. Nur yakin kok, Pak, segala perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal. Apa yang ditabur orang, pasti akan dituai."


"Bapak senang, Nur, kamu punya prinsip kayak gitu, legowo dan gak menaruh dendam. Menyimpan akar pahit, atau kebencian, akan merugikan diri kita sendiri, Nur. Akan jadi halangan buat kita bangkit, karena kebencian cuma akan membuat kita berpikir balas dendam saja."


"Iya, Pak. Nur juga paham---"

__ADS_1


"Haduh, kalian berdua di sini tho ternyata. Itu lho, di warung banyak pembeli, Nenek sampai kewalahan, kalian malah enak-enak ngobrol di sini," gerutu Nenek kesal.


Bu Bakir bergegas pergi ke warung, dia tak mau para pelanggannya terlalu lama menunggu, sedang Kakek cuma nyengir, mendengar omelan istrinya.


Pulang sekolah, Nabila selalu membantu ibunya di warung, agar kakek dan neneknya bisa beristirahat. Mereka berdua sudah tua, tak baik bekerja terlalu berat, takutnya jatuh sakit.


"Gimana di sekolah, Ndhuk?" tanya Bu Bakir ketika Nabila membantu di warung.


"Ya masih seperti kemarin-kemarin, Bu, belum berubah," jawab Nabila seraya tersenyum.


Bu Bakir menghela napas, tak tega mendengar anaknya yang selalu mendapat perlakuan kurang menyenangkan akibat bapaknya seorang napi.


"Kamu yang sabar ya, Ndhuk! Semua cobaan kan tak akan melebihi kekuatan kita. Semua ada masanya, ada masa untuk menangis, ada masa untuk tersenyum, ada juga masa untuk tertawa. Lihat saja warung Ibu, kan kamu tau sendiri, awalnya kan juga sepi, sekarang bisa seramai ini. Orang-orang sudah tak menghiraukan cerita bapakmu yang seorang napi."


"Iya, Bu. Nabila juga gak mikirin hal itu kok. Nabila udah terbiasa gak punya banyak teman, dari dulu kan emang begitu. Yang penting masih ada Dessy, sahabat terbaik Nabila, yang selalu ada dan mendukung Nabila. Bersyukur banget punya teman sebaik dia."


"Baguslah kalau kamu bisa bersikap dewasa, Ndhuk. Tidak terlarut dalam kesedihan karena bapakmu. Ibu yakin, Tuhan akan membalas perbuatan orang-orang yang telah memanfaatkan bapakmu. Itu udah ada satu yang mendapat balasan kan? Tinggal seorang lagi, tunggu waktu saja."


"Benar, Bu. Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan kita akan diam saja, tinggal melihat mereka mendapat balasan atas perbuatannya."


Bu Bakir menepuk bahu anaknya pelan, merasa banga anaknya bisa legowo dan bersikap dewasa menghadapi semua cobaan yang menimpa keluarga mereka. Nabila juga masih berprestasi di sekolahnya, meski banyak masalah yang harus dihadapi keluarganya.


"Kapan-kapan, ajak Dessy main ke sini ya, Ndhuk! Ibu kangen banget sama dia, udah lama gak ketemu."


"Gampang itu mah, nanti kalau liburan, dia juga berencana menginap di rumah kita kok, Bu. Mama papanya kan sibuk bekerja jadi anak itu sering kesepian di rumahnya. Boleh kan, Bu?"


"Jelas boleh dong, justru Ibu merasa senang. Sekarang, kamu mau anterin pesenan Bu RT kan?"


Nabila mengangguk, dan bersiap mengantarkan pesanan pelanggan masakan ibunya dengan sepeda mininya.

__ADS_1


__ADS_2