Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 7


__ADS_3

Nabila dan Dessy tiba di kantin sekolah yang ramai, hampir semua tempat duduk telah terisi. Cuma ada satu meja yang masih ada tempat, Nabila segera ke sana, sedang Dessy memesan makanan.


"Kak, boleh gak, aku dan temanku gabung duduk disini? Tempat lain sudah penuh," pinta Nabila.


"Silakan, Dek. Sini, duduk sini! Mana temannya?"


"Masih pesan, Kak. Sebentar lagi pasti ke sini."


"Oh gitu. Nama kamu sapa Dek?"


"Saya Nabila, Kak. Ehmm...boleh gak, sekalian saya minta tanda tangan kakak-kakak ini?"


"Boleh dong, apa sih yang enggak buat cewek cantik kayak kamu. Kenalin, nama Kakak, Rio!"


"Duh, Si Rio, modus mulu deh. Selalu memanfaatkan kesempatan dan setiap kesempatan."


Teman-teman Rio semua tertawa, Nabila hanya berani tersenyum. Tak sopan rasanya tertawa bareng kakak kelas, apalagi mereka baru saja kenal.


Dessy tiba membawa mangkok dua mangkok bakso, semangkok diberikannya pada Nabila.


"Makasih, Dess."


"Sama-sama Bil. Kenapa kita jadi pindah kemari?"


"Oh, di sana gak muat, Dess. Tuh, Nissa dan teman-temannya aja sampai berdesakan gitu."


Nabila mengedipkan sebelah matanya, Dessy paham makna kode itu. Dia menghela nafas, geng Si Nissa memang tak bisa dilawan.


"Kamu gak minta tanda tangan juga, Dek?"


"Oh iya dong Kak, pasti. Perkenalkan, nama saya Dessy, Kak," kata Dessy sambil tersenyum manis.


"Sini, Dessy, mana buku mu? Biar Kak Rio cakep ini kasih tanda tangan!"


"Tuh kan, emang nih cowok satu, modus mulu," ledek teman Rio.


"Gapapa lah, namanya juga usaha, sapa tau kali ini berhasil," kata Rio tersenyum.


"Dah, yuk pada makan! Tar lagi udah masuk, kasihan tuh adik-adik, baksonya masih utuh, belum sempat dimakan."


Semua mulai makan dalam diam, demikian juga dengan Dessy dan Nabila yang merasa sungkan, duduk bareng dengan kakak kelas. Meskipun mereka semua ramah, tapi Nabila dan Dessy, tetap merasa tak nyaman.


Akhirnya, sekolah untuk hari berakhir juga. Bel pulang baru saja berbunyi, semua murid menghambur keluar dari dalam kelas.


"Kamu pulang naik apa, Bill?"


"Aku jalan kaki, Dess. Rumah kakekku tak jauh dari sini."


"Hem, gitu ya. Jadi kamu tinggal sama kakek, lha ortumu kemana?"


"Ortuku kerja di Jakarta. Jadi aku disini tinggal sama kakek dan nenekku."


"Kamu anak tunggal ya, Bill?"

__ADS_1


"Iya, Dess. Ibuku juga anak tunggal, karena itu aku disuruh tinggal sama kakek, buat jagain mereka. Maklum, kan sudah tau, takut kenapa-napa."


"Boleh gak aku minta tolong, Bill?"


"Minta tolong apa?"


"Temani aku nunggu jemputan ya, nanti kamu aku anterin pulang deh. Aku takut kalau nunggu sendirian!"


"Oke deh. Tapi nanti aku gak usah diantar gapapa deh, aku bisa pulang sendiri, kan dekat ini."


"Gapapa deh nanti ku antar, dari pada kamu panas-panas gini jalan kaki, sendiri lagi."


"Terserah kamu aja deh, Dess, kalau gitu."


Dessy dan Nabila menunggu jemputan Dessy sambil duduk di bawah pohon depan sekolah. Tak lama kemudian, tampak Rio lewat dengan motor maticnya. Melihat dua orang adik kelasnya yang tadi bareng di kantin, Rio menghentikan motornya.


"Hay, kalian pada mau naik apa nih?"


"Kami dijemput kok, Kak. Ini lagi nunggu," jawab Dessy.


"Oh gitu, ya udah deh. Kalian hati-hati ya, Kakak duluan."


"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan."


Rio berlalu dari tempat itu, setelah melirik Nabila yang tampak sedang melamun.


"Kamu kok diam aja sih, Bill?"


"Bingung aku, mau ngomong apa, lagian kan udah ada kamu yang mewakili," kata Dessy sambil tersenyum jahil.


"Ya itu, Nissa dan gengnya nyuruh aku pindah. Karena meja lain udah pada penuh."


"Kamu gak minta gabung aja sama mereka? Kan kita cuma berdua, aku rasa tempatnya masih muat."


"Udah kok, Des. Tapi mereka bilang, gak nyaman kalau ada orang lain selain geng mereka yang ikut gabung."


"Hadeh, alasan aja tuh. Terus terang, Bill, aku tuh gak suka sama mereka. Terutama yang namanya Nissa itu. Kayak gimana ya orangnya? Pokoknya gak suka aja deh aku."


"Biarin aja deh, Dess! Mending kita menghindar aja dari mereka, gak usah dekat-dekat!"


"Ehh, itu jemputan aku udah datang, Bill. Yuk, kamu aku anterin!"


Dessy mengandeng tangan Nabila, dan menghampiri sebuah mobil mewah yang baru saja menepi. Dalam hati Nabila kagum, ternyata teman barunya ini anak orang berada, tetapi dia bisa bersikap biasa saja, jauh dari kesan sombong.


"Rumah aku masuk ke dalam gang, Dess. Mobil gak bisa masuk ke sana."


"Nanti aku boleh kan, antar kamu sampai rumah? Aku pengen tau gimana kamu tinggal."


"Tapi harus jalan kaki, gapapa?"


"Ya gapapa lah, Bill. Kan aku juga bisa jalan sendiri, tak perlu digendong."


"Rumahku di gang depan itu, Dess."

__ADS_1


"Pak Somad, berhenti di gang depan ya!"


"Siap, Non."


"Tunggu sebentar ya, Pak! Saya mau ke rumah Nabila, cuma mau tau aja rumahnya yang mana."


"Iya, Non. Bapak akan tunggu disini."


"Makasih ya, Pak. Sudah diantar pulang," kata Nabila.


"Iya, Neng. Sama-sama."


Nabila dan Dessy berjalan masuk ke dalam gang, sementara Pak Somad menunggu di depan gang.


"Ini rumah ku,Dess. Masuk dulu yuk!"


"Kapan-kapan aja ya,Bill. Yang penting kan aku udah tau rumah kamu. Kasian Pak Somad, kalau nunggu lama."


"Ya udah kalau gitu, makasih ya, Des, udah nganterin aku pulang."


Iya, aku juga terima kasih, tadi kamu udah nemenin aku nunggu Pak Somad. Aku pulang dulu ya, Bill."


"Iya, Dess, hati-hati di jalan. Sampai ketemu besok di sekolah."


Dessy melambai dan segera berlalu meninggalkan rumah Nabila. Setelah Dessy hilang di balik tikungan, Nabila segera masuk ke dalam rumah.


"Siang, Kek."


Sapa Nabila pada kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu. Di ciumnya tangan Sang Kakek dengan takzim.


"Tadi Kakek dengar, kamu lagi ngobrol sama seseorang, apa itu temanmu, Ndhuk?"


"Iya, Kek. Namanya Dessy, tadi dia yang nganterin Nabila pulang."


"Kok gak kamu ajak masuk rumah?"


"Dia buru-buru, Kek. Sopirnya menunggu di depan gang, gak enak katanya kalau lama-lama."


"Oh, gitu. Yaudah kalau gitu, cepat ganti baju sana, terus makan! Nenekmu tadi masak sayur lodeh dan bakwan jagung. Sambelnya juga mantap sekali!"


"Wah, jadi lapar Nabila mendengarnya. Bila ganti baju dulu ya, Kek."


"Iya, Nduk. Kalau kamu ke sini, sekalian bawain pisang goreng di meja dapur ya, Nduk!"


"Iya ,Kek."


Rumah Kakek Nabila tak mempunyai ruang makan secara khusus. Biasanya setelah mengambil makanan di meja dapur, mereka akan membawanya ke ruang tamu, untuk dimakan di situ.


Nabila membawa dua piring, satu berisi makan siangnya, satu lagi berisi pisang goreng buat kakeknya.


"Ini, Kek, pisang gorengnya."


Nabila menyodorkan piring pisang pada kakeknya. Orang tua itu segera mengigit sebuah di antaranya.

__ADS_1


"Kalau melihat mu, Kakek jadi ingat ibumu, Ndhuk. Kalian berdua begitu mirip."


Nabila terdiam, tiba-tiba saja rasa rindunya pada Sang Ibu tak bisa dibendung."


__ADS_2