
Di rumah Dika, Rika mulai menunjukkan sifat aslinya, sejak tinggal di rumah majikannya. Bik Sari adalah orang pertama yang dibuat kesal oleh pengasuh Tasya itu. Rika mulai bersikap seperti majikan, suka memerintah Bik Sari seenak udelnya.
"Bik, bikinin aku teh anget dong, perutku gak enak nih!" kata Rika sambil menghempaskan bokong ke kursi makan.
Bik Sari yang sedang sibuk menyiapkan makan siang, menjadi kesal, dan tak menghiraukan permintaan Rika. Rika yang sedang asik memainkan ponsel, kembali mengulang permintaannya.
"Bik, dengar gak sih? Bikinin aku teh anget!"
Bik Sari masih tetap pura-pura tak mendengar, perempuan tua itu mengaduk sop ayam yang sedang dia masak dengan kesal.
"BIK!! BIKININ AKU TEH ANGET!!"
"EHH, SITU SIAPA?? MAIN SURUH-SURUH SEENAKNYA? KITA DI SINI SAMA-SAMA BABU, DERAJAT KITA SAMA. SITU GAK BISA SURUH-SURUH KAYAK MAJIKAN GITU."
Emosi Bik Sari tak dapat lagi ditahan, setelah Rika membentak perempuan tua itu. Dengan berkacak pinggang, Bik Sari balik membentak Rika. Rika terkejut, tak menyangka Bik Sari berani berkata dengan nada kasar seperti itu.
"DENGAR YA, BIK! YANG BABU ITU, BIK SARI, BUKAN AKU. JADI, DERAJAT KITA GAK SAMA!"
"SITU BUKAN BABU? TERUS APA? NYONYA RUMAH? NGACA DONG!"
"Dengar ya, Bik! Aku---"
Rika belum menyelesaikan kata-katanya ketika Bik Sari memukul meja makan dengan talenan yang baru dia gunakan sebagai alas memotong-motong ayam. Rika sampai berjingkat karenanya, nyali wanita itu ciut, menghadapi Bik Sari yang tampak seram.
"Dengar ya, perempuan s*al! Aku tau tujuanmu datang di keluarga ini, untuk menganggu rumah tangga Bapak dan Nyonya, kan? Mereka sudah ku anggap anak-anakku, aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang menganggu mereka!"
Bik Sari berkata sambil memainkan pisau di tangannya, seketika nyali Rika menjadi ciut. Wanita itu lari terbirit-birit ke kamarnya, membuat Bik Sari tertawa ngakak sambil memegang perutnya.
Winda yang baru datang bersama Dika dan Tasya, merasa heran melihat Bik Sari yang masih terpingkal.
"Nenek ngetawain apa?" tanya Tasya heran.
"Oh, itu lho Ndhuk, tadi Nenek teringat acara di teve, ada bebek lari dikejar anjing, larinya geal-geol gitu, lucu sekali," jawab Bik Sari.
Tasya sudah terbiasa memanggil Bik Sari dengan panggilan nenek, karena Bik Sari memang seumuran dengan orang tua papa dan mamanya.
__ADS_1
"Wah, Tasya juga pengen lihat juga, Nek. Pasti lucu sekali, sampai Nenek tertawanya seru kayak gitu."
"Iya, nanti kalau di teve ada lagi, Tasya Nenek kasih tau deh. Sekarang ganti baju, cuci tangan, terus makan! Nenek sudah masak sop ayam istimewa buat Tasya!"
"Wah, Tasya suka sop ayam. TANTE RIKA, AYO GANTI BAJU TASYA, TASYA PENGEN CEPET-CEPET MAKAN SOP AYAM!"
Tasya berlari ke kamar Rika, dan mendapati pengasuhnya itu sedang menangis di kasurnya.
"Lho? Tante kenapa? Apa ada yang nakal?" tanya Tasya sambil mendekat.
Rika membuat tangisnya semakin keras, agar terdengar oleh Winda dan Dika yang sedang bercakap-cakap dengan Bik Sari di dapur.
"Cup...cup...cup! Udah Tante jangan nangis, nanti yang nakal sama Tante, Tasya c*bit deh!" kata Tasya lucu.
Rika hampir saja tertawa, tapi ditahannya, wanita itu sedang mencari simpati dari anak asuhnya.
"Tadi, Tante dib*ntak-b*ntak sama Bik Sari, Sya. Bik Sari itu jahat sama Tante, jadi Tante mau pergi saja dari sini," Rika masih berakting menangis.
"Lha kenapa Nenek begitu? Sama Tasya, Nenek gak pernah marah-marah. Nenek itu baik, Tante, suka masakin sop ayam buat Tasya," kata Tasya polos.
Tiba-tiba, Bik Sari sudah berdiri di depan pintu kamar Rika, sambil berkacak pinggang.
"Tasya, kamu di panggil Mama tuh, Nduk! Ganti baju sama Mama saja ya!" kata Bik Sari lembut.
"Oke, Nek."
Tasya berlari dari kamar Rika, menghampiri mamanya yang segera mengandeng tangannya ke kamar. Bik Sari masuk ke dalam kamar Rika, dan berdiri dengan melotot di depannya.
"Heh, perempuan g*tel, jangan coba-coba meracuni pikiran anak kecil dengan pikiran licik mu, ya! Kamu belum tau berhadapan dengan siapa, aku bisa men*ndangmu dari rumah ini sekarang juga. Bapak dan terlebih Nyonya, akan lebih mendengarkan kata-kataku dari pada racun yang kamu sebar."
Rika sejenak merasa takut dengan gertakan Bik Sari, tapi wanita itu menguatkan hati agar tampak berani. Tak mau dia rencananya gagal karena wanita tua yang kini berdiri di hadapannya.
"Kita lihat saja, kau, atau aku yang bakal di depak dari tempat ini!"
Rika menyenggol bahu Bik Sari kasar, kemudian akan berlalu ke luar kamar. Tapi tangan Bik Sari lebih sigap, wanita itu menarik rambut Rika hingga pemiliknya mendongak ke belakang, kemudian keluar mendahului Rika yang meringis sambil memegang kelapanya.
__ADS_1
Bik Sari tersenyum puas, sambil membuang rambut Rika yang tertinggal di tangannya, kemudian wanita tua itu mencuci tangan.
Rika tidak jadi keluar dari kamar, wanita itu memutuskan tetap merajuk, untuk menarik perhatian kedua majikannya.
"Wah, enak nih, sop ayam dan kerupuk udang. Ada perkedel kentangnya gak, Bik?" tanya Dika sambil duduk di kursi.
"Ah, Bibi sampai lupa, Pak. Sebentar, Bibi ambil dulu di belakang."
Bik Sari berlalu, Winda dan Tasya sudah bergabung di meja makan.
"Lho, Tante Rika mana, Sya?" tanya Dika.
"Tadi Tante Rika menangis di kamarnya, Pa. Kata Tante Rika, dia habis dimarahi Nenek."
Dika ingin bertanya lagi, tapi melihat Bik Sari yang datang membawa sepiring perkedel kentang, membuat pria itu mengurungkan niatnya.
"Duduk, Bik! Kita makan bareng-bareng menu spesial ini!"
"Siap, Pak Dika."
Mereka berempat makan dengan lahap, sambil ngobrol dan bersenda gurau. Dika dan keluarganya memang tak menganggap Bik Sari sebagai asisten rumah tangga, tapi sebagai orang tua, pengganti ibu.
Rika yang mendengar obrolan mereka dari kamarnya, semakin merasa kesal. Niatnya sudah bulat, ingin menyingkirkan perempuan tua itu, agar tujuannya terlaksana.
"Enak sekali masakan Nenek, sama kayak masakan Budhe. Tasya kangen sekali sama Budhe, kapan kita main lagi ke sana, Ma?"
Pertanyaan Tasya seketika menghentikan gerakan kedua orang tuanya untuk menyuap nasi ke mulutnya, kedua orang itu tampak tegang. Bik Sari yang menyadari keanehan sikap kedua majikannya, turut menghentikan makannya.
"Ma? Pa? Kapan kita ke rumah Budhe?"
Winda adalah orang pertama yang tersadar dari rasa terkejut, menjawab pertanyaan anaknya.
"Nanti, kalau Tasya libur sekolah, kita ke rumah Budhe."
Tasya bersorak mendengar jawaban mamanya, tapi Bik Sari menangkap ada sesuatu yang janggal.
__ADS_1