
Keadaan Pak Bakir di penjara sedang tidak baik-baik saja. Sakit paru-paru basah yang dulu pernah dideritanya, kembali menyerang tubuh renta nya. Saat ini, Pak Bakir sedang terbaring di klinik lembaga pemasyarakatan.
"Sus, bisa minta tolong?" kata Pak Bakir pada perawat.
"Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu?"
Perawat itu tampak ramah, wajahnya yang selalu tampak tersenyum, membuat pasien yang dirawatnya merasa nyaman.
"Saya ingin bertemu dengan anak saya, Sus. Saya kangen banget sama dia. Tolong suster hubungi tetangga saya yang namanya Pak Dika, bisa kan, Sus?"
"Oh, bisa kok, Pak. Nanti saya cari dulu kontaknya Pak Dika ya."
"Makasih ya, Sus."
"Sama-sama, Pak. Sekarang Bapak istirahat dulu ya, biar lekas pulih. Masa ketemu anak dalam keadaan sakit kayak gini, kan kasian anaknya, nanti kepikiran!"
"Iya, Sus. Saya akan nurut kok sama Suster, saya juga gak mau, Nabila lihat saya dengan keadaan kayak gini."
"Nah, gitu dong, semangat. Obatnya sudah diminum kan, Pak?"
"Sudah, Sus. Tadi habis makan, saya minum obat."
"Bagus, sekarang Bapak istirahat ya! Sebentar lagi saya akan hubungi Pak Dika."
"Iya, makasih banget ya, Sus."
"Sama-sama, Pak."
Suster meninggalkan Pak Bakir sendirian di ruang rawat. Pak Bakir menghela nafas, ternyata menjadi seorang napi sangat berat. Kerinduan yang menganak gunung karena tak bisa bertemu dengan orang yang disayang, adalah beban terberat yang harus bisa ditanggungnya.
*****
Dika sedang mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Pikirannya sedang kusut. Telepon dari LP yang mengabarkan Pak Bakir sedang sakit dan sangat berharap bertemu Nabila membuatnya merasa sangat bersalah. Bagaimanapun, beban yang ditanggung Pak Bakir saat ini, sebenarnya adalah bebannya.
"Kenapa, Pa? Kok kelihatannya suntuk banget?"
"Pak Bakir sakit, Ma. Dia pengen banget ketemu sama Nabila."
"Ya, Papa hubungi saja Nabila, biar dia kesini!"
"Kata perawat yang tadi hubungin papa, Pak Bakir itu lagi sekarat, Ma. Waktunya gak akan lama lagi. Maksud Papa, mau sekalian hubungin Mbak Yu, sebelum semuanya terlambat."
"Ya Papa telpon Mbak Yu juga, di Mama ada kok nomer teleponnya. Tar deh, Mama kirim ke Papa ya."
Winda mencari nomer telepon Bu Bakir di ponselnya, kemudian mengirimkannya pada Dika.
"Mama aja deh, yang nelpon Mbak Yu. Papa susah ngomongnya, kalau Mama kan lebih enak, sama-sama perempuan."
__ADS_1
"Kasih tau juga, gimana kondisi Pak Bakir yang sebenarnya?"
"Iya, kalau gak gitu, Papa yakin Mbak Yu gak bakal mau datang."
"Baiklah, sebentar, Mama telpon Mbak Yu."
Winda menelepon Bu Bakir, untuk mengabarkan keadaan Pak Bakir yang sedang sakit parah. Bu Bakir menyanggupi untuk segera pulang ke Jawa.
"Udah, Pa. Mbak Yu bilang, dua tiga hari ini, dia bakal nyampai di sini."
"Bagus deh kalau gitu, Ma. Papa bisa sedikit lega. Papa merasa sangat bersalah pada mereka, karena Papa, mereka mengalami nasib kayak gini."
"Maksud Papa apa?"
"Ah, enggak. Maksudnya, kan kalau Nabila di sini kan enak, kalau bapaknya kangen, bisa lebih cepet ketemunya."
Dika lega, bisa menemukan alasan yang tepat untuk menutupi keceplosan yang baru dia katakan.
*****
"Kak, Nabila mau jujur nih sama Kakak."
Rio memandang Nabila dengan heran. Keduanya sedang makan bakso di alun-alun kota. Menghilangkan kepenatan setelah sepuluh hari menghadapi ujian semester.
"Jujur tentang apa nih?"
"Jadi itu beneran?"
"Beneran, Kak."
Rio menghela nafas, selama ini memang dia belum mengenal benar keluarga dari cewek yang menjadi pacarnya. Tapi kenyataan bapak Nabila adalah seorang napi, cukup membuatnya tertekan.
"Apa kasusnya?"
"Bapak menemukan seorang wanita yang sedang terluka di jalanan yang sepi waktu ngojek. Di gagang pisau yang melukai wanita itu, hanya ada sidik jari bapak dan wanita itu saja. Waktu itu, karena panik, bapak berusaha mencabut pisau itu."
"Jadi? Sebenarnya bapak kamu cuma korban salah tangkap?"
"Ya begitulah. Tapi Bapak tak bisa mengelak, karena bukti yang ada."
Nabila mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di sudut matanya. Membahas lagi kisah bapaknya serasa membuka kembali luka yang hampir sembuh. Telepon dari ibunya, yang mengatakan keadaan Bapak, membuat Nabila memutuskan berterus terang pada Rio.
"Jadi, sekarang bapakmu di LP mana?"
"Di kota tempat dulu Nabila tinggal."
Nabila mulai terisak, kerinduannya pada Sang Bapak, membuat Nabila tak mampu lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
"Kamu mau, kita ke sana menjenguk bapakmu?"
"Besok, Ibu akan pulang dari Jakarta. Lusa kami akan jenguk Bapak. Kata Om Dika, yang dapat kabar dari LP, Bapak sedang sakit parah, kemungkinan besar, Bapak gak mungkin bertahan."
Rio memeluk bahu Nabila, untuk menguatkan gadisnya itu.
"Kalau begitu, lusa aku ikut deh. Nanti aku antar kamu dan ibumu pakai mobil."
Nabila memandang penuh terima kasih pada Rio. Tak disangkanya, Rio bisa menerima keadaan bapak Nabila dengan bijak, tidak menghakimi seperti teman-teman SMP nya dulu.
"Makasih ya, Kak."
"Iya, sama-sama, Bil."
*****
"Bang, beliin tas yang matching sama gamis yang kemarin dong!"
Istri Sueb duduk manyun di samping suaminya yang lagi duduk sambil ngopi di ruang tamu.
"Abang belum ada lagi duitnya, kan Abang belum dapat kerjaan juga."
"Lha katanya kerja di bengkel komputer?"
"Kan di situ gajinya kecil, Sayang. Gak cukup kalau buat beli tas branded seperti yang kamu mau. Kemarin aja, beli gamis itu juga duit hasil nemu."
"Ya Abang cari kerjaan lah! Gak bosan apa, jadi pengangguran mulu."
"Kamu kira gampang cari kerjaan, heh?"
"Gampang lah, buktinya orang-orang lain kan bisa, kenapa Abang enggak?"
"Orang-orang lain itu sekolahnya pada tinggi-tinggi. Abang kan cuma lulus SMP, kan kamu juga tau, susah dapat kerjaan cuma ngandelin ijasah SMP."
Sueb mulai merasa tersinggung dengan omongan istrinya yang dinilai terlalu menuntut.
"Itu mah alasan Abang aja. Pokoknya gak mau tau, aku mau dibeliin tas, kalau enggak, aku pulang aja ke rumah Papa!"
"Gak sekalian minta cerai aja?" Sueb mulai marah.
"Ide bagus tuh, lagian aku juga udah bosen hidup susah."
"Oke, kali ini aku kabulkan tuntutan kamu, aku juga udah bosen punya istri matre!!"
Sueb meninggalkan rumah dengan membanting pintu depan. Hatinya merasa sangat sakit, wanita yang sangat dicintainya, sampai membuatnya rela melakukan perbuatan yang melanggar hukum, ternyata tak pernah menghargai usahnya.
Masih ada sisa uang dari dompet yang kemarin Sueb temukan. Dengan hati penuh emosi, Sueb melangkahkan kaki menuju warung remang-remang. Sueb ingin mencari kebahagiaannya di sana, meskipun hanya sekejab.
__ADS_1