Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 32


__ADS_3

"Kak Rara, tunggu!"


Dessy berlari kecil menghampiri Rara yang menghentikan langkah karena panggilannya. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju kelas mereka yang searah.


"Kok kamu sendirian, Dek? Teman kamu yang biasanya mana?"


"Nabila kan rumahnya di dekat sini, Kak. Biasanya dia sudah berangkat pagi-pagi, karena harus jalan kaki dan mampir ke beberapa warung untuk menitipkan dagangan ibunya."


"Oh begitu, kirain rumahnya dekat sama kamu, karena aku sering lihat kalian berdua nunggu jemputan bareng."


"Itu aku yang minta ditemani, Kak. Kan gak enak nunggu sendirian."


"Btw, temanmu itu mantannya Rio kan, Dek?"


"Nah, itulah yang ingin ku bicarakan sama Kakak. Tapi aku gak mau kalau Nabila sampai tau, bisa dibejek-bejek aku, Kak. Apa Kakak ada waktu buat ngobrol sama aku?"


"Kalau kita ngobrolnya di sekolah, temanmu itu pasti tau, Dek. Gimana kalau kita ngobrolnya di luar aja?"


"Boleh, Kak, boleh. Dimana enaknya?"


"Di kedai mie ayam yang di ujung jalan aja gimana?"


"Boleh deh, kapan enaknya?"


"Nanti aja, sepulang sekolah, aku tunggu kamu di sana. Gimana?"


"Oke, Kak, siap."


Setelah sepakat untuk bertemu di kedai mie ayam sepulang sekolah, Dessy dan Rara berpisah menuju kelas masing-masing.


Sampai di kelas, Dessy melihat Nabila sibuk dengan ponselnya, gadis itu tampak sedang serius mengetik sesuatu di sana. Dessy mendekat dan membuat Nabjla kaget, karena ponselnya direbut paksa.


"Haduh, Dessy ini, bikin kaget aja. Mana balikin ponselku cepat, keburu hilang nih ide," kata Nabila manyun.


"Kamu lagi ngapain sih, Bil?"


"Kemarikan saja ponselku bentar, nanti ku kasih tau! Aku cuma perlu ngetik beberapa kalimat lagi nih."


Dessy memberikan ponsel Nabila, dan kembali gadis itu tampak serius mengetik sesuatu. Setelah beberapa saat, Nabila memberikan ponselnya pada Dessy.


"Ini apa sih, Bil? Kok kayak cerbung gini?"

__ADS_1


"Itu memang cerbung, Dess. Aku menulisnya di aplikasi untuk baca novel secara online, lumayan sih, bisa dapat uang jajan. Meskipun gak banyak, tapi lumayan untuk ngisi kegabutan."


"Wah, hebat kamu, Bil. Ternyata kamu punya bakat terpendam, dan bisa menghasilkan cuan."


"Iseng aja aku, Dess. Cuma mengeluarkan uneg-uneg, biar gak jadi jerawat."


Keduanya tertawa, menertawakan humor receh Nabila, tapi membuat mereka berdua merasa terhibur.


"Kalau aku mau baca karyamu, bagaimana caranya, Bil?"


"Ya kamu tinggal download aplikasinya, NovelToon, lalu kamu cari karya aku. Lebih gampang carinya lewat nama pena, tar muncul semua judul novel-novel yang sudah ku tulis."


"Oke, tunggu sebentar ya, aku lagi download nih!"


Nabila hanya tersenyum, sambil menunggu Dessy selesai mendownload, Nabila membaca komentar-komentar yang masuk. Dari situ, Nabila bisa mengetahui reaksi dari para pembacanya, juga kritik dan saran yang dipakainya sebagai acuan untuk memperbaiki karya-karyanya.


"Udah nih, Bil. Tapi aku cari nama penulis Nabila kok gak ada ya?"


"Kan aku pakai nama pena, Dess, bukan nama asli."


"Apa nama penamu?"


"Dapat inspirasi dari mana, tuh nama?"


"Dari cerita Ibu, beliau dulu ingin kasih nama itu ke aku, cuma bapakku gak setuju. Padahal artinya bagus tuh."


"Apaan?"


"Inti sari bunga pembawa damai."


"Harusnya sih kamu pakai nama itu saja, Bil, biar gak ribut mulu, damai."


"Emang aku pernah ribut, Dess? Kan gak pernah juga toh?" Nabila kembali cemberut mendengar komentar Dessy.


Obrolan mereka, segera berakhir, karena Bu Yanti yang akan mengajar di jam pertama sudah tampak memasuki kelas.


Saat istirahat telah tiba, Dessy memutuskan pergi ke kantin, sedang Nabila tetap di kelas memakan bekalnya. Kali ini Nabila membawa bekal, karena sedang berhemat, ada sesuatu yang ingin dia beli, dan tak mungkin meminta uang pada ibunya.


Nabila cukup tau diri, keluarganya bukanlah orang kaya, untuk makan sehari-hari saja, asal cukup, membuat Nabila sangat bersyukur.


"Tumben gak ikut si Dessy ke kantin, Bil?" tanya Raka, teman sekelas yang mendekat ke arah bangku Nabila.

__ADS_1


"Enggak, Ka, aku sudah bawa bekal. Kamu sendiri gak ke kantin?"


"Malas aja, makanan di kantin gitu-gitu doang, murahan."


Nabila melirik sebentar ke arah Raka, teman sekelasnya itu memang anak orang kaya, dan terkenal sangat sombong. Beberapa teman yang kerap menerima hinaan dari Raka, melirik sekilas pada Nabila dan Raka, mereka penasaran, hinaan apa yang akan diterima anak napi itu.


"Oh, begitu," jawab Nabila singkat.


"Ngomong-ngomong, kamu berteman sama Dessy itu, tujuanmu buat morotin dia kan?"


"Maksud kamu apa, Rak?"


"Gak usah munafik lah jadi orang. Dessy itu anak orang kaya, meskipun dia gak pernah nunjukin. Tapi aku tau, karena papaku berteman baik dengan papanya Dessy. Mereka sering terlibat kerja sama yang hasilnya tuh ratusan juta."


"Terus?" kali ini Nabila tak dapat menyimpan nada merah pada ucapannya.


"Terus ya udah kebaca aja tujuanmu berteman sama Dessy, apalagi kalau bukan untuk mengincar hartanya. Kamu kan cuma anak seorang napi, aku yakin kamu juga miskin, jadi wajar saja kalau mau manfaatin Dessy."


Nabila menjadi marah mendengar perkataan Raka, semua tuduhan cowok itu tidak benar, Nabila berteman dengan Dessy itu tulus, tanpa memandang orang tua Dessy yang kaya raya. Beberapa teman sekelas yang ikut mendengar omongan Raka, tampak mencibir. Mereka baru tau, kalau Dessy anak orang kaya, jadi tak mustahil andai Nabila cuma memanfaatkannya.


"Aku gak pernah punya niat kayak gitu, Rak. Aku berteman dengan Dessy itu tulus, gak memandang dia anak orang kaya. Dessy orangnya baik dan tulus dalam berteman, itu saja alasannya."


"Udahlah Nabila, gak perlu kamu ngeles lagi, semua orang di kelas ini tau kok, akal bulusmu. Ya kan, teman-teman?"


Raka memandang ke sekeliling kelas, hampir semua setuju dengan perkataan Raka, hanya beberapa orang saja yang menatap Nabila dengan sorot mata prihatin.


"Terserah kamu mau bilang apa, Rak. Aku sih bodo amat dengan pemikiran kalian. Yang penting aku gak punya niat seperti itu."


Nabila kembali melanjutkan makan bekal yang tadi dibawanya dari rumah, nasi goreng sosis masakan ibunya dan makanan favoritnya. Nabila juga menulikan telinganya, berpura-pura tak mendengar sindiran teman-temannya.


Dessy yang baru kembali dari kantin, menangkap suasana tak menyenangkan, ketika masuk ke dalam kelas. Hampir semua mata memandang Dessy dengan tatapan aneh.


"Ada apa sih, Bil, kok suasana di kelas ini terasa aneh?" tanya Dessy sambil duduk di samping Nabila.


"Tuh si Raka, nuduh aku berteman sama kamu tuh ada maunya."


Dessy melihat ke arah Raka, dan tampak cowok itu menyeringai licik. Dessy menghampiri Raka, dan memberi hadiah padanya.


PLAK...PLAK


Dua kali tamparan di kedua pipi Raka, membuat mata semua orang di tempat itu terbelalak kaget.

__ADS_1


__ADS_2