
Setelah pulang dari jalan-jalan ke mall waktu itu, Dika semakin menjaga jarak dengan Rika. Pria itu sengaja berangkat ke bengkel pagi-pagi sekali, terkadang sebelum Rika datang ke rumahnya. Dan memilih pulang menjelang malam, setelah Rika pulang kembali ke kontrakannya.
Tentu saja Rika merasa kesal, karena tujuan sebenarnya Rika bekerja di tempat itu, agar bisa dekat dengan Dika. Ada sebuah rencana di kepalanya, rencana licik, tentu saja.
Winda tentu saja merasa heran dengan kelakuan suaminya, tak biasanya Dika berbuat seperti itu. Bahkan, pria yang sudah bersamanya sewindu ini, rela berhenti dari pekerjaannya di luar kota, agar punya banyak waktu untuk keluarganya. Tapi, jika kenyataannya seperti sekarang ini, tentu saja Dika tak pernah lagi punya waktu untuk keluarga kecilnya.
Si kecil Tasya, tentu saja semakin bawel, karena jarang bertemu dengan papanya. Jangankan diajak jalan-jalan, ngobrol saja sangat jarang. Dika pergi ketika Tasya belum bangun tidur, dan pulang ketika gadis kecil itu sudah terlelap.
"Ma, kenapa Papa sekarang jadi jarang di rumah lagi, sih?" tanya Tasya kesal.
"Papa banyak kerjaan di bengkel, Sayang, jadi pulangnya malam-malam, saat kamu sudah bobo," dusta Winda.
"Tapi kan Tasya kangen sama Papa, Ma. Nanti pulang sekolah, Tasya ke bengkel ya?"
"Nanti Tasya malah gangguin Papa di bengkel, Papa malah sibuk ngurus Tasya, gak kerja-kerja dong!"
"Enggak, Tasya cuma mau ketemu Papa aja, Tasya kangen sama Papa. Boleh ya, Ma?"
Wajah Tasya yang tampak sedih karena merindukan papanya, membuat Winda tak tega, jika menolak permintaan anaknya.
"Ya udah, kalau begitu nanti pulang sekolah, biar Tante Rika antar Tasya ke bengkel Papa, ya. Tapi di sana jangan lama-lama ya, Sayang, biar Papa kerjanya gak terganggu!"
"Oke, Mama."
Tasya memeluk dan mencium pipi mamanya dengan gembira. Rika yang mendengar percakapan itu dari balik dinding, tersenyum licik.
Di sekolah, teman-teman yang lain masih tetap memandang sinis pada Nabila dan Dessy. Dessy? Ya, sejak peristiwa berantem dengan Raka tempo hari, banyak teman yang mulai menjauh dari Dessy. Gadis yang sebelumnya dinilai lembut dan pendiam, bahkan terkesan cupu, tiba-tiba berubah menjadi gadis yang sok dan arogan. Hampir semua orang, menuduh perubahan Dessy terpengaruh oleh Nabila, si anak napi.
"Dess, kamu merasa tidak, kalau teman-teman memandang sinis, bukan cuma ke aku, tapi ke kamu juga."
"Merasa kok, Bil. Emang kenapa?"
"Ya aku gak enak aja, Dess. Gara-gara berteman denganku, kamu jadi dijauhi sama teman-teman yang lain. Mending juga kamu jaga jarak sama aku, Dess!"
"Kalau mau ngomong itu, mbok ya pakai otak dong, Bil! Kan sayang, kalau otak pinter kamu itu gak dipakai."
Nabila merasa sedikit kesal dengan omongan Dessy, dia tak tahu letak kesalahannya dimana, hingga Dessy mengatakan dia tak memakai otaknya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Dess?"
"Lha kamu ngomong kayak gitu ke aku, padahal dari awal juga kan semua sudah sinis ke aku, gak mau berteman denganku juga. Cuma kamu, Bil, yang bersedia menjadi temanku."
Nabila menghela napas. Dessy benar, dari awal mereka berdua memang sudah dijauhi oleh teman-teman yang lain, karena berasal dari keluarga miskin. Bahkan Dessy sengaja berdandan seperti gadis cupu, hingga tak ada yang menyangka, kalau sebenarnya anak orang berada.
"Tapi...tapi kan gak kayak sekarang, Dess. Mereka makin gak suka sama kamu, kalau dulu kan masih mau sekedar menyapa atau ngobrol, sekarang gak sama sekali."
"Udah deh, Bill, gak usah bahas yang gak penting kayak gitu! Yang penting, nanti sore jam 4, kamu dandan yang cantik! Aku sama mamaku akan jemput kamu."
"Emang mau kemana?"
"Jenguk anak teman Mama, bukan ke rumah sakit kok, tapi ke rumahnya."
"Kok pakai ngajak aku?"
"Karena aku ogah sendiri, tar di sana bisa jadi kambing congek. Jadi aku usul ke Mama, buat ajak kamu, biar aku ada teman. Lagian, mamaku pengen kenal sama kamu."
"Ta...tapi, Des, aku---"
"Gak ada tapi-tapian, mamaku udah tau semua tentang kamu, aku udah cerita. Malah Mama suruh aku untuk mendukung dan memberi semangat ke kamu."
"Iya, Sayang. Aku udah cerita semuuaaa ke Mama. Termasuk bapakmu yang sebenarnya hanya korban fitnah."
"Terus?"
"Nubruk."
"Maksudku, apa mama kamu masih memperbolehkan kamu berteman dengan aku?"
"Kenapa tidak?"
"Kan aku cuma anak tukang warung, Dess. Apa kamu gak malu, berteman denganku? Kita tuh gak di level yang sama lho."
"Duh, bawel! Pokok kamu nanti siap-siap aja deh jam 4, nanti ku jemput. Sekarang gak usah banyak nanya lagi, capek jawabnya!"
Nabila cuma bisa menggerutu, sedang Dessy memakai earphone supaya tak mendengar omongan Bila. Keduanya kemudian sibuk dengan ponsel masing-masing, Nabila menulis novel, Dessy membaca novel.
__ADS_1
Rika dan Tasya sampai di bengkel tempat Dika bekerja. Setelah menjemput Tasya dari sekolah, Rika langsung membawanya ke bengkel.
"Ngapain Mbak Rika bawa Tasya ke sini? Aku sedang banyak kerjaan, Mbak, nanti malah digangguin sama Tasya!!" kata Dika geram.
"Mbak Winda yang suruh kok, Mas."
"Gak mungkin mamanya Tasya nyuruh kayak gitu, pasti cuma akal-akalan Mbak aja."
"Tanya aja ke Tasya kalau gak percaya, anak kecil kan gak mungkin bohong!"
"Benar, Tasya? Mama yang suruh Tante Rika bawa Tasya ke sini?"
"Iiiiya, Pa. Tapi...?"
"Tapi apa, Sayang?"
"Tante Rika yang suruh Tasya agar minta ke mama diantar ke bengkel."
Dika mendelik marah pada Rika, sedang Rika tak menampakkan rasa bersalah sedikitpun, hal ini membuat Dika semakin geram.
"Apa maksud Mbak Rika sebenarnya, jawab?!"
"Gak ada maksud apa-apa kok, Mas. Tasya setiap hari mengeluh, karena jarang bertemu papanya, dia kangen. Jadi aku bilang aja, minta ijin Mama buat main sebentar ke bengkel papanya," jawab Rika masih tetap santai.
"Ya udah kalau gitu, Mbak sekarang pulang aja! Nanti biar Tasya pulang sama saya, sekalian saya mau makan siang di rumah."
"Kalau Tasya di sini, aku ngapain di rumah, Mas?"
"Ya terserah! Bisa bantu Bibi nyuci dan gosok kan bisa."
"Aku bukan pembantu ya, Mas."
"Terus, apa? Asisten rumah tangga?"
"Aku baby sitter nya Tasya."
Dika menghela napas, kesabarannya hampir habis menghadapi perempuan satu ini.
__ADS_1
"Kalau Mbak gak mau, ya tinggal resign aja, nanti biar saya cari baby sitter baru, yang mau bantuin Bibi kalau Tasya sedang sekolah atau di sini."
Rika melotot mendengar omongan Dika. Bagaimanapun, wanita itu masih memerlukan pekerjaan ini. Tanpa pamit, Rika pergi meninggalkan bengkel Dika, membuat majikannya hanya menggelengkan kepala dan mendengkus kesal.