Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 16


__ADS_3

Di warung remang-remang yang ditujunya, Sueb menghabiskan sisa uang yang kemarin dia temukan di depan bengkel komputer milik Dika. Dipesannya beberapa botol minuman memabukkan. Dalam beberapa menit kemudian, Sueb sudah mulai teler.


Seorang wanita dengan dandanan menor dan baju seksi menghampiri Sueb. Dalam sekejap, mereka tampak asik dengan minuman di gelas masing-masing.


"Mas, gak mau ngamar nih?" tanya Mira, wanita dengan dandanan menor itu.


"Mas lagi bokek, Sayang. Gak ada duit buat bayar kamu. Apa kamu mau ngasih Mas servis gratis?"


"Kalo Mira ngasih servis gratis, besok Mira mau ngasih makan apa buat anak Mira, Mas?? Ini kan Mira kerja buat cari uang, buat ngasih makan anak Mira," kata Mira ketus.


"Kalo gitu, kamu cari aja pelanggan lain sana!! Aku lagi gak punya duit," usir Sueb.


"Biasanya kan Mas banyak duit, kenapa sekarang gak punya?"


"Karena sekarang aku lagi nganggur, gak kerja, mana bisa punya duit."


"Lha kenapa Mas gak kerja?"


"Banyak nanya sih, lu?? Aku gak kerja ya karena lagi nganggur," kata Sueb sewot.


Mira meninggalkan Sueb sambil mengomel. "Iyalah, kalo gak kerja itu berarti sedang nganggur. Kalau kerja namanya bukan pengangguran. Dasar laki b*go. Semua orang juga tau keles, kalo gak kerja itu nganggur."


Sepeninggal Mira, Sueb masih melanjutkan menghabiskan minumannya sambil mengomel.


"Dasar, perempuan dimana-mana sama saja. Yang dipikirin duit mulu. Apa otaknya cuma diisi duit, duit dan duit aja sih perempuan itu? Gak mikir apa, kalo jaman sekarang itu cari duit susah. Jangankan yang halal, yang haram aja susah kok. Mana Dika gobl*k itu sok-sok an tobat lagi. Memang dia pikir, dengan dia tobat, dia bakal masuk sorga???"


Seorang pria dengan kumis model Pak Raden, menghampiri Sueb yang tengah minum sambil mengomel.


"Sendirian aja, Bro?" sapa pria itu.


"Eh, kamu, Mus. Iya sendirian aja. Lagi ini aku lagi bokek, gak punya duit buat bayar teman."


"Tumben bos besar gak punya duit? Momen langka nih kayaknya," kata Mus sambil terkekeh.


"Bos besar pala lu peyang??!! Gak usah ngeledek deh!!"


"Becanda, Bos. Mau ku traktir buat boking Mira?? Emang gak sayang tuh, perempuan bohay gitu dianggurin?"


"Kamu serius?? Boleh banget kalo kamu mau traktir. Dari tadi aku emang lagi pengen, tapi apa daya, kantongku sedang kempes," kata Sueb sambil cengengesan.

__ADS_1


"Tapi ada syaratnya, Bro. Habis ini, kamu harus ikut aku!"


"Kemana?"


"Cari duit."


"Cakep. Gini dong kalo punya teman, gak kayak Dika s*mplak yang sok alim itu."


Mus memberikan beberapa lembaran merah bergambar dua bapak-bapak pada Sueb yang menerimanya dengan tersenyum cerah.


"Cepet!! Gak pake lama, tiga puluh menit harus kelar!!" kata Mus.


"Siap, Bos. Aku akan segera memacu kudaku dengan cepat. Biar cepat sampai finis. Mira sayang, Mas Sueb datang..!!!"


Mus hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sueb. Dia mengambil ponsel, dan mengetikan beberapa pesan di sana. Mus tersenyum puas, begitu pesannya berbalas.


*****


Mus dan Sueb sedang duduk-duduk di pinggir jalan yang sepi. Sesekali tangan mereka sibuk menepuk nyamuk yang seperti sedang berpesta karena keberadaan kedua mahluk itu.


"Sial, banyak banget nyamuknya. Bisa habis nanti darahku mereka hisap," gerutu Sueb.


"Memangnya kamu doang yang digigitin nyamuk, Bro? Aku juga nih," kata Mus yang masih sibuk menepuk tangan dan pipinya.


"Emang, kalo di rumah Mira, kita gak bakal digigitin nyamuk. Tapi justru kita yang akan mengigit Mira."


Keduanya tergelak, karena candaan Mus yang sangat jauh dari kesan lucu.


"Kenapa kamu berhenti beraksi, Bro. Mau tobat ya ceritanya?" tanya Mus setelah tawanya reda.


"Ya gara-gara Si Dika kampret itu, dia udah gak mau lagi beraksi. Katanya sih, dia udah punya niat untuk tobat."


"Kok begitu? Emangnya dia udah kaya?"


"Ya bisa jadi. Kan kamu sendiri tau, istrinya Dika itu seorang bidan yang sangat laris. Tanpa susah payah kerja, duitnya pasti udah banyak."


"Ya kan yang cari duit istrinya, apa bangganya coba, jadi suami kayak gitu. Dimana-mana, cari duit itu tugas suami, bukan istri."


"Dia juga kan punya bengkel komputer, Bro. Meskipun gak segede pendapatan istrinya, pendapatan Dika dari bengkelnya, aku kira lumayan kok."

__ADS_1


Kalau begitu, kenapa kamu gak minta kerjaan sama Dika aja?"


"Kamu kira, aku gak melakukannya? Dari tiga hari yang lalu, aku kerja di bengkelnya kok."


"Kalau gitu, kok kamu tetap gak punya duit?"


"Ya kan kamu tau sendiri, Bro. Aku tuh cuma tamatan SMP. Apa sih yang bisa dilakukan orang sepertiku di bengkel komputer?"


"Lha kan kamu yang kerja di situ, ya pastinya kan kamu tau, apa yang bisa kamu lakukan."


"Iya, tau. Jadi tukang sapu dan beres-beres. Dan kamu pasti tau kan, berapa sih upah seorang tukang sapu?"


"Hemm, begitu. Ya udah, kalau begitu kamu jangan pensi kerja kayak dulu. Biar mulai sekarang aku yang bakal jadi patnermu, gimana?"


"Ya aku mau-mau aja sih. Dari pada ngarepin upah jadi tukang sapu bengkel. Upahnya gak cukup buat beliin istriku skin care."


"Oke kalau begitu, mulai saat ini kita jadi patner kerja."


Mus mengulurkan tangannya untuk mengajak Sueb salaman. Sueb menyambutnya sambil tersenyum girang. Sudah terbayang oleh Sueb, istrinya akan kembali lagi kayak dulu, penuh senyuman dan bersikap mesra setiap dia pulang.


"Deal." Kata Sueb dan Mus berbarengan.


*****


Joni masih sibuk di kantor tempatnya bekerja. Saat ini, pria itu masih berkutat di depan laptop yang menyala. Padahal jam dinding di ruang kerjanya sudah menunjukkan jam sebelas malam.


Pada akhirnya, Joni menggeliatkan badannya untuk menghilangkan kekakuan, sambil menunggu laptop yang sedang menunggu mati.


"Semua kerjaan udah beres kulakukan. Kalau besok aku gak bisa lagi masuk kantor, aku harap yang menjadi pengganti ku tak kesulitan untuk melanjutkan," gumam Joni yang bisa didengarnya sendiri.


Setelah beberapa saat, Joni keluar dari kantornya untuk segera pulang. Pikirannya sedang merasa tak enak. Perut yang lapar, tak Joni hiraukan. Tujuannya cuma satu, cepat sampai di rumah.


Joni melajukan motor, menembus jalan sepi persawahan yang sepi dan gelap gulita. Hanya cahaya lampu motor, yang membantu Joni melewati jalan pulang.


Dari tempat duduknya, Sueb dan Mus melihat cahaya motor Joni di kejauhan. Seketika senyum mereka berdua merekah. Penantian mereka tidak sia-sia.


"MANGSA, BRO!!!"


Pekik Sueb dan Mus kegirangan.

__ADS_1


Maaf ya, Readers. Bapakku Bukan Penjahat baru bisa update setelah sekian purnama. Maklum ya, Gaes. Author sedang berpura-pura sok sibuk, hehehe.


Oke, gak perlu panjang lebar, langsung aja baca! Jangan lupa tinggalkan jejak, like n koment ya, Gaes. Silaken.....


__ADS_2