Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 43


__ADS_3

"Kenapa kaget, Beb?" tanya Dessy sambil nyengir.


"Eh, enggak kok. Ku kira kamu bakal datang sendirian aja sih, gak nyangka kalau bawa teman. Yuk masuk, Dess, Kak Rio!" ajak Nabila.


"Ibu dimana, Bil?" tanya Dessy.


"Ibu di belakang, lagi bikin kue pukis tuh. Kesukaan kamu kan?"


"Horee, aku sayaaang Ibu!!" kata Dessy yang langsung lari ke dapur.


Rio memandang Nabila hingga membuat gadis itu salah tingkah, hingga mempersilahkan Rio masuk dengan suara gagap.


"Ma...masuk, Ka...Kak Rio!"


"Terima kasih, Bil," kata Rio seraya masuk ke dalam rumah dan duduk di tikar.


"Sebentar ya, Kak, Nabila bikin minum. Kak Rio pasti haus deh!"


"Iya, Bil. Terima kasih, ya."


Nabila pun berlalu ke dapur, membuat minuman buat Rio, juga makanan. Cowok itu pasti lapar, karena jam makan siang juga sudah berlalu.


"Bu, ini kue pukis enak banget deh. Boleh gak nanti Dessy minta buat dibawa pulang?" tanya Dessy dengan mulut penuh kue pukis.


"Boleh lah, apa sih yang gak Ibu kasih buat Dessy?"


"Cie cie, Ibu sekarang gaul banget deh, bahasanya."


Dessy dan Ibu tertawa bersama, sementara Nabila hanya tersenyum sambil tangannya sibuk mengaduk teh buat Rio.


"Yang buat Rio, kamu ambilkan soto aja, Bil! Karena yang rendang itu ibu bikin agak pedas, gak manis kayak biasanya, Kakek lagi pengen makan pedas katanya," perintah Ibu. Nabila hanya mengangguk.


"Yaelah, Ibu ya...Dessy dari tadi gak ditawarin makan, malah Kak Rio yang diurus. Kan Dessy juga lapar, Bu!" protes Dessy sambil cemberut.


"Itu perut apa karung, abis pukis lima masih bilang lapar?"


"Emang Dessy udah habis lima, Bu?"


"Ya hitung saja sendiri! Ini cetakan kan untuk tujuh kue, tadi semua Ibu angkat dan taruh piring itu. Sekarang tinggal berapa tuh?" tanya Ibu sambil menunjuk piring yang di depan Dessy.


"Tinggal dua biji sih," kata Dessy sambil menggaruk kepala dan nyengir.

__ADS_1


"Terus yang lima kemana?"


"Gak tau,Bu. Udah pindah kali, gak kerasan di piring itu," jawab Dessy.


"Iya, pindah. Pindah ke perutmu yang udah kayak emak-emak hamil sembilan bulan," sahut Nabila.


"Kamu mau bilang aku gendut, Bil?"


"Gak kok, kamu kan langsing, Dess. Langsing banget, sampai badanmu kayak bintang iklan," jawab Nabila kalem.


"Nah, gitu dong! Kamu harus banga punya teman kayak bintang iklan!" kata Dessy jumawa.


"Iklan yang kayak gini lho, Dess : bajuku dulu, tak begini, tapi kini tak cukup lagi."


Ibu dan Nabila tertawa, tapi Dessy masih memasang wajah cemberut. Gadis itu juga menggigit kue pukis dengan kasar, karena kesal dibilang gendut.


"Kamu mau makan soto juga, Dess?" tanya Nabila begitu tawanya berhenti.


"Kamu mau aku beneran jadi bintang iklan?" tanya Dessy sewot.


"Ya udah kalau gak mau, makan pukis aja kamu! Biar makin cepat jadi bintang iklan."


Nabila meninggalkan Dessy yang sedang kesal dan ibunya yang masih tertawa melihat kelakuan anaknya dan Dessy. Nabila membawa semangkok soto ayam dan segelas teh manis buat Rio.


"Dessy mana, Bil?"


"Ada, lagi bantuin Ibu bikin kue pukis. Bantuin makan, masa baru sebentar dia udah habis setengah dozen."


"Masa sih, Bil? Itu lapar apa doyan?"


"Emang itu jajanan favorit Dessy, jadi Ibu sengaja bikin buat dia, selain buat acara nanti malam, tentunya."


Rio menyantap sotonya dalam diam, cowok itu ingin sekali nanti malam datang ke acara peringatan seratus hari meninggalnya Pak Bakir, tapi mamanya pasti tak memberi ijin.


"Ya udah, Kak Rio makan dulu ya! Nabila ijin ke belakang, bantuin Ibu."


Rio hanya mengangguk, sambil melanjutkan makannya. Cowok itu juga sedang memutar otak, memikirkan rencana agar bisa datang nanti malam.


"Kok ke sini, Ndhuk? Rio kamu tinggal sendiri?" tanya Ibu heran.


"Dia udah gede kan, Bu? Masa harus ditemani terus? Lagian kita ini kan sibuk, banyak kerjaan, kalau Nabila temani dia terus, siapa yang bantu Ibu?"

__ADS_1


"Kamu lupa kalau ada aku?" tanya Dessy yang masih jengkel.


"Kamu dari tadi kan cuma bantu makan doang. Ayo sekarang bantu aku masukkan kue-kue ini ke dalam kotak!" ajak Nabila pada Dessy.


"Siap, Nona Bos!"


Ibu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, mereka berdua memang begitu kalau bertemu, suka ber*ntem dan saling ledek, tapi sebentar kemudian sudah rukun kembali.


"Itu ngapain kamu ajak si Kutil kemari, Dess?"


"Hah? Si Kutil siapa, Bil?"


"Siapa lagi kalau bukan Kak Rio?"


"Aku gak ngajak, dia ngikut sendiri kok," elak Dessy.


"Ya gak mungkin dia ikut sendiri, kalau gak kamu ajak," gerutu Nabila.


"Beneran, Bil. Tadi dia ke kelas kita, nanyain kamu, ya aku bilang aja kalau kamu gak masuk karena di rumahmu mau ada acara buat Bapak. Terus dia bilang mau ikut. Dia juga nelpon mamaku, bilang gak usah dijemput, karena dia yang akan antar pulang."


"Oh gitu."


"Cie...cie...cie, sepertinya ada yang cemburu nih," goda Dessy.


"Apaan sih, Dess? Tapi...emang Kak Rio itu lebih pantes pacaran sama kamu deh, Dess. Kalian itu sederajat, mama kalian juga berteman baik, kurang apalagi coba?"


Dessy menatap Nabila, ada sedikit kesedihan di wajah cantik sahabatnya itu. Dessy tau, sampai saat ini, Nabila belum bisa melupakan Rio, pun sebaliknya. Mereka berdua masih saling menyayangi, dan terpaksa berpisah karena keadaan.


"Jadi, kamu iklhas kalau Kak Rio pacaran sama, aku?"


"Iklhas kok, Dess. Kalian beneran serasi kok, yang satu ganteng, yang satu cantik, sama-sama anak orang kaya lagi."


Wajah Nabila tampak semakin sedih setelah berkata demikian. Dalam hati Dessy ingin tertawa, tapi ditahan olehnya. Gadis itu ingin membalas Nabila yang tadi sempat meledeknya gendut, Dessy masih sakit hati.


"Ya udah kalau kamu iklhas, jadi kami gak ada ganjalan lagi kalau mau jadian. Aku dan Kak Rio cuma gak mau aja dibilang teman makan teman. Secara kamu itu sahabatku dan Kak Rio itu mantanmu."


Nabila menghela napas, wajahnya tampak semakin mendung, bahkan matanya mulai tampak berkaca-kaca, Dessy sebenarnya iba melihatnya.


"Kamu sebenarnya masih sayang kan, sama Kak Rio?"


"Enggak kok, Dess. Dia itu cuma masa lalu buat aku. Lagian, dia terlalu tinggi buat ku gapai. Kamu tau sendiri kan, gimana sikap mamanya Kak Rio pada Nabila si anak napi?"

__ADS_1


"Iya, aku tau kok, Bil. Tapi sikapnya ke si Nabila keponakan Tante Anna, beda lagi kan?"


Rio yang tak sengaja mendengar percakapan Dessy dan Nabila menjadi geram. Cowok itu mengepalkan tangan, karena merasa sebal harus mempunyai mama seperti Tante Hesti.


__ADS_2