
Sesuai janji, Dessy dan mamanya, yang tentu saja diantar sopir, sudah menunggu di gang yang menuju rumah Nabila tepat jam 4 sore. Nabila yang masih bertanya-tanya, hendak kemana mereka akan pergi, segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
"Maaf, Tante! Jadi nungguin saya lama ya?" tanya Nabila sambil mencium tangan mama Dessy.
"Enggak kok, Sayang. Kita juga baru sampai, belum satu menit eh kamu sudah muncul. Kenalkan, Tante mamanya Dessy, kamu Nabila kan?"
"Iya, Tante, saya Nabila, temannya Dessy di sekolah."
"Haduh, udah kayak interview kerja aja, formal banget. Santai aja kamu, Bil, mamaku ini udah jinak kok, gak bakal gigit," celetuk Dessy.
"Kamu kira, Mama Bleki ya, Dess?" mama Dessy tampak cemberut.
"Becanda Mama sayang, anak Mama yang imut ini cuma bercanda kok, biar Nabila gak tegang. Mama gak lihat, dia grogi dan berkeringat dingin kayak gitu?" ledek Dessy.
"Ini kan keringat keluar karena aku habis lari-lari tadi, takut kamu nunggu terlalu lama, nanti kamu ngomel lagi," Nabila membantah ucapan Dessy.
"Sudah-sudah, jangan berantem! Mama jadi pusing nih dengar kalian berantem."
"Mereka berdua kalau ketemu memang seperti itu, Nyonya. Saya aja sampai heran kok, katanya bersahabat tapi kok gak pernah akur," timpal Pak Sopir.
"Udah, Bapak jangan fitnes ya, nanti saya potong gaji, baru tau rasa lho," ancam Dessy pada sopirnya.
"Potong gaji? Emang siapa yang bayar Pak Sopir, kok kamu yang motong gaji?" tanya Mama geli.
"Yang bayar ya, Mama. Tapi kan duitnya sering dititip ke Dessy, ya itu yang nanti Dessy tilep," kata Dessy.
"Ooiii, ya jangan lah, Non!! Bisa-bisa Bapak dituduh punya simpanan sama istri Bapak, kalau ngasih duit belanjanya gak utuh," kata Pak Sopir sambil cemberut.
Dessy, Nabila dan Mama hanya tertawa mendengar keluhan Pak Sopir.
"Makanya, jangan ikutan nimbrung kalau ada orang ngobrol, daripada tar dapat gajinya saya sunat dulu!" ancam Dessy.
Pak Sopir membuat gerakan tutup mulut, Dessy dan mamanya yang melihat dari kaca spion tertawa semakin keras.
"Maaf, Tante, sebenarnya kita ini mau kemana ya? Dessy gak mau kasih tau waktu saya tanya, Tante."
Nabila memberanikan diri untuk bertanya, karena merasa penasaran mereka hendak kemana, dan kenapa dirinya diajak.
"Kita mau jenguk anak teman arisan Tante, Bil. Anaknya itu satu sekolah sama kalian, mungkin kalian juga kenal. Nah, si Dessy ini gak mau sendirian, takut dikacangin katanya, makanya Tante punya ide buat ajak kamu. Sekalian kita nanti pulangnya makan-makan dulu, Tante yang traktir, kan Tante lagi ultah."
__ADS_1
"Oh iya, sampai lupa. Selamat ulang tahun, Tante. Semoga panjang umur, sehat selalu dan senantiasa bahagia."
"Terima kasih, Bil, atas ucapan dan doanya."
"Tapi, Tante..."
"Kenapa, Bil?"
"Maaf, Nabila belum punya kado buat Tante," kata Nabila sambil menunduk, antara sedih dan malu.
"Doa yang tulus dan iklhas sudah merupakan kado terindah buat Tante, Bil. Apalagi kan doa orang benar itu sangat besar kuasanya, kan? Sudah jangan sedih gitu, nanti cantiknya ilang lho!"
"Iya, Tante. Terima kasih, ya. Selama ini, Dessy dan keluarga sudah sangat banyak membantu Nabila. Bila tak tau, mau balas pakai apa, cuma doa Nabila, agar keluarga Dessy dan Tante selalu dalam lindungan dan anugrah-Nya."
"Amin, kembali kasih, Bil."
"Ini udah kayak acara apa aja gitu ya, bahasanya resmi semua. Udah kayak sambutan orang nikahan," celetuk Dessy.
"Ya kan sama orang tua harus sopan, Non. Beda kalau Nabila ngomongnya sama Non Dessy," Pak Sopir ikut nimbrung lagi.
"Bapak! Mau gajinya disunat?" tanya Dessy sambil memperagakan gerakan memotong.
Semua yang ada di dalam mobil itu tertawa, cuma Pak Sopir saja yang cemberut, takut gajinya disunat beneran oleh anak majikannya.
Seorang wanita dengan dandanan glamour, menyambut mereka di depan pintu. Setelah bercipika-cipiki dengan mama Dessy, wanita itu mendapat salim dari Dessy dan Nabila.
"Ini anaknya Jeng Anna yang mana, ya?" tanya Nyonya rumah.
"Ini, Jeng Hesti, namanya Dessy. Kalau yang ini, keponakan saya, namanya Nabila."
"Wah, mereka cantik-cantik semua, seperti mama dan tantenya. Mari masuk, Jeng Anna! Dessy, Nabila, masuk juga sini!"
Mereka bertiga mengikuti tuan rumah masuk, setelah mempersilahkan tamunya duduk, Jeng Hesti pamit ke dalam untuk memanggil anaknya.
"Ssttt, Bil, kamu tau gak, ini rumah siapa?" tanya Dessy.
Nabila menggeleng, karena memang tidak tau, sementara Dessy dan mamanya tersenyum jahil.
"Nabila, kan tadi Tante bilang, kalau kamu tuh keponakan Tante, nah kamu juga jangan sampai keceplosan ya, kalau kamu teman sekolah Dessy!"
__ADS_1
"Kenapa begitu, Tante?"
"Nanti kamu bakal tau sendiri alasan Tante."
Dessy hanya tersenyum jahil, ketika Nabila bertanya menggunakan kode pada gadis itu, hal ini membuat Nabila makin penasaran dan sedikit kesal.
Tak lama, sang pemilik rumah turun bersama seorang pemuda yang sangat familiar bagi Nabila dan Dessy, Rio sang ketua osis. Dessy mengalihkan pandangan sambil tersenyum, ketika Nabila melihat ke arahnya sambil melotot.
"Nah, gadis-gadis, kenalkan, ini anak Tante yang paling tampan!" kata Tante Hesti banga.
"Namaku, Dessy," kata Dessy sambil mengajak Rio berjabat tangan.
"Nabila," kata Bila sambil berjabat tangan juga.
"Kalian bertiga bisa ngobrol-ngobrol di sini, ya! Sebentar lagi Bibi datang bawa minum dan camilan. Tante sama mama kalian ada sedikit urusan di dalam," pamit Tante Hesti.
"Iya, Tante."
Nabila dan Dessy menjawab bersamaan. Tante Anna mengikuti Tante Hesti ke atas, mungkin ke tempat yang lebih privasi untuk mengobrol berdua saja.
"Gimana kabarnya, Kak? Sudah sembuh?" tanya Dessy pada Rio.
"Seperti yang kamu lihat, Dess. Besok juga aku sudah masuk sekolah kok."
"Syukurlah kalau begitu, jangan lama-lama kalau sakit, nanti di sekolah ada yang kangen lho," kata Dessy sambil melirik Nabila.
"Emang siapa juga yang kangen, Dess? Aku kan single," Rio pun melirik Nabila.
Nabila sedang asik mengetik part baru untuk novelnya, tak menghiraukan Dessy dan Rio yang berusaha ngobrol tanpa rasa canggung.
"Bukankah yang bikin sakit Kak Rio itu, cewek baru Kakak, ya?"
"Yang mana, Dess?"
"Yang ngasih makan Kak Rio cireng rujak, kan kalian panggilnya pakai sayang-sayangan waktu itu?"
"Oh dia, udah ku putusin lah, Dess. Masa mau aku punya pacar yang mau b*nuh aku kayak gitu."
"Kalau gitu, balikan aja sama yang lama, Kak!"
__ADS_1
"Nah, ide bagus itu, Dess. Nanti akan ku coba."
Rio dan Dessy tertawa bersama, namun sayang, sindiran mereka tak didengar Nabila. Gadis manis itu tetap asik dengan ponselnya.