
Kening Dika berkerut, pertanda si empunya sedang berpikir keras. Ingatannya pada motor yang tadi dia lihat kembali terlintas, motor Mus.
Beberapa hari yang lalu, Mus membawa motor itu ke bengkel komputer milik Dika. Waktu itu, Mus sedang mencari Sueb, katanya sih, ada urusan penting. Sueb sedang mengantar laptop milik pelanggan menggunakan motor Dika, jadi terpaksa Dika meminjam motor Mus untuk menjemput Tasya. Karena itu, Dika yakin sekali, yang mengalami kecelakaan tadi motor Mus.
Karena macet, Dika dan Tasya terlambat tiba di rumah, membuat Winda yang masih kesal, bertambah marah. Winda berkacak pinggang di pintu depan, dengan bibir yang monyong maju beberapa senti.
"DARI MANA SAJA KALIAN BERDUA?"
Tasya menjadi ciut, melihat mamanya marah, gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh sang Papa.
"Macet, Ma. Ada kecelakaan di jalan, tanya aja Tasya, kalau tidak percaya!" jawab Dika.
"Bener, yang dibilang papamu, Sya?"
"Be ... bener, Ma. Papa gak bohong kok, tadi jalanan emang macet."
"Ya sudah kalau gitu, kalian masuk! Tasya juga, cepat ganti baju, lalu makan siang!"
"Ayuk, Sayang, kita masuk! Dari pada nanti diomeli sama Kanjeng Mami, lebih baik kita nurut," bisik Dika pada anaknya.
Tasya hanya mengangguk, kemudian mengikuti papanya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Winda duduk di teras depan, setelah suami dan anaknya masuk.
Tiba-tiba datang seorang ibu yang tampak cemas, datang menemui Winda.
"Selamat siang, Bu Bidan."
"Siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Cuma mau ngasih tau, itu karyawannya Mas Dika, kecelakaan."
"Karyawannya Mas Dika?"
"Yang biasa bantu di bengkel itu lho, Bu Bidan. Yang kapan hari nganterin laptop anak saya ke rumah."
"ASTAGA, BANG SUEB. Sebentar ya, Bu, saya panggil suami dulu."
Winda masuk ke dalam rumah untuk memanggil Dika, Ibu yang datang membawa kabar, duduk menunggu di teras. Tak lama, Winda dan Dika keluar, menemui Ibu tadi.
"Benar, Bu, yang kecelakaan itu teman saya, Bang Sueb?" tanya Dika.
"Iya benar, Mas. Wong saya masih ingat bener wajahnya, kan baru beberapa hari yang lalu ke rumah, nganterin laptopnya si Lely, anak saya."
Dika duduk dengan tubuh lemas, firasat buruk yang dari tadi dia rasakan, terbukti.
"Lalu, keadaan Bang Sueb gimana, Bu?" tanya Winda.
"Setahu saya, kedua korban yang tadi naik motor, meninggal dunia, Bu Bidan."
__ADS_1
"Astaga, Bang Sueb. Gimana ini, Pa? Papa mau lihat gak, gimana keadaannya?"
"Emang dibawa ke rumah sakit mana, Bu?"
"Ke rumah sakit umum yang di Jalan Salemba itu lho, Mas Dika."
"Terima kasih atas infonya ya, Bu. Saya mau siap-siap ke sana, mau ngajakin istrinya Sueb juga."
"Iya, sama-sama, Mas Dika. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Mas, Bu Bidan."
"Iya, Bu," jawab Winda dan Dika bersamaan.
"Kalau begitu, Papa mau ke rumahnya Sueb dulu. Mama mau ikut, apa di rumah saja?"
"Mama di rumah aja deh, jagain Tasya sama mau istirahat juga, capek."
Di rumah Sueb, istrinya juga baru saja mendapat kabar, kalau sang suami mengalami kecelakaan. Istri Sueb tak terlihat sedih sedikitpun, bahkan tampak tersenyum senang.
Setelah menutup telepon dari pihak kepolisian, yang mengabarkan Sueb kecelakaan, wanita itu segera menelepon Juragan Rojali.
"Halo, Cantik! Tumben nelpon Abang, ada apa?"
"Kok gitu sih tanggapannya, Bang? Emang gak boleh ya, kalau aku nelpon duluan?"
"Bukan begitu juga, Abang senang kok, kamu nelpon Abang, tapi kan---"
"Tapi apa, Bang?"
"Jadi, Abang keberatan, kasih uang ke aku?" tanya istri Sueb ngambek.
"Gak juga, asal ada imbalannya, tak ada yang gratis kan, di dunia ini? Hehehe."
"Abang mau imbalan apa, dari aku?"
"Ayolah, kamu pasti tau apa yang Abang maksud, jangan pura-pura polos! Oh iya, ini nelpon Abang ada apa, ngajak ketemuan?"
"Aku cuma mau kasih kabar, sekarang aku udah resmi jadi janda. Kapan nih, Abang mau nikah sama aku?"
Rojali menggaruk kepalanya yang tak gatal, pria itu memang menyukai istri Sueb, tapi tidak ada niat untuk menikah dengannya. Selama ini, Rojali hanya membual, agar wanita itu mau memberinya kenikmatan.
"Halo, Bang! Abang masih di sana?"
"Eh ... ma ... masih kok, Cantik. Maksud kamu, kamu udah cerai dari si Sueb itu?"
"Lebih bagus dari cerai, Bang Sueb barusan kecelakaan dan dinyatakan tewas."
"ASTAGA."
__ADS_1
"Kenapa? Kok Abang kelihatannya gak seneng gitu, sih?"
"Seneng kok seneng, cuma Abang kaget aja, dengar suamimu kecelakaan."
"Jadi, kapan nih Abang mau nikahi Rika?"
"Pasti Abang akan nikahi kamu, Cantik. Tapi ya gak sekarang juga lho, apa nanti kata orang."
Rojali memberikan alasan yang sangat masuk akal, sambil memikirkan cara untuk menghindar dari janda matre itu. Bagaimanapun, Rojali sudah punya dua istri, dan para istrinya pasti akan menentang, jika dia hendak menikah lagi.
"Tapi, sekarang bisa kan Abang kemari?"
"Ngapain Abang harus ke situ?"
"Kok ngapain? Ya ngantar aku ke rumah sakit, untuk identifikasi jenasah Bang Sueb."
"Aduh, maafkan! Abang gak bisa, Cantik, ini istri Abang yang kedua lagi manja, gak mau ditinggalin Abang. Sepertinya sih, bawaan orok."
Rika mendengkus mendengar jawaban Rojali, memang istri muda pria itu lagi hamil muda, dan selalu memakai alasan ngidam, agar dituruti suaminya.
Tuuuuttt
Rika mematikan begitu saja panggilan telponnya, membuat Rojali kesal. Kemudian wanita itu bersiap pergi ke rumah sakit, sendirian, naik taksi online.
Tok ... tok ...tok
Dika mengetuk pintu rumah Sueb berulang kali, namun belum ada orang yang membukakan pintu. Dari dalam rumah, terdengar orang sedang mandi, karena itu, Dika memutuskan untuk menunggu di teras.
Tok ... tok ... tok
Dika mengetuk lagi, ketika suara orang mandi berhenti belasan menit yang lalu. Tak lama, terdengar langkah penghuni rumah, dan suara pintu kayu terbuka.
"Eh, Mas Dika---"
"Mbak sudah dengar kabar, Bang Sueb kecelakaan?"
"Sudah, Mas Dika, ini saya juga udah siap-siap mau ke sana. Tapi..."
"Kenapa, Mbak?"
"Saya bingung, pergi ke sananya naik apa, saya gak punya uang."
Rika menundukkan mukanya, agar terlihat sedih. Wanita itu juga berpura-pura menangis, dengan mengusap matanya mengunakan sapu tangan, padahal tidak ada setetes pun air mata yang keluar.
"Oh, itu. Saya sengaja ke sini juga mau ngajak bareng Mbak Rika. Bagaimanapun, Bang Sueb itu kawan lama saya, masa sih saya gak peduli?"
"Wah, terima kasih, Mas. Senang rasanya masih ada yang peduli dengan orang miskin kayak kami."
__ADS_1
"Ngomong apa sih, Mbak. Ayo, kita segera ke rumah sakit aja, kalau begitu!"
Dika berjalan menuju mobil, diikuti oleh Rika, setelah wanita itu mengunci pintu. Saat Dika tak melihat, sebuah senyum licik, terlihat dari bibir merah istri Sueb.