
Winda sangat terkejut, ketika mendapat kabar dari kepolisian. Suaminya---Dika---ditangkap dalam aksinya sebagai begal. Wanita itu merasa marah dan juga malu, karena ternyata, sang suami sudah lama sekali menekuni kejahatan itu. Bahkan terbuka fakta, Dika dan Sueb lah yang menyebabkan Pak Bakir masuk penjara dan meninggal di sana. Korban salah tangkap.
Winda jadi tau, kenapa Bu Bakir bersikap judes padanya dan Dika, waktu mereka datang melayat Pak Bakir. Wanita itu jadi merasa bersalah, karena sempat berpikiran buruk. Nanti kapan-kapan, Winda pasti akan datang untuk meminta maaf.
Manusia memang mahluk yang paling susah dipahami. Adakalanya, manusia bisa bersikap sangat baik, tapi di belakang malah menikam. Bertampang sangat manis di depan, tapi di belakang busuk. Sama seperti Rika. Membalas air susu dengan air tuba.
Hari ini, sidang pertama dakwaan terhadap Dika akan digelar. Winda tak mau menghadiri sidang itu. Bahkan menengok Dika saat ditahan di kantor polisi saja tak sudi. Winda sudah memutuskan, tak mau lagi berhubungan dengan lelaki itu. Winda juga akan menggugat cerai.
Rasa kecewa pada sang suami, sudah berkembang menjadi benci. Ya, Winda sudah sangat membenci Dika. Hingga mendengar namanya disebut saja, sudah membuat wanita itu merasa muak. Meskipun Tasya, sang anak, kerap menanyakan papanya, tak ada niat Winda untuk mempertemukan mereka.
Dika sangat menyayangi Tasya. Berpisah dengan anaknya, membawa sakit tersendiri bagi Dika. Bukannya tak berusaha, Dika sudah sering berusaha menelepon istrinya, supaya bisa mengobrol dengan anaknya. Kangen. Tapi Winda tak pernah mengijinkannya. Wanita itu akan mematikan panggilan, setiap tau Dika yang menelepon.
Dika merasa sangat terpuruk. Menyesali semua perbuatan, tak akan mengubah nasibnya, tetap saja menjadi tahanan. Lelaki itu hanya bisa pasrah. Menerima semua hukuman yang harus dia jalani. Juga kondisi paling buruk, yakni jika istrinya akan menggugat cerai. Dika sudah yakin, hal itu pasti akan terjadi.
Hari-hari pertama menjalani hidup di penjara, membuat Dika jatuh sakit. Rasa rindu pada anak dan istrinya, membuat fisik Dika menurun. Pria itu berbaring di klinik penjara selama beberapa hari. Dika menangis. Ketika teringat Pak Bakir pernah mengalami nasib yang sama, tapi penyebabnya berbeda. Pak Bakir menderita bukan karena perbuatannya sendiri. Tapi menanggung kesalahan Dika.
"Maafkan aku ya, Mas! Aku sangat menyesal, sudah membuat Mas Bakir menderita. Juga Mbak Yu yang terpaksa harus bekerja keras. Dan Nabila yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Aku menyesal, Mas. Sangat menyesal," erang Dika di tengah sakit yang dia derita.
__ADS_1
Dika juga jadi paham, kenapa Pak Bakir begitu cepat menurun kesehatannya. Pikirannya yang tertekan, karena tak bisa bersama anak dan istri, pastilah yang menjadi pemicunya. Saat ini, Dika mengalaminya. Rasanya sangat menderita.
Hanya Rika yang sesekali masih menjenguk Dika, sambil menunjukkan perut besarnya. Yang dia akui sebagai anaknya dengan Dika. Tapi entah, apa omongannya bisa dipercaya? Dika sendiri sangsi, dalam rahim Rika, ada buah hatinya. Rika bukan wanita baik-baik.
"Istrimu gak pernah ke sini, Mas?" tanya Rika suatu ketika.
Dika hanya menggeleng, mulutnya sibuk mengunyah nasi Padang yang dibawa oleh Rika. Menu yang sangar istimewa bagi orang yang terkurung sepertinya.
"Mending, kamu ceraikan saja wanita itu, terus nikah sama aku, Mas! Toh sebentar lagi kita bakal jadi orang tua. Anak di perutku ini, butuh seorang ayah."
"Kamu pikir, gampang gitu cerai sama Winda? Butuh duit. Dan aku sedang gak punya. Lagipula, aku bakal lama juga tinggal di penjara. Mau kamu punya suami napi?"
"Aku gak yakin, kalau itu anakku!"
"HAH? Kamu meragukan aku? Aku gak pernah melakukannya selain sama kamu. Jelas-jelas ini anakmu, Mas!!" kata Rika geram. Wanita itu merasa diragukan oleh Dika.
"Aku gak yakin, sampai ada bukti. Kalau perlu, lakukan test DNA! Kalau hasilnya positif, aku akan bertanggung jawab."
__ADS_1
"Aku yakin, hasilnya pasti positif, kok. Meskipun tanpa test segala. Buang-buang aja!"
"Kalau begitu, jangan harap aku mau tanggung jawab, Mbak. Aku mau bukti, bukan cuma omong kosong semata!"
Rika menghela napas, tak ada gunanya berdebat dengan Dika. Pria itu sedang banyak pikiran, menghadapi sidang dan dakwaan yang sudah di depan mata. Dika butuh dukungan, bukan tuntutan, dan Rika harus memberikannya. Kalau ingin mendapatkan simpati dari Dika.
"Nanti pasti aku buktikan, kalau ini benar-benar anakmu. Test DNA perlu biaya, dan aku belum ada untuk itu. Sekarang ini aja, aku terpaksa banting tulang untuk makan dan biaya lahiran."
"Ya itu urusanmu, Mbak, bukan urusanku. Karena yang didalam perutmu, jelas-jelas anakmu, tapi belum tentu anakku."
Rika hanya mengangkat bahu, dan mengabaikan omongan Dika. Wanita itu kemudian tampak sibuk dengan ponselnya. Sesekali Rika tertawa, kemudian terlihat mengetik di ponselnya. Tertawa lagi, mengetik lagi. Begitu untuk waktu yang cukup lama, sampai jam berkunjung habis."
"Aku pergi dulu, Mas. Ada kerjaan nih. Doain rejekiku lancar ya, biar bisa biayain anak kita nanti. Setidaknya sampai kamu keluar dari penjara."
"Ya."
Rika tak peduli dengan jawaban Dika yang hanya satu kata. Baginya ada yang lebih penting. Segera melakukan pekerjaan yang baru saja didapatkan melalui pesan di ponselnya. Pekerjaan yang memberinya hasil lumayan. Lumayan untuk bertahan hidup.
__ADS_1
Wanita itu melangkah dan tak lagi menoleh ke belakang. Dika mengamati punggung yang terlihat menjauh itu dengan kesal, karena sosok itulah, dia mengalami kemalangan seperti ini. Dika juga tak mau ambil pusing dengan anak yang sedang dikandung Rika, juga biaya untuk Rika lahiran, biar semua dipikirkan sendiri oleh wanita itu.
Yang sempat terlintas di benak Dika, kira-kira pekerjaan apa yang sekarang sedang dilakoni Rika? Sangat susah untuk menduga. Secara wanita itu tengah berbadan dua dan hampir melahirkan. Mana mungkin gampang bagi Rika mendapat pekerjaan. Dika tak mau memikirkannya.