Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 54


__ADS_3

Tanpa setahu Rio, Rara datang ke rumahnya dan bertemu Tante Hesti, sang Mama. Seperti biasa, dengan pedenya, Rara memperkenalkan diri sebagai pacarnya Rio.


"Kamu temannya, Rio?" tanya Tante Hesti dengan nada tak suka.


"Perkenalkan, Tante! Saya Rara, calon mantu, Tante."


Rara mengulurkan tangan untuk mengajak Tante Hesti bersalaman, tapi tidak disambut oleh wanita itu.


"Maksudnya calon mantu?"


"Saya pacarnya Rio, Tante."


"Sejak kapan?"


"Sudah lumayan lama, hampir empat bulan. Kami jadian sejak Rio putus sama Nabila si anak napi."


"Kamu kenal Nabila?"


"Cuma sekedar tau, tapi gak kenal. Itu juga karena semua pada rame bahas bapaknya yang meninggal di penjara."


"Oh, memang Rio udah putus sama anak napi itu, tapi sekarang Rio udah punya pacar lagi kok. Namanya sama-sama Nabila, tapi bukan anak napi, dia keponakan teman arisan Tante."


"Hah? Bagaimana mungkin? Rio itu masih pacaran sama saya kok. Tiap hari juga kami selalu bareng, kok bisa-bisanya Tante bilang Rio punya pacar yang namanya Nabila? Emang Tante yakin?"


"Kamu ini kok dibilangin malah ngeyel. Aku ini mamanya, jelas tau dengan siapa Rio pacaran. Jangan-jangan kamu itu yang ngaku-ngaku, karena kebelet punya pacar ganteng kayak anakku."


"Memang saya akui, saya cinta banget sama anak Tante, tapi saya gak kebelet. Kalau Rio gak mau sama saya, ya saya gak bakal maksa kok. Buktinya, anak Tante tuh yang ngejar saya," kata Rara sewot.


"Dengar, ya! Selera anakku tuh jelas-jelas bukan cewek model kamu kayak gini. Selera anakku itu berkelas, seperti pacarnya sekarang ini, Nabila."


Rara mendengkus kesal, kemudian mengutak-atik ponselnya sebentar dan menyerahkannya pada Tante Hesti.


"Ini kan yang namanya Nabila?"


Tante Hesti melihat foto yang ditunjukkan Rara, di situ ada foto Nabila dan Dessy. Dengan banga, Tante Hesti mengiyakan, kalau itu Nabila yang dia maksud. Seketika Rara terbahak.


"Nabila ini yang Tante kata pacar Rio sekarang?" tanya Rara di sisa tawanya.

__ADS_1


"Iya, dia sepupunya Dessy. Keponakan mamanya Dessy, teman arisan Tante."


"Tante gak salah orang?"


"Enggak, bener dia kok. Kenapa emang?"


"Gapapa, Tante. Kalau Nabila yang mantannya Rio, Tante tau wajahnya?"


"Tante belum pernah ketemu, tapi Tante yakin, dia pasti item, dekil, keriting dan kusam. Gak cantik dan glowing kayak Nabila pacar Rio sekarang. Level mereka kan jauh berbeda."


Rara menyembunyikan tawa dengan berpura-pura batuk. Sungguh naif sekali calon mertuanya satu ini, tidak tau kalau sebenarnya mereka adalah Nabila yang sama, tapi tetap ngeyel bilang, mereka Nabila yang berbeda.


"Tante, Rara kasih tau ya, tapi jangan kaget! Mereka itu Nabila yang sama, mantan Rio itu ya Nabila yang di foto ini. Rara satu sekolah dengan mereka, jadi Rara tau. Kali ini Rara yakin, kalau Tante sudah ditipu."


"Jangan ngomong sembarangan, ya! Gak mungkin Jeng Anna nipu Tante. Tante udah kenal dia dari lama, udah pernah bisnis bareng, dan Jeng Anna ini terkenal jujur. Lagian, gak ada untungnya juga Jeng Anna nipu Tante."


Mama Rio terlihat berang, ketika Rara mengatakan dirinya kena tipu. Mama Rio merasa, kedatangan gadis ini bertujuan gak baik, karena berusaha merusak imej Nabila di depannya. Dengan kejam, mama Rio mengusir Rara dari rumahnya.


"Pergi saja kamu dari sini, aku gak akan termakan oleh fitnahanmu pada calon menantuku!" Tante Hesti berkacak pinggang dan berganti menggunakan aku, pertanda dia lagi marah besar.


Rara meminta tangan Tante untuk salim, tapi wanita itu menolak, bahkan membuang pandangannya dari Rara. Dengan senyum miring, Rara meninggalkan rumah Tante Hesti.


Setelah Rara pergi, Tante Hesti memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Emosi yang dirasakan oleh wanita itu, pasti membuat tekanan darahnya naik drastis. Tante Hesti segera beranjak mengambil obat hipertensi dan menelannya, kemudian berlalu ke kamar dan merebahkan diri.


Rara yang sudah keluar dari gerbang rumah Rio, segera menelepon Dessy untuk memberi laporan. Ya, Rara memang disuruh Dessy datang ke tempat itu.


"Halo, Kak. Gimana hasilnya? Persis seperti yang ku bilang, kan?"


"Iya, benar sekali kata kamu, Dess. Mamanya Rio gak percaya waktu ku bilang mereka itu Nabila yang sama, Dia tetap ngeyel mereka Nabila yang berbeda."


"Hahaha, lucu kan, Kak?"


"Lucu banget, aku aja tadi sampai capek menahan tawa, karena mamanya Rio begitu yakin kalau aku salah, dan dia benar."


"Karena itu, dari awal mamaku merencanakan semua ini, untuk membuat temannya itu sadar, manusia gak pernah luput sama yang namanya salah dan keliru."


"Emang harus ada orang yang membuat mamanya Rio itu sadar sih. Tapi, Dess---"

__ADS_1


"Kenapa, Kak?"


"Kok aku jadi gak yakin ya, untuk tetap berjuang jadi pacarnya Rio, setelah ketemu mamanya. Tante Hesti terlalu ajaib untuk jadi calon mertua, bisa ngenes aku kalau jadi mantunya, hahaha."


Di seberang sana, Dessy juga tergelak mendengar omongan Rara. Syukurlah gadis itu sudah sadar, kalau menjadi pacar Rio bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bisa membuat ngenes bahkan putus asa.


"Syukurlah, kalau Kakak sudah sadar."


"Terima kasih ya, Dess. Aku janji deh, gak akan melakukan hal gila lagi untuk mengejar Rio."


"Termasuk menunggu waktu dia ke toilet?" tanya Dessy sambil menahan tawa.


"Ah, jadi malu kalau ingat hal itu."


Rara dan Dessy tertawa, menertawakan kekonyolan yang pernah dilakukan Rara. Setelah berpamitan dan menutup telepon, Rara memacu motornya meninggalkan tempat itu.


Dessy masih senyum-senyum sendiri, ketika mamanya datang menghampiri.


"Kesambet ya kamu, Dess? Kok senyum-senyum sendiri gitu?"


"Dih, Mama. Kok tega banget bilang anaknya kesambet," seketika Dessy manyun.


"Habisnya, senyum-senyum sendiri kayak gitu. Ada cerita apa nih?"


Dessy menceritakan kedatangan Rara ke rumah Rio, juga ketidak percayaan Tante Hesti pada fakta yang disampaikan Rara padanya. Tante Anna ikut tertawa mendengarnya.


"Pasti besok, itu orang nanya ke Mama deh, siapa sebenarnya Nabila."


"Terus, Mama mau jawab apa?"


"Tinggal jawab, kalau Nabila itu memang keponakan Mama yang bapaknya meninggal di penjara."


"Kalau Tante Hesti gak mau berteman sama Mama lagi gimana?"


"Bodo amatlah, Dess. Kehilangan satu teman model kayak gitu gak ada pengaruhnya buat Mama, toh teman Mama masih banyak, dan jauh lebih baik dari dia. Mama jauh lebih sedih kehilangan teman seperti ibunya Nabila. Dia wanita yang kuat, dan menginspirasi buat Mama."


Dessy memeluk mamanya erat, ketika mendengar jawaban dari wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


__ADS_2