
"Kenapa, Bil? Kok tiba-tiba kamu kesal begitu?" tanya Dessy sambil mengikuti arah pandang Nabila.
"Gapapa kok, Dess. Ayo kita cepat turun dan segera cari kado buat mamamu, biar nanti pulangnya gak kemalaman!"
"Oke, tunggu sebentar, Bil! Pak, ini buat beli ketoprak, sambil nunggu kami belanja."
Dessy memberikan selembar uang warna merah pada sopirnya, yang disambut dengan ucapan terima kasih dan senyuman lebar.
"Makasih banyak ya, Non. Tau aja kalau Bapak emang lagi pengen makan ketoprak. Udah lama gak ke sini, Bapak jadi kangen sama ketoprak Mak Onah."
"Sama-sama, Pak. Aku kan majikan yang peka, tau aja sopirnya lagi pengen makan ketoprak."
Mereka bertiga tertawa mendengar omongan Dessy, termasuk juga Nabila yang baru saja tampak marah dan kesal. Dessy dan Nabila turun dari mobil, dan berjalan ke dalam mall.
"Kita beli apa ya, Bil, enaknya? Bingung aku nih."
"Mama kamu hobinya apa?"
"Mamaku hobinya ya kerja, makanya sampai anaknya kesepian di rumah sendiri," kata Dessy sedih.
"Jangan sedih, toh orang tua kerja juga buat anak juga kan? Ibuku juga pernah kerja ke Jakarta, gak pulang-pulang, bahkan sekedar menelepon juga jarang. Apa Ibu gak sayang sama aku?"
"Ya bedalah, Bil. Ibumu kerja jauh kan terpaksa..."
"Terpaksa harus ngasih makan aku? Anaknya yang beban ini?"
"Bu...bukan gitu juga, Bil, tapi..."
"Sudahlah, Dess, intinya gak ada kok orang tua yang gak sayang pada anaknya. Cuma cara mereka nunjukin aja yang berbeda."
"Iya deh, Bil. Jadi kita beli apa nih, enaknya?"
"Gimana kalau beli tas aja? Tuh di sana kayaknya bagus-bagus!"
Nabila menunjuk toko tas yang tampak ramai pengunjung, sepertinya barang-barang di toko itu bagus, karena tokonya tampak laris.
"Tau aja kamu toko tas bermerk, Bil. Itu tas yang biasa dipakai Mama. Yuk kita ke sana!"
Keduanya masuk ke dalam toko tas itu, dan mulai melihat-lihat.
"Yang itu, bagus gak, Dess?"
__ADS_1
"Aku juga mau nanya yang itu ke kamu, sepertinya selera kita sama."
Keduanya tertawa, kemudian meminta mbak-mbak SPG untuk mengambilkan tas yang mereka maksud untuk dilihat-lihat.
"Bagus ini, Dess, tapi harganya..."
"Wajar kok harga segitu. Ada harga ada kwalitas. Ya udah, saya mau yang ini, Mbak. Tolong dibungkus yang cantik ya, kado buat mama saya nih, dan tolong Mbak masukkan kartu ucapan ini!"
Mbak-mbak SPG itu mengangguk, kemudian meninggalkan Dessy dan Nabila. Sambil menunggu, mereka melihat-lihat tas yang lain.
"Mbak Bilaaaaa." Seorang anak kecil tiba-tiba memeluk Nabila.
"Eh, Tasya. Sama siapa, Sayang?" Nabila berjongkok menyamakan dengan tinggi Tasya.
"Sama Papa, sama Tante Rika. Tapi mereka berdua ilang, Tasya dari tadi cari mereka tapi gak ketemu."
"Tante Rika itu siapa?"
Tadi, saat di parkiran, Nabila memang melihat mereka bertiga. Rika seorang wanita yang kira-kira seumuran Winda, tapi dandanannya agak berlebihan. Melihat Dika dan teringat cerita ibunya, membuat Nabila tadi sempat marah. Tapi pada Tasya, Nabila tetap menunjukkan rasa sayangnya, ya, Nabila memang sudah menganggap Tasya seperti adiknya sendiri.
"Tante Rika itu istrinya Om Sueb, teman Papa, Kak."
"Mama Tasya kemana? Kok Tasya perginya sama Tante Rika?"
"Ya sudah kalau begitu, nanti Kak Bila akan nelpon papa Tasya, biar Tasya dijemput di sini."
Tasya tersenyum senang, kemudian memeluk Nabila erat. Begitupun Nabila, balas memeluk Tasya, untuk melepaskan rindunya pada si Adik Kecil.
"Anak siapa nih, Bil? Kamu mau nyul*k anak orang?" tanya Dessy yang dibalas Nabila dengan wajah kesal.
"Ini anak tetanggaku yang di rumah lama, dulu aku pernah menumpang di rumahnya, waktu ditinggal Ibu kerja di Jakarta."
"Berarti ini anak pem---"
Nabila menutup mulut Dessy dengan tangan, agar gadis itu tak dapat melanjutkan ucapannya yang sering ceplas-ceplos seenak udel.
"Bisa diam gak kamu, Dess? Dia cuma seorang anak kecil," kata Nabila.
"Tapi kan di tubuhnya mengalir juga darah bapaknya, darah seorang pemb*n*h."
"DESSY!"
__ADS_1
Tasya merasa takut, karena Nabila membentak Dessy, gadis kecil itu kembali memeluk Nabila dengan wajah yang disembunyikan di perut Nabila.
"Iya, maaf ya, Bil. Kamu memang berhati Hello Kitty kok. Terus ini gimana, bocah ini mau kita apain? C*lik aja yuk, tar kita minta tebusan, kan lumayan tuh," kata Dessy santai.
Nabila semakin melotot pada Dessy, sementara Tasya tampak semakin ketakutan. Candaan Dessy dianggap serius oleh bocah cilik itu.
"Bentar, akan ku telpon bapaknya."
Nabila menelepon Dika, untuk memberi tahu dimana Tasya. Dika yang sedari tadi panik dan marah-marah pada Rika, karena lalai menjaga anaknya, merasa lega. Tak lama, Dika datang ke toko tas tempat Nabila bertemu Tasya.
"Haduh, Tasya, kan sudah Papa bilang, jangan lepasin pegangan dari Tante Rika, nanti kamu bisa tersesat!"
Dika memeluk anaknya karena lega, di belakangnya tampak Rika berdiri salah tingkah.
"Habisnya, Tante Rika sibuk lihat-lihat baju dan sepatu mulu, Tasya kan pengen mandi bola, Pa."
"Tapi kan gak pergi sendiri kayak gini, untung ini ketemu sama Kak Bila, coba enggak gimana tuh?"
Tasya hanya menunduk, karena tau, papanya sedang marah karena keteledorannya.
"Makasih ya, Bil, udah nemuin Tasya. Kamu sama siapa ke sini?"
"Iya, sama-sama, Paklek. Ini, sama teman."
Dika mengeluarkan beberapa lembar warna merah dari dalam dompetnya, kemudian memberikannya pada Nabila.
"Ambil ini, Bil! Sebagai tanda terima kasih Paklek, karena kamu sudah menyelamatkan Tasya."
"Tak usah, Paklek. Nabila cuma kebetulan bertemu Tasya, dan gak akan mengambil keuntungan karena hal itu. Jangan samakan Bila dengan Paklek," tolak Nabila sinis.
"Apa maksud kamu, Ndhuk?"
Dika sangat terkejut, mendengar perkataan Nabila, pria itu tak pernah menyangka, anak mantan tetangganya bisa berbicara sesinis dan kurang ajar itu.
"Paklek pasti tau maksud Bila. Ayo, Dess, kita pulang! Sudah selesai kan belanjanya?"
Nabila mengandeng tangan Dessy untuk meninggalkan toko tas itu. Dika masih melongo tak percaya melihat sikap Nabila. Tasya menangis, karena masih kangen dengan Nabila. Dan Rika cuma bisa nyengir salah tingkah.
Nabila menarik Dessy memasuki toilet mall, kemudian menumpahkan tangisnya di sana. Dessy memeluk sahabatnya itu, dan membiarkan Nabila menumpahkan tangis.
"Menangis saja, Bil, biar hatimu lega! Aku tau rasanya kok, bertemu dengan orang yang membuat kita menderita, pastinya sakit banget. Sakit yang tak kasat mata, tapi terasa begitu nyeri."
__ADS_1
Nabila masih terus menangis, terkenang kembali akan wajah kesakitan bapaknya, waktu di klinik penjara.