Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 55


__ADS_3

Keesokan hari, Tante Hesti dan Tante Anna bertemu dalam sebuah acara arisan. Sesuai dugaan, Tante Hesti bercerita tentang kedatangan Rara ke rumahnya. Tetapi yang membuat Tante Anna melongo dan tak habis pikir dengan temannya, Tante Hesti menganggap Rara cuma mengada-ada. Tante Hesti tetap berpegang teguh pada keyakinannya, Nabila mantan Rio dan Nabila keponakan Tante Anna adalah orang yang berbeda.


"Heran banget aku, Jeng, kok ada ya cewek gatel kayak gitu? Melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati ku. Niat banget gitu lho, sampai bawa-bawa bukti foto yang direkayasa."


"Maksudnya gimana, Jeng?"


"Rara itu bawa foto Dessy, anaknya Jeng Anna dan sepupunya, Nabila. Nah, anak itu bilang, kalau yang di foto itu mantannya Rio yang anak napi. Yo jelas-jelas aku gak percaya, Jeng. Masa aku mau dikibuli sih?"


Dalam hati, Tante Anna tertawa ngakak, tapi dia tetap memasang wajah serius agar Tante Hesti yakin.


"Jadi, Jeng Hesti gak percaya, mereka orang yang sama?"


"Ya jelas enggak lah, Jeng. Gimana sih? Mana mungkin Jeng Anna ini punya saudara napi, wong Jeng Anna berasal dari keluarga yang terhormat, iya kan?"


Tante Anna cuma tersenyum misterius, tidak membenarkan atau menyalahkan dugaan Tante Hesti. Biarlah wanita itu berpegang pada keyakinannya yang jelas-jelas salah.


"Kok cuma senyum sih, Jeng Anna?"


"Harusnya gimana, Jeng Hesti? Bilang WOW gitu?"


"Jeng Anna ini memang bisa kalau becanda, deh. Jadi pengen jadi besannya."


"Jeng Hesti mau jodohin Rio sama Dessy?"


"Ya kalau mereka mau aku sih, yes. Tapi kalau gak mau, yang cukup Rio sama Nabila aja, toh masih kerabat dekatnya Jeng Anna juga kan."


Iya, Jeng. Aku juga ogah punya besan cerewet dan gak ada otak kayak Jeng Hesti, batin Tante Anna.


"Kapan-kapan, Jeng Anna ajak Dessy dan Nabila main ke rumah! Biar mereka lebih akrab, dan lekas jadian."


"Ya gak pantes dong, Jeng. Aturan Rio tuh yang main ke tempat Nabila, dia kan cowok, harus lebih berjuang."


"Memangnya, rumah Nabila dimana, Jeng?"


"Dekat kok sama sekolah mereka, Nabila aja jalan kaki kalau ke sekolah. Ibunya Nabila juga punya usaha kuliner, jadi kan bisa pura-pura beli."

__ADS_1


"Oh ya? Kalau begitu, kapan-kapan ku ajak Rio ke sana, icip-icip masakan besan kan gak ada salahnya yakan, Jeng?"


"Bener, Jeng. Aku aja ketagihan sama masakannya ibu Nabila, enak banget lho, jeng. Udah mirip masakan restoran. Kalau punya modal, udah ku suruh ibunya Nabila itu buka restoran, beneran deh," kata Tante Anna semakin kompor.


Mama Rio mengangguk-angguk mendengar omongan Tante Anna. Wanita itu semakin yakin, akan menjodohkan Nabila dengan putranya.


Di rumah Dika, Rika selalu memasang jerat setiap kali ada kesempatan. Pekerjaan Winda sebagai seorang bidan, membuat kesempatan itu seringkali muncul. Rika tak menyia-nyiakan kesempatan setiap ada pasien yang melahirkan, untuk menuntaskan hasrat bersama Dika. Bukan hanya di bengkel, mereka juga melakukannya di rumah.


Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya pernah jatuh juga. Secara tak sengaja, Bik Sari memergoki Dika dan Rika yang sedang janjian untuk menuntaskan hasrat. Keduanya tak menyadari, kalau Bik Sari mendengar percakapan mereka.


"Besok aku ke bengkel ya, Mas, setelah Tasya masuk kelas aku langsung otw. Kamu cepetan berangkat, biar kita bisa lamaan nganunya!" kata Rika manja.


"Haduh, kenapa mesti besok sih? Kan aku bisa capek, malamnya waktunya Winda minta jatah, kalau aku KO kan dia jadi curiga."


"Tenang aja, Mas! Nanti ku bawakan kamu jamu kuat, dijamin cespleng, dulu Bang Sueb sering minum jamu itu sebelum nganu."


"Beneran ada khasiatnya?"


"Bisa sampai tiga jam lho. Aku aja sampai kewalahan," Rika mengacungkan dua jempol sambil tersenyum.


Bik Sari tersenyum miring mendengar percakapan absurd mereka, tetapi wanita tua itu sangat memahami apa yang mereka bahas. Bik Sari punya sebuah rencana untuk menggagalkan rencana mereka.


Esok hari, setelah Rika dan Tasya berangkat, Dika segera menyusul. Pria itu tergoda dengan omongan Rika yang mau membuktikan keampuhan jamunya. Bik Sari yang melihatnya, kembali tersenyum miring. Wanita tua itu menemui nyonyanya di kamar.


"Nyah, pagi ini gak ada pasien yang urgent?"


"Urgent gimana, Bik?" tanya Winda bingung.


"Ya yang gak bisa ditinggal gitu lho."


"Oh, gak ada kok, Bik. Emang kenapa?"


"Tadi ada pesan dari Bapak, Nyonya di suruh Bapak nyusul ke bengkel sekarang."


"Mau ngapain, Bik?"

__ADS_1


"Bapak nyuruh Mbak Rika buat beli jamu yang dulu biasa dikonsumsi Bang Sueb. Nah, Bapak mau membuktikan keampuhan jamu itu sama Nyonya, begitu."


"Jamu apa, Bik? Perasaan Mas Dika gak suka minum jamu deh, Bibi aja gak pernah lihat dia minum jamu, kan?"


"Itu lah, Nyah, Bibi juga jadi heran. Mungkin Bapak penasaran banget sama keampuhan jamu itu dari cerita Mbak Rika, makanya mau membuktikan."


"Ada-ada aja Bibi ini."


"Serius, Nyah, Bibi gak bohong. Kalau Nyonya gak mau kesana, jangan nyesel kalau Bapak membuktikan keampuhan jamu itu sama Mbak Rika."


Bik Sari meninggalkan Winda yang jadi merasa penasaran. Winda segera bersiap, karena terhasut omongan Bik Sari. Winda tak mau Dika membuktikan bersama Rika, bukan dirinya.


Saat tiba di bengkel, cuma ada motor Dika yang tampak terparkir, tapi pintu bengkel belum dibuka sepenuhnya. Hanya pintu kecil di samping yang tampak terbuka. Winda langsung saja masuk ke dalam bengkel.


"Aku sudah sampai nih, Mas."


Winda tersenyum manis, tetapi Dika tampak terkejut.


"Lho? Tumben nyusulin Papa ke bengkel, ada apa, Ma?"


"Bukan e Papa yang titip pesan ke Bik Sari biar Mama nyusul ya?"


"Enggak kok, Papa gak---"


"Mas Dika, ini pesanannya, udah kubawa kan. Lho? Kok ada Mbak Winda?"


Rika yang baru saja sampai sambil membawa jamu, terkejut melihat Winda di tempat itu. Apalagi Winda yang langsung saja merebut jamu di tangannya dan menuangkan ke gelas.


"Nih, Mas, minum! Kira-kira ampuh gak tuh?" kata Winda sambil mengerling nakal.


Dika tak dapat menolak, meski beribu pertanyaan memenuhi benaknya, dari mana Winda tau soal jamu dan nyusul ke bengkel. Dengan dua kali teguk, jamu itu habis.


"Udah Mbak Rika, Mbak balik aja ke sekolah Tasya, takut Tasya nyariin! Terima kasih sudah membelikan pesanan Mas Dika."


Winda mengusir Rika yang masih bengong dan tak tau harus berkata apa. Tapi akhirnya wanita itu pamit,setelah mendapat kode dari Dika. Rika juga melihat, efek jamu itu mulai dirasakan Dika.

__ADS_1


"Awas aja kamu, Winda. Nanti malam giliranku, aku gak mau tau," kata Rika kesal sambil memukul jok motornya.


__ADS_2