Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 36


__ADS_3

"Siapa sih itu tadi, Mas? Kok sombong banget kelihatannya," tanya Rika pada Dika.


Tasya masih menangis, dan Dika masih berusaha membujuknya, tapi Rika malah menghujani pertanyaan yang menurut Dika sangat menyebalkan.


"Mas Dika! Orang nanya kok gak dijawab sih? Itu namanya gak sopan tau!"


"Bisa diam gak, Mbak Rika? Atau paling gak, tenangin Tasya, itu kan tugasmu! Kamu dibayar untuk itu," kata Dika geram.


Rika cemberut, tapi tetap mendekat dan membujuk Tasya, dan bocah itu semakin keras menangis.


"Diam, atau Tante Rika dan Papa pulang, tapi Tasya ditinggal di sini, biar dicul*k!" ancam Rika di telinga Tasya, seketika bocah itu berhenti menangis.


"Sudah tenang Tasya-nya, Mas Dika!" lapor Rika.


"Kalau begitu, mari kita pulang, lagian hari kerja gini ngajak jalan-jalan, gak tau apa kalau saya itu capek, pulang kerja!"


Dika masih menggerutu, kemudian berjalan mendahului menuju parkiran. Rika mengandeng tangan Tasya, dan mengikuti Dika dari belakang. Senyum riang, tercetak di bibir Rika yang merah karena lipstik, wanita itu berhasil membuat Dika, majikannya, membelikan dia satu stel baju dan sepasang sepatu.


Di toilet mall, Nabila sudah menguasai diri, gadis itu sudah berhenti menangis. Dessy memberikan sebungkus tissu untuk membersihkan sisa air mata dari wajahnya.


"Kita pulang, Bil?"


"Maafkan aku ya, Dess! Karena aku, acara belanja kamu jadi berantakan."


"Gapapalah, lain kali kan bisa jalan-jalan lagi kayak gini. Yang penting, kado buat mamaku udah dapat. Yuk, kita pulang!"


Nabila mengangguk, setelah keduanya merapikan diri di toilet, mereka segera beranjak ke tempat parkir. Di sana, ternyata mereka bertemu kembali dengan Dika, Tasya dan Rika.


"Mbak Bilaaaa."


Tasya kembali berlari dan memeluk Nabila, Dika yang melihatnya menggaruk kepala kasar, pria itu tak ingin melihat Nabila berbuat kasar pada gadis kecilnya.


"Tasya belum pulang?" tanya Nabila lembut.


"Tasya masih kangen sama, Mbak Bila. Kenapa Mbak gak pernah main ke rumah Tasya lagi?"


Nabila melihat pada Dika dan Rika yang berdiri dari jauh, sebelum menjawab pertanyaan Tasya," Mbak sibuk, Sya. Pulang sekolah Mbak harus membantu Budhe berjualan di warung. Kan Mbak sekarang sudah gak punya bapak, jadi harus kerja biar bisa makan."

__ADS_1


"Bapaknya Mbak Bila kemana?"


"Bapaknya Mbak Bila kan sudah meninggal, Sya. Ada yang memb*nuh bapaknya Mbak."


Dika dan Rika yang mendengar ucapan Nabila pada Tasya tampak geram, anak sekecil Tasya tak akan paham dengan maksud ucapan Nabila yang kasar. Tapi Nabila hanya tersenyum sinis melihat ekspresi kedua orang itu.


"Wah, kejam ya orang yang memb*nuh bapaknya Mbak Bila," kata Tasya prihatin.


"Ya jelas kejam, Sya. Gara-gara mereka, hidup Mbak Bila dan Budhe jadi susah, harus kerja keras buat cari makan. Tasya harus bersyukur, masih punya mama dan papa yang lengkap, jadi Tasya gak perlu susah kayak Mbak Bila, keinginan Tasya juga akan selalu dituruti."


"NABILA, KAMU NGOMONG APA? TASYA ITU MASIH KECIL, JANGAN RACUNI PIKIRANNYA!!"


Nabila menatap Dika yang berani membentaknya, hingga membuat orang-orang di parkiran yang mendengar, jadi menatap penasaran.


"Kenapa, Paklek? Bukankah yang Nabila bilang ke Tasya itu sebuah kebenaran? Paklek takut ya, Tasya mengetahui kebenaran?"


"Dasar bocah sial, buah jatuh tak jauh dari pohon, anak pemb*nuh akan jadi pemb*nuh juga!"


"Biasanya memang seperti itu, Paklek, itu sudah hukum alam. Jadi mungkin saja, anak semanis Tasya kelak akan mengikuti jejak bapaknya, karena bapaknya memberi makan anaknya dengan uang hasil---"


Nabila hanya menyeringai sinis, melihat ke arah Dika. Tasya yang melihat papanya berbicara kasar pada Nabila, mulai menangis.


"PAPA JANGAN MARAH PADA MBAK BILA!"


Gadis kecil itu berlari ke arah papanya dan memukuli pria itu dengan kepalan tangan mungilnya. Rika berusaha membujuk Tasya supaya berhenti menangis, namun tidak berhasil. Dessy dan sopirnya hanya melihat, tak ikut melibatkan diri, namun bersiap-siap andai ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


Rika tampak menghampiri Nabila dengan pandangan tidak suka," apa sebenarnya maksud kamu, Bocah ingusan?!!"


"Tante istrinya Om Sueb, kan?"


"Kalau iya, kenapa?"


"Tanyakan pada suami Tante, apa yang telah dilakukannya pada bapakku, Pak Bakir!"


Rika mengerutkan kening, dalam hati wanita itu bertanya, apa gadis di depannya belum tau kalau Bang Sueb sudah mati?


"Kenapa, Tante? Takut mendengar kebenaran dari suami Tante?"

__ADS_1


"Heee, Bocah, apa kamu belum tau, Bang Sueb sudah mati karena kecelakaan?"


Nabila menyeringai mengerikan, "memang Tuhan tak pernah tidur, Dia akan membalas perbuatan setiap orang berdasar apa yang ditaburnya. Nyawa ganti nyawa."


"APA MAKSUDMU, HAH?"


"Tanyakan saja pada Paklek Dika, kalau Tante ingin tahu!"


Rika tampak mengerutkan kening, dan memandang penuh tanya pada majikannya, tapi lelaki itu malah membuang muka. Dessy menghampiri Nabila dan mengajaknya masuk ke mobil, karena sahabatnya itu sudah tampak berantakan, akibat menahan emosi.


"Yuk, Bil, kita pulang!"


Nabila menurut, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. Pak Sopir segera melajukan mobil meninggalkan tempat itu, tangis Nabila kembali pecah.


"Puas-puasin deh kamu nangis, tapi nanti kamu jangan nangis lagi di depan Ibu, ya!"


Nabila tidak menjawab, tapi masih terus menangis.


"Jangan sampai Ibu tahu, kamu tadi bertemu dengan mereka, kasihan Ibu. Bebannya sudah berat banget, jangan ditambah lagi!" kata Dessy lagi.


Nabila hanya mengangguk, sambil mengusap air matanya dengan selembar tisu,kemudian menarik napas untuk menenangkan diri.


"Kamu tau gak, Dess? Perempuan yang tadi itu istri pemb*nuh bapakku juga. Suaminya dan Paklek Dika, adalah beg*l yang memb*nuh wanita yang ditolong bapakku. Bapakku melihat mereka berdua beraksi waktu lewat di tempat itu, mereka pakai helm fullface, tapi bapakku masih mengenali mereka."


"Kenapa bapakmu gak membantah tuduhan terhadapnya?"


"Bapakku tak punya bukti, Dess. Semua bukti malah mengarah ke bapakku sebagai pelaku. Tempat itu sepi, saksi yang kebetulan lewat tak lagi melihat kedua orang itu, tapi melihat bapakku yang memegang pisau yang dicabut dari perut wanita itu."


"Kamu yakin kan, Bil? Semua perbuatan pasti ada balasannya?" tanya Pak Sopir yang ikut membuka suara.


"Yakin, Pak! Tadi kan Bapak dengar sendiri, salah seorang dari mereka sudah tewas karena kecelakaan."


"Nah, karena itu, kamu jangan terbeban lagi dengan menumpuk kebencian pada mereka dalam hatimu. Itu akan menghalangi kamu untuk bahagia, lepaskan saja beban itu! Biarkan Tuhan yang akan bertindak, kamu diam saja!"


"Iya, Pak! Nabila mengerti maksud Bapak. Terima kasih buat nasehatnya ya, Pak."


Pak Sopir dan Dessy tersenyum pada Nabila, gadis itu kuat, tapi mempunyai hati yang lembut dan tulus.

__ADS_1


__ADS_2