
Dika sudah berangkat ke bengkel, Tasya sudah di sekolah, dan Rika pamit untuk mengambil barang-barangnya di kontrakan. Winda masih tampak termenung di depan meja makan, memikirkan obrolannya dengan Dika.
Bik Sari yang melihat majikannya melamun, mendekat dan duduk di depan Winda.
"Kok melamun mulu sih, Nyah? Kayak ABG lagi kasmaran aja," canda Bik Sari.
"Bik, apa pendapat Bibi tentang Mbak Rika?"
"Eh iya, Nyah...sebenarnya ada yang Bibi pengen pada Nyonya, tapi janji dulu, jangan marah!"
"Masalah apa, Bik?"
"Ya masalah Mbak Rika itu, Nyah. Bibi kok curiga gitu sama dia."
"Curiga apa, Bik?"
"Kalau Bibi lihat, itu si Mbak Rika kok sikapnya aneh gitu ke Bapak. Kayak ganjen-ganjen gimana gitu lho, Nyah. Nyonya harus waspada nih!"
"Masa sih, Bik? Kok kalau di depanku enggak tuh, dia seolah jaga jarak sama Mas Dika."
Winda membantah pendapat Bik Sari, karena yang dia lihat, Rika cuma fokus pada Tasya, anaknya. Tapi entah jika di belakang Rika berbuat seperti itu, Winda tidak menjamin. Rika masih muda, mungkin usianya masih di bawah Winda, dan lagi, Rika seorang janda.
"Hadeh, Nyonya...mana ada maling mencuri di depan mata yang punya, sih? Kalau begitu kan penjara bisa penuh, Nyah."
"Bik Sari lihat sendiri kan? Maksud ku, bukan berdasar laporan orang?"
"Iya, Nyah. Bibi lihat sendiri kok, dengan mata di kepala ini," kata Bik Sari sambil menunjuk matanya.
Winda semakin merasa gusar. Bik Sari sudah lama berkerja di keluarganya, bahkan sejak Winda masih kecil. Bik Sari sudah seperti keluarga, tak mungkin berbohong, lagi pula, tak ada gunanya bagi Bik Sari.
"Gini aja deh, Nyah. Coba Nyonya tanya sama Non Tasya, dia sering tuh lihat Mbak Rika berusaha merayu Bapak. Anak kecil kan gak mungkin bohong, Nyah."
"Benar juga, nanti aku akan coba tanya sama Tasya, Bik. Terus? Suamiku responnya gimana, Bik?"
__ADS_1
"Bapak sih gak nanggepin, Nyah. Mungkin itu juga yang bikin Bapak lebih kerasan di bengkel, dari pada di rumah. Sebel lihat dan ketemu Mbak Rika."
"Ya bisa jadi sih, Bik. Kan Bibi tau sendiri gimana Mas Dika, kerja yang jauh aja dia tinggalkan, karena pengen lebih sering ketemu anak dan istrinya. Masa sekarang lebih kerasan di bengkel, dari pada di rumah, kan?"
"Nah, berarti emang ada yang gak beres tuh, Nyah. Saran Bibi sih, jangan piara anak singa di dalam rumah, jika tak ingin di makan olehnya. Masih mending juga piara anjing, tak akan pernah menggigit tangan yang sudah kasih makan!"
"Iya, Bik. Aku akan hati-hati, terima kasih atas peringatannya, ya."
"Sama-sama, Nyah. Bibi cuma ingin keluarga Nyonya selalu bahagia, rukun terus sampai jadi kakek-nenek, jangan sampai dirusak oleh orang dari luar."
"Iya, sekali lagi terima kasih, aku juga sudah menganggap Bibi seperti keluarga, jadi jangan pernah sungkan ya, Bik!"
Winda memeluk wanita yang menjadi pengasuhnya sedari kecil, yang sudah dia anggap sebagai pengganti ibunya.
Di kontrakannya, Rika sedang sibuk membereskan pakaiannya, karena cuma itu yang sekarang dia punya. Semua barang yang sekiranya laku dijual, sudah dia jual, bahkan perkakas dapur, dia jual juga ke tukang rongsok. Wanita yang sungguh tak mau rugi walau hanya sepeser, materialistis.
Rika tersenyum, dua tas besar berisi semua pakaian sudah terikat di atas motor pinjaman dari sang majikan, tinggal pergi meninggalkan tempat itu. Rika tidak ada niatan untuk pamit pada tetangga kontrakannya, apalagi kepada yang punya. Uang kontrakan selama tiga bulan belum dibayar, dan Rika berniat pergi begitu saja dengan meninggalkan kunci kontrakan menempel di pintu, licik.
Jam kerja membuat suasana kontrakan itu cukup sepi, membuat Rika leluasa menjalankan semua rencananya. Dengan santai, wanita itu mengendarai motor matic majikannya, pergi dari kontrakan yang telah dihuninya bersama Sueb lima tahun belakangan.
"Tasya, saya yang jemput, Mbak Winda?" tanya Rika basa-basi.
"Gak usah, Mbak. Tasya dijemput papanya, Mbak Rika beres-beres aja dulu! Masih banyak barangnya dari kontrakan?"
"Udah gak ada, Mbak, cuma ini aja kok. Yang lain sudah saya jual, buat makan setelah ditinggal Bang Sueb," kata Rika seolah sedih.
"Selama Bang Sueb ada, Mbak Rika gak kerja?"
Rika menggeleng,"Bang Sueb itu pengen banget punya anak, Mbak. Jadi saya tak boleh kerja, katanya biar gak terlalu lelah dan cepat punya anak. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, sampai hampir enam tahun menikah, kami belum punya anak."
"Udah pernah periksa?"
"Saya sih udah, kata dokter saya sehat, gak ada kendala tentang kesuburan, entah kalau Bang Sueb. Dia tak pernah mau diajak ke dokter, takut katanya."
__ADS_1
"Lha takut kenapa?"
"Takut kalau ternyata kebiasaan buruknya membuat dia yang ternyata mandul."
"Bisa jadi sih seperti itu," jawab Winda singkat.
"Kalau begitu, saya lanjut beres-beres dulu ya, Mbak. Gak jemput Tasya, kan?"
Winda hanya mengangguk tanpa menoleh, tangannya sedang sibuk mengaduk agar-agar di atas kompor, Tasya ingin makan pudding buah.
Bik Sari yang melihat keduanya dari tempat dia menyeterika baju, hanya menggeleng. "Dasar Babu gemblung, wong majikan sibuk masak kok malah diajak ngobrol, mana sambil duduk di situ lagi, mandor, kayak dia aja juragannya," gerutu Bik Sari.
"Bik, tolong pudding yang ku bikin ini nanti masukkan ke kulkas ya! Aku mau keluar sebentar, mau belanja," pesan Winda pada Bik Sari.
"Beres, Nyonya."
Rika tergopoh keluar dari kamarnya, mendengar Winda pamit pada Bik Sari.
"Mbak Winda, boleh saya ikut belanja? Ada beberapa barang keperluan yang mau saya beli," kata Rika.
"Maaf, Mbak! Aku perginya sama Tasya dan papanya. Kalau Mbak Rika mau belanja juga, pakai aja itu motor buat belanja di pasar."
"Saya gak mau belanja di pasar, Mbak, barang yang ingin saya beli adanya cuma di mall, karena itu saya mau nebeng sama Mbak Winda."
"Emang belanja apa? Nitip aja ke aku, nanti ku belikan!"
"Baiklah kalau begitu, sebentar ya, saya ambil catatannya!"
Winda hanya menggeleng melihat kelakuan Rika, sedang Bik Sari tampak melotot kesal. Dalam hati, perempuan tua itu mengutuk Rika yang keterlaluan, tak ada hormatnya pada majikan.
"Ini, Mbak catatannya! Tapi..."
"Tapi apa, Mbak?"
__ADS_1
"Duitnya kasbon dulu ya, nanti Mbak Winda potong aja dari gaji saya!"
Winda mendengkus kesal, dan berubah menjadi terbelalak menahan emosi. Barang-barang yang dipesan Rika, adalah kosmetik mahal dengan merk sama seperti yang dipakainya.