Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 40


__ADS_3

Nabila masih saja asik dengan ponselnya, meskipun Dessy dan Rio sering kali menyebut namanya agar bergabung dalam obrolan mereka. Nabila hanya menjawab dengan mengangguk dan menggeleng saja, Rio merasa kesal melihatnya, sebaliknya Dessy merasa senang.


Tante Hesti dan Tante Anna sudah kembali ke ruang tamu, pertanda urusan mereka berdua sudah usai. Tak lama, Tante Anna mengajak Dessy dan Nabila untuk berpamitan.


"Kapan-kapan main lagi ke sini ya, Jeng. Jangan lupa ajak keponakanmu itu, tampaknya Rio anakku ada hati sama dia," bisik Tante Hesti saat berjabat tangan dengan Tante Anna.


"Oke, siap. Emang Jeng Hesti gapapa, kalau Rio pacaran sama dia? Dia bukan dari keluarga seperti Jeng Hesti lho, bahkan dia seorang anak yatim," kata mama Dessy.


"Maksudnya?"


"Ya dia dari kalangan biasa saja, gitu."


"Gapapa kok, Jeng. Daripada Rio pacaran sama si anak napi, apa kata orang? Ya kan?"


Mama Dessy hanya tersenyum mendengar perkataan mama Rio, tak disangka temannya itu ternyata picik sekali dalam bersikap.


"Mamaaa, kita udah pamitan dari tadi, eh masih aja ngobrol," sungut Dessy.


"Ah, iya sampai lupa. Ya sudah, Jeng Hesti, kami pamit dulu,"


Rio dan mamanya mengantarkan mereka sampai depan pintu, tatapan mata Rio juga tak pernah lepas dari Nabila. Mamanya memperhatikan hal itu.


Usai dari rumah Rio, mama Dessy mengajak mereka jalan-jalan ke mall. Mama Dessy membelikan banyak hadiah buat Nabila dan anaknya, wanita itu tak membedakan keduanya, sudah menganggap Nabila seperti anaknya sendiri.


Jika Nabila merasa sangat bahagia karena perlakuan Dessy dan mamanya yang sangat baik, berbanding terbalik dengan Dika dan keluarganya. Rika memulai aksinya, membuat rumah tangga Dika dan Winda mulai goyah.


Pagi itu, Rika datang ke rumah Winda dengan wajah yang dibuat tampak sedih. Tidak seperti biasanya, Rika yang kadang cerewet dan bercanda dengan Tasya, pagi itu menjadi banyak diam.


"Tante Rika sakit, ya? Kok diam terus?" tanya Tasya dengan polosnya.


"Enggak kok, Sayang."


"Kok gak ngomong?"


"Tante lagi sedih saja, kok."


Winda yang kebetulan melintas di depan kamar anaknya, mencuri dengar percakapan itu. Rika tau, tapi berpura-pura tidak tau, wanita itu bahkan menyembunyikan senyum liciknya.


"Mungkin Tante tak akan menemani Tasya lagi," kata Rika sendu.


"Kenapa, Tante? Apa karena Tasya nakal?" Tasya mulai menangis.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Tasya anak manis kok, Tante sayang banget sama Tasya, tapi..."


"Tapi apa, Tante?"


"Tante harus pindah, Sayang."


"Emang ada masalah apa, Mbak Rika?" Winda tak tahan untuk ikut nimbrung, karena melihat Tasya yang sedih.


"Eh, Mbak Winda. Anu Mbak, saya diusir dari kontrakan, karena tidak mampu bayar. Karena itu, saya mau pulang ke rumah orang tua saya, dan tempatnya jauh dari sini, gak mungkin kalau saya pulang pergi, berat di ongkos."


"Kok bisa gak mampu bayar kontrakan?"


"Gaji saya dari Mbak Winda, habis untuk bayar utangnya Bang Sueb, Mbak. Selama dia menganggur, kami banyak berhutang."


"Tasya maunya sama Tante Rika, Ma! Gak mau Tante Rika pergi!" gadis kecil itu menangis dan memeluk mamanya.


"Gini aja deh, Mbak. Mbak tinggal aja di sini, kan ada tuh kamar satu yang kosong, dekat kamar Bi Sari! Tasya sudah nyaman banget sama Mbak Rika kayaknya, dia gak mau sama pengasuh yang lain."


Rika menyembunyikan senyum jahatnya, dan kembali menampakkan wajah sedih, rencana pertamanya mulai berhasil, mempengaruhi Tasya.


"Apa, Mbak Winda tak keberatan, saya tinggal di sini?"


"Enggak kok, Mbak, senang malah."


"Gampang lah itu, toh Mas Dika juga jarang di rumah, yang penting Tasya merasa nyaman."


"Baiklah kalau begitu, Mbak. Nanti setelah mengantar Tasya ke sekolah, saya ijin pinjam motor, buat ambil barang-barang saya ya?"


"Iya, Mbak, pakai saja!"


"Horeee, Tante Rika mau tinggal di sini. Tasya gak bakal kesepian lagi, kalau Mama banyak pasien," sorak Tasya gembira.


Gadis kecil itu menciumi pipi mamanya sebagai ucapan terima kasihnya, sedang Rika menyeringai licik.


"Yuk, Tasya, sini Tante lanjut kuncir rambut Tasya!" kata Rika.


"Sudah sana, Sayang, ke Tante Rika! Setelah ini sarapan ya! Bi Sari masak soto ayam kesukaan Tasya tuh!"


"Siap, Mama. Yuk Tante Rika, cepetan kuncirnya, Tasya sudah lapar nih!"


Winda tersenyum, kemudian meninggalkan kamar Tasya, Rika melanjutkan kegiatannya, menyiapkan Tasya untuk ke sekolah. Dika yang tak sengaja mendengar percakapan istri, anaknya dan Rika, menjadi geram, Dika semakin tidak suka pada Rika.

__ADS_1


"Ma, Papa mau ngobrol, Papa tunggu di kamar!" bisik Dika pada Winda.


"Sekarang?"


"Hem, nanti saja deh, setelah Tasya berangkat ke sekolah. Sekarang kita sarapan dulu!"


Winda mengangguk, kemudian menuju meja makan. Di sana Tasya sudah mulai sarapan bersama Rika, tentu saja. Rika menyuapi Tasya, padahal Tasya sudah terbiasa makan sendiri.


"Manja banget anak Mama, biasa juga sarapan sendiri!" tegur Winda.


"Gapapa, Mbak. Takutnya nanti seragam Tasya kena kuah soto, kan biasa anak kecil suka belepotan kalau makan sendiri," Rika yang menjawab.


"Jangan dibiasakan, Mbak! Kami selalu mengajari Tasya jadi anak yang mandiri, bukan anak manja," kata Dika ketus.


Winda hanya menggelengkan kepala mendengar kata suaminya, tidak biasanya Dika bersikap seperti itu. Biasanya juga Dika sangat memanjakan Tasya, tapi sikapnya pada Rika seperti ada yang aneh saja.


"Iya, Mas Dika, maaf! Lain kali saya akan biarkan Tasya makan sendiri," kata Rika.


"Papa, nanti pulang sekolah, Tasya ke bengkel Papa, ya?"


"Mau ngapain? Gangguin Papa kerja?"


"Mas!!" tegur Winda mendengar suaminya bicara ketus pada anaknya.


"Tasya cuma kangen sama Papa, Tasya gak bakal ganggu Papa kok, cuma lihat saja," kata Tasya sendu.


Dika menghela napas, beberapa minggu ini dia memang lebih sering di bengkel sampai larut. Pria itu juga sangat merindukan anaknya, tapi dia sengaja pulang larut, agar tak bertemu Rika.


"Kalau Tasya maunya gitu, biar Papa yang jemput dari sekolah ya? Pulangnya juga nanti bareng Papa, sore. Bagaimana?"


"Oke, Papa. Tasya mau kok."


Tasya merasa senang, papanya mau menjemputnya ke sekolah, sedang Rika tampak cemberut, kesempatannya mendekati Dika, hilang sudah untuk hari ini.


Setelah Tasya berangkat ke sekolah dengan diantar Rika, Winda mendekati suaminya yang sedang merokok di teras.


"Mas mau ngobrol apa sama Winda?"


"Kenapa kamu membiarkan Rika tinggal di sini? Kamu tau siapa dia?"


Winda tertawa mendengar pertanyaan suaminya. Bagaimana mungkin dia tak tau Rika? Pengasuh anaknya dan juga janda dari teman suaminya.

__ADS_1


"Dia kan istri Bang Sueb, Mas. Lupa?"


"Iya, dia janda Sueb. Dan karena dia, Sueb meninggal. Dia itu pemb*nuh berdarah dingin," kata Dika yang mengejutkan istrinya.


__ADS_2