Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 34


__ADS_3

Dika pulang ke rumah dengan tubuh yang tampak lelah. Tasya segera menyambut papanya di depan pintu, sambil merengek minta jalan-jalan.


"Pa, hari ini Tasya sudah jadi anak manis, udah nurut juga sama Tante Rika. Jadi Papa harus ngajak Tasya jalan-jalan dong!"


"Haduh, Tasya, Papa capek banget nih, lain kali saja ya kita jalan-jalan. Hari Minggu deh, sama Mama juga, gimana?"


"Tasya gak mau, maunya sekarang!" Tasya sudah menunjukkan tanda-tanda mau menangis.


"Tapi Papa capek, Sayang. Lagi pula kan Mama ada pasien, masa kita jalan-jalan cuma berdua, kan gak seru," Dika coba untuk menawar.


"Kita ajak Tante Rika, Pa."


"Lho? Kan Tante Rika jam segini sudah pulang, Sayang."


"Enggak kok, Tante Rika masih di sini, mau nemenin Tasya jalan-jalan, sama Papa juga."


Dika hanya melongo mendengar Rika masih di rumahnya, sebenarnya ada firasat kurang enak tentang perempuan itu. Pada saat Sueb, suami Rika, meninggal, Rika sudah membuat Dika kecewa.


"Kan gak enak, kalau jalan-jalannya sama Tante Rika, enak juga sama Mama, Sayang," Dika mencoba membujuk anaknya.


"Ta...tapi, kalau sama Mama lamaaaa. Tasya kan pengennya sekarang jalan-jalannya. Pokoknya Tasya maunya sekarang," Tasya mulai merajuk.


Dika menghela napas, gadis kecilnya susah ditolak kalau menginginkan sesuatu, persis seperti dirinya, akan melakukan segala cara agar terkabul.


"Ya sudah kalau begitu, Tasya siap-siap dulu sama Tante Rika! Papa mau mandi dulu ya."


"Horeee, terima kasih, Papa!"


Tasya memeluk dan mencium pipi papanya, gadis kecil itu sangat senang, keinginannya bisa terkabul. Rika yang melihat hal itu dari belakang dinding, tampak menyeringai puas.


Dika menghampiri istrinya di tempat praktek, untuk berpamitan," Ma, Tasya ngajak jalan-jalan tuh, boleh gak kalau perginya sama si Rika?"


"Hah? Kok mendadak, Pa?"


"Papa juga baru sampai, terus ditodong Tasya buat jalan-jalan, aku suruh tunggu kamu, Tasya gak mau. Gimana nih?"


"Kayak gak tau gimana anakmu aja, pasti nangis kalau gak dituruti. Yaudah, Papa pergi aja sama Mbak Rika! Tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa, Ma?"


"Tapi Papa jangan macem-macem, Mbak Rika kan janda, mana genit lagi," Winda tampak manyun.


"Cie cie, Mama cemburu nih, ceritanya?"


Dika tertawa, melihat ekspresi cemburu istrinya pada Rika, terlihat mengemaskan. Tapi Winda bertambah cemberut, karena Dika menganggap cemburunya hanya sekedar gurauan.


"Mama serius nih, Pa! Mbak Rika itu kalau Mama perhatikan, suka genit ke Papa."


"BU...BU BIDAN, TOLONG ISTRI SAYA BU!"


Seorang bapak tampak tergopoh memanggil Winda, membuat wanita itu bergegas menghampiri pasiennya yang merintih kesakitan, waktu bersalin rupanya sudah tiba. Dika menganggap dia sudah mendapat ijin dari istrinya, karena itu dia segera bersiap-siap.


Rika sedang menganti baju Tasya di kamar gadis kecil itu, dia sendiri sudah berganti baju dan bersolek, sedikit berlebihan.


"Tasya senang nih, kita mau jalan-jalan?"


"Senang sekali, Tante. Sudah lama Tasya gak diajak jalan-jalan sama Mama Papa, mereka sibuk terus."


"Tapi...tapi Tante suka mabok kalau naik mobil, gimana nih, Sayang?"


"Nanti Tasya bilang sama Papa deh, Tante, kalau kita naik motor saja. Tante gak mabok kan kalau naik motor?"


"Enggak, kan Tante sudah biasa naik ojek."


"Oke, Tante, nanti Tasya bilang sama Papa."


Rika tersenyum senang, sekali lagi rencananya berhasil. Perlahan namun pasti, keluarga Dika mulai masuk dalam jebakannya.


Di tempat lain, Dessy mengajak Nabila berjalan-jalan di mall, gadis itu ingin membeli kado untuk mamanya, Nabila diminta membantu pilihkan. Nabila sangat senang, ibunya juga mengijinkan, jarang sekali Nabila dapat pergi ke tempat seperti itu, meski cuma sekedar melihat-lihat.


"Emangnya, kamu mau beli kado apa,Dess?"


"Entah, Bil, aku juga masih bingung nih, makanya aku ajak kamu. Untung aja ibu kamu ngijinin, kan kita perginya agak jauh."


"Kalau perginya sama kamu, pasti Ibu kasih ijin, Dess. Perginya juga kan diantar sopir, jadi amanlah, kata ibuku."

__ADS_1


"Pastinya sih begitu, aku juga gak mungkin dapat ijin keluar sore-sore gini kalau gak diantar sopir."


"Eh, Dess, aku boleh nanya gak?"


"Nanya apa?"


"Itu lho, yang soal Raka kemarin, kok aku penasaran gitu lho."


Dessy menghela napas, wajah gadis itupun berubah sedih, membuat Nabila merasa bersalah.


"Eh...kalau kamu keberatan, gapapa kok kalau gak cerita, Dess," kata Nabila salah tingkah.


"Ceritanya panjang sih, Bil. Yang jelas, papaku dan papanya Raka itu dulu bersahabat. Bukan cuma mereka berdua, keluarga kami juga dekat banget, bahkan, aku dan Raka akan dijodohkan, supaya keluarga kami semakin dekat."


"Terus?"


"Raka dan keluarganya tentu saja senang, karena akan bisa memanfaatkan papaku untuk memperlancar bisnis mereka. Tapi aku menolak."


"Lha kenapa? Kan Raka itu cakep, dari keluarga yang sederajat sama keluargamu juga kan?"


"Mereka itu licik, Bil. Niatnya gak baik, terbukti kemudian, mereka berusaha memfitnah papaku. Karena fitnah mereka, papaku sempat ditangkap dan masuk penjara, tapi kemudian dibebaskan karena terbukti tak bersalah."


Tak terasa, Nabila menahan napas mendengar cerita Dessy, kasus papa Dessy hampir mirip dengan kasus bapaknya, hanya bedanya, bapak Nabila tak berhasil membuktikan dirinya tak bersalah.


"Lantas, gimana tuh sikap keluarga Raka?"


"Pada saat papaku di penjara, Raka menghasut teman-teman di sekolah untuk memusuhi aku, persis sama dengan sikap teman-teman kita sekarang ke kamu, itu yang dulu ku rasakan, Bil. Makanya, aku paham banget perasaan kamu, karena pernah juga merasakan."


"Ternyata, si Raka itu sejahat itu ya, Dess?"


"Dia tak terima, karena aku menolak untuk dijodohkan dengannya, dan dia katanya cinta mati sama aku. Itulah sebabnya, dia tega menghasut papanya untuk menghancurkan karier dan bisnis papaku."


"Ternyata, masalah orang kaya, rumit juga ya, Dess?"


"Namanya masalah, tak memandang kaya atau miskin, Bil. Itu kan ujian dari Tuhan, kalau kita berhasil melewatinya, berarti kita udah naik level dalam menjalani kehidupan."


"Benar juga sih katamu, apa sekarang kamu masih benci sama Raka? Ku lihat kemarin kamu emosi banget padanya."

__ADS_1


"Benci orangnya sih enggak, yang ku benci itu perbuatannya, aku gak suka caranya memfitnah orang. Aku masuk ke SMA kita sekarang kan bisa dibilang dengan identitas baru, aku gak mau ada yang mengenaliku sebagai anak orang kaya. Aku ingin mencari teman yang benar-benar tulus, gak memandang harta orang tuaku. Dan kalau sampai si Raka itu buka mulut, bisa berantakan rencanaku."


Nabila mengerti maksud sahabatnya itu, dan berjanji akan selalu mendukung Dessy dalam menghadapi Raka dan tindakannya. Mereka telah sampai di parkiran mall, dan mata Nabila menangkap pemandangan yang membuatnya mengepalkan tangan menahan marah.


__ADS_2