Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 49


__ADS_3

Setelah Winda pergi dari dalam kamarnya, tampak Rika yang tersenyum licik.


"Kita lihat saja nanti, Mbak Winda! Jangan panggil aku Rika, kalau menggaet suamimu saja aku tak bisa. Sekarang kamu boleh berlagak di depanku, tapi nanti, akan tiba waktunya bagi kamu untuk sujud di kakiku, berharap belas kasihan. Ya, itu akan terjadi, karena aku yakin, suamimu akan bertekuk lutut padaku," gumam Rika sambil menyeringai.


Bik Sari yang melihat Winda keluar dari kamar Rika dengan tampang kusut, segera membuatkan secangkir teh hangat, untuk menenangkan majikannya itu.


Tok...tok...tok...tok.


"Nyah, ini Bibi. Boleh Bibi masuk?"


"Ya, Bik. Masuk saja!" sahut Winda dari balik pintu.


"Ini, Nyah. Bibi bikinin teh hangat, biar mood Nyonya jadi bagus lagi."


Bik Sari menyerahkan cangkir yang dibawanya, dan Winda segera meneguk isinya dengan rakus.


"Terima kasih, Bik. Bibi ini memang orang yang paling mengerti aku, deh."


"Ya iya lah, Nyah. Kan Bibi yang merawat Nyonya sejak dari orok. Bibi bisa mengerti apa yang Nyonya mau tanpa harus bertanya."


Winda memeluk Bik Sari dan menumpahkan tangisnya di sana. Wanita tua itu menepuk-nepuk punggung sang Nyonya yang tampak terguncang menahan isak.


"Sabar, Nyah! Semua niat jahat gak akan pernah berhasil, selama kita berpasrah sama Tuhan. Biar Tuhan saja yang membalaskan semuanya, kita hanya perlu diam dan melihat."


"Tapi rasanya sakit sekali, Bik. Karena Pel*kor itu melakukannya tepat di depan mataku. Udah terang-terangan dia menunjukkan taringnya, hik hik hik."


"Bibi juga gak habis pikir, Nyah. Itu orang urat malunya memang udah putus. Udah ditolong tapi gak tau balas budi. Anjing saja, tak pernah menggigit tangan yang sudah memberi dia makan. Tapi ini manusia lho, masa kelakuannya lebih buruk dari seekor anjing, sih?"


"Kalau bukan karena dia istri Bang Sueb, aku gak bakalan peduli sama dia, Bik. Bibi tau kan, gimana Bang Sueb sama keluarga ini, terlebih pada Tasya. Dia sudah menganggap Tasya seperti anaknya sendiri. Aku mengira istrinya juga begitu, ternyata sangat berbanding terbalik dengan suaminya."


"Kalau menurut, Bibi, mending pecat aja, Nyah! Terus usir dari sini, tak baik memelihara anak singa, suatu saat dia bisa menerkam kita."


"Iya, Bik. Nanti akan aku bicarakan sama Mas Dika. Terima kasih atas nasehatnya, aku sayang sama Bibi."


Bik Sari tersenyum, kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sementara Winda bersiap menuju bengkel komputer, menemui suaminya.


Rika yang sudah berdandan cantik, karena hendak menjemput Tasya ke sekolah, menjadi heran. Motor yang biasa dia pakai, tak ada di garasi. Dengan kesal, Rika menemui Bik Sari yang sedang memasak di dapur.

__ADS_1


"BIK, MOTORKU MANA?"


"Motormu? Sejak kapan kamu punya motor?"


"Gak usah ngajak becanda deh, Bik. Ini sudah waktunya aku jemput Tasya. Kalau karena kekonyolan Bibi, Tasya telat dijemput terus ada yang ny*lik, mau tanggung jawab?"


"Gak usah melotot gitu, aku ini lebih tua dari kamu, jangan kurang ajar, nanti kualat!"


"Cepat bilang, dimana motorku? Gak usah bertele-tele kalau ngomong."


Bik Sari menghampiri Rika dan menarik kerah bajunya. Rika yang tak menyangka Bik Sari berani melawannya, kehilangan nyali.


"Kamu itu di sini cuma pesuruh, babu, jangan berlagak jadi nyonya rumah. Pak Dika itu cinta banget sama Nyonya Winda, tak mungkin masuk dalam perangkap mu. Sekarang lebih baik kamu siap-siap, kemasi barang-barang mu! Karena sebentar lagi, kamu pasti di usir dari sini."


Rika tampak terkejut, tapi sekian detik berikutnya, wanita itu sudah menampakkan wajah tenang kembali, seperti tidak pernah mendengar ancaman Bik Sari.


"Kita buktikan saja siapa yang pendapatnya benar di sini! Kucing meski udah dikasih makan kenyang pakai ikan salmon, pasti akan diembat juga waktu dikasih ikan asin," kata Rika sambil tersenyum mengejek.


Rika kembali melenggang masuk ke kamarnya, dengan membanting pintu, membuat Bik Sari mengurut dada menahan kesal.


Di bengkel, Winda baru saja tiba dari menjemput Tasya. Dika menyambut kedatangan istri dan anaknya dengan senyum lebar.


"Papa..."


"Eh, anak Papa sudah pulang sekolah. Tadi diajari apa sama Bu Guru?"


"Tadi Tasya di sekolah menggambar bendera, Pa. Benderanya harus berkibar, dan Tasya gak bisa."


"Terus?"


"Terus Tasya nangis deh."


"Lho? Kok anak Papa malah nangis sih? Harusnya kan mencoba lagi!"


"Udah coba berkali-kali, tapi tetap gak bisa. Bendera Tasya gak mau berkibar."


"Tasya gambarnya gimana, kok gak mau berkibar?"

__ADS_1


"Gambarnya pakai penggaris, Pa."


"Wah, pantesan aja gak mau berkibar. Jangan pakai penggaris, kecuali kalau mau gambar bendera yang gak berkibar."


"Oh, begitu ya. Tasya belum tau caranya."


"Eh, Sya! Mama mau tanya nih sama Tasya."


Winda memotong obrolan suami dan anaknya, karena penasaran bagaimana pendapat anaknya tentang Rika.


"Tanya apa, Ma?"


"Kalau misal Tasya gak diasuh sama Tante Rika lagi, gimana?"


"Memangnya kenapa, Ma? Tante Rika mau pulang kampung lagi kayak kemarin?"


"Ya sepertinya sih begitu, Sya. Mungkin Tante Rika mau menikah lagi," kata Winda sambil melirik suaminya yang tampak sibuk membongkar sebuah laptop.


"Ya gapapa sih, Ma. Kan Tasya juga sudah gede, udah mau kelas satu," ujar Tasya banga.


"Ya udah kalau begitu, nanti Mama bilang sama Tante Rika, kalau anak Mama udah gede, jadi tak perlu pengasuh lagi."


"Terus, Tasya pulang sekolahnya gimana, Ma?" Dika ikut bertanya.


"Kayak dulu aja, Pa. Kalau Mama bisa, Mama yang jemput. Kalau Mama gak bisa, gantian Papa."


Profesi Winda sebagai seorang bidan, membuat waktu kerja Winda tak tentu. Terkadang ada yang mau melahirkan di tengah malam, atau saat matahari tepat di atas kepala. Semua harus tetap dilayani dengan baik. Hal ini yang kadang membuat Winda tak bisa menjemput anaknya.


"Tasya mau kok, Ma, Pa, naik ojek langganan seperti teman-teman Tasya yang lain.


"Wah, pinter anak Papa, udah berani pulang sendiri naik ojek. Nanti Papa cari dulu ya, ojeknya."


"Bareng sama Lulu aja, Pa. Kan Rumah kita dekat, bisa pulang bareng."


Winda dan Dika menyetujui usul anak gadisnya, dan Dika berniat datang ke rumah Lulu untuk membahas hal itu.


Winda tersenyum, rencananya untuk segera mengusir Rika sebentar lagi berhasil. Keluarganya akan balik lagi ke suasana nyaman tanpa ada gangguan dari, Rika.

__ADS_1


__ADS_2