Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 61


__ADS_3

Nabila sudah pulang dari sekolah. Gadis itu segera menukar seragamnya dengan kaos dan celana pendek. Kemudian bergegas ke warung untuk membantu ibunya. Warung sedang ramai, jam makan siang.


Dengan gesit, Nabila melayani para pembeli yang berdatangan. Mengantikan Kakek yang bertugas membuat minuman. Juga mengantar makanan yang sudah disiapkan ibunya kepada pembeli. Nabila memasang wajah ramah pada setiap pembeli di warung ibunya.


Menjelang sore, warung baru terlihat sepi. Semua masakan sudah ludes terjual. Keluarga itu segera berkemas. Menutup warung. Dan esok kembali membukanya lagi. Begitu terulang, hari demi hari. Setelah semuanya selesai, barulah mereka mengistirahatkan diri.


"Tadi pagi, Paklek Dika makan di warung kita, Bil," kata Bu Bakir.


"Kok tumben, Bu? Gak biasanya juga."


"Iya. Sepertinya dia lagi ada masalah sama Winda. Mukanya kusut banget. Kakek yang menemui. Ibu sih, males!"


"Paling juga urusan wanita lain tuh, Bu."


"Kok kamu bisa ngomong gitu?" Bu Bakir merasa heran.


"Aku pernah ketemu di mall, waktu ngantar Dessy cari kado buat mamanya. Mereka, Paklek Dika, Tasya dan wanita itu pergi bareng. Wanitanya ganjen banget, Bu."


"Oalah begitu. Mungkin sekarang ketahuan sama bulekmu, ya?"


"Bisa jadi, Bu. Ibu tau, siapa wanita itu?"


"Ya mana Ibu tau, yang ketemu kan kamu. Bukan Ibu."


"Wanita itu istrinya Paklek Sueb. Temannya Paklek Dika, yang memb*n*h Bapak."


Bu Bakir kaget. Juga merasa benci. Kedua orang itu yang menyebabkan suaminya mati. Dirinya terpaksa kerja di Jakarta. Nabila di buli di sekolah. Akhirnya mereka mulai merasakan karma.


"Pantesan, kok si Dika tadi kusut banget. Kalau masalahnya beneran gitu, bisa jadi dia diusir sama Winda. Dengar-dengar kan semua harta, itu warisan dari orang tua Winda. Dika itu melarat seperti kita."


"Gak sama, Bu! Kita melarat, tapi mau berusaha. Melakukan pekerjaan halal. Bukan malah jadi begal."

__ADS_1


"Kamu masih simpan nomernya Winda gak, Bil?"


"Ada, Bu. Kenapa?"


"Nanti-nanti Ibu pengen telepon dia. Dia kan gak terlibat dalam kematian bapakmu. Bisa jadi dia gak tau kalau suaminya dan Sueb itu mantan begal."


"Pastilah, Bu. Coba kalau tau, gak bakal mau tuh Bulek makan hasil kerja Paklek. Makan uang haram."


"Nah, makanya. Dia dan Tasya kan gak ikut-ikutan. Ibu juga merasa berhutang budi, dulu Winda mau menampung kamu di rumahnya. Waktu Ibu kerja di Jakarta."


"Iya, Bu. Nabila paham kok, maksud Ibu!"


Bu Bakir tersenyum. Merasa bersyukur memiliki anak gadis sebaik Nabila. Yang mau mengerti kesulitan orang tua. Tak menuntut hidup berfoya-foya, seperti kebanyakan temannya.


"Gimana kamu sama Rio, Bil?"


"Gak gimana-gimana, Bu. Kami udah putus dan akan tetap seperti itu. Nabila gak mau terlalu berharap, daripada nantinya malah sakit hati. Lagian, ogah banget andai punya mertua kayak Tante Hesti. Hihihihi."


"Wew, jadi nanti Nabila kuliah, Bu?"


"Iya, dong. Dengan satu syarat tapi, kalau diterima di universitas negeri!"


"Bila akan berusaha, Bu!"


Nabila tersenyum bahagia. Sebenarnya dia ingin mengatakan niatnya untuk lanjut kuliah pada Ibu. Namun Nabila ibunya merasa terbeban. Untuk itu, Nabila mulai berhemat dan menabung. Kelak untuk biaya kuliah. Tapi ternyata Ibu punya niat yang sama. Nabila merasa bersyukur.


"Ingat ya, meski kamu berteman dekat dengan Dessy, jangan sampai gaya hidup kamu niru Dessy. Jelas Ibu gak mampu membiayai!"


"Iya, Bu! Bila mengerti kok. Dessy juga paham gimana posisi Bila. Gak bakal dia kasih pengaruh buruk ke Bila."


"Tapi, Bil! Ibu kurang setuju rencana Dessy dan mamanya, yang nyuruh kamu dekat-dekat sama keluarganya Rio. Kalau sampai mama Rio tau, kamu Nabila yang sama, bisa habis kita. Dituduh keluarga miskin yang niatnya cuma nipu. Ibu gak mau ya, harga diri Ibu diinjak-injak sama mamanya Rio."

__ADS_1


"Bila juga sempat protes, Bu. Tapi mereka gak mau mendengar. Malah menganggap hal ini seru. Terus, Bila harus gimana, Bu?"


"Ibu juga bingung, Bil. Salah kita juga, kenapa harus berhutang budi pada mereka! Jadinya kan malah kayak gini."


Nabila menghela napas. Perkataan ibunya benar. Kebaikan Dessy dan mamanya, menjadi bumerang bagi Nabila dan ibunya. Mereka jadi tak bisa berkutik. Takut dibilang gak tau berterima kasih. Membalas susu dengan air tuba. Serba salah.


"Sebenarnya, tujuan mereka apa ya, Bil?"


"Nabila juga gak tau, Bu. Setiap tanya Dessy, jawabnya cuma mau kasih pelajaran pada keluarga Kak Rio. Gitu aja."


"Aneh, ya?"


"Aneh sekali, Bu. Perlu diselidiki."


"Kamu hati-hati kalau begitu, Bil! Setiap tindakan kamu pertimbangkan dulu. Kalau memang membuatmu gak nyaman, ya jangan dilakukan, ya!"


"Iya, Bu!"


"Ya sudah kalau begitu. Sekarang kalau kamu mau belajar atau istirahat, ya lakukan! Ibu mau ke dapur, kupas-kupas bawang dan nyiapin bumbu buat jualan besok."


"Iya, Bu! Nabila juga akan ngerjain PR. Lumayan banyak nih PRnya."


Bu Bakir berjalan ke dapur, sedang Nabila masuk ke dalam kamarnya. Kakek dan nenek Nabila juga sudah tidur. Mereka sudah tua, tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Harus lebih banyak istirahat.


Dalam waktu singkat, Nabila sudah tengelam dalam keasikannya mengerjakan PR. Berhitung, salah satu pelajaran yang disukai Nabila. Bergelut dengan angka. Bermain dengan logika. Nabila cukup mahir melakukannya.


Setelahnya, gadis itu merebahkan diri di kasur. Membuka aplikasi platform membaca online di ponselnya. Gadis itu tersenyum, ketika karyanya menunjukkan banyak like dan komentar. Menulis bukan sekedar sarana mencari cuan bagi Nabila. Lebih sebagai tempat menuangkan ide dan pemikirannya. Genre tulisan yang dipilih Nabila juga bukan genre yang 'itu'. Yang menghasilkan banyak pembaca dengan menampilkan bacaan untuk 21 tahun ke atas.


Genre seputar remaja dan persoalan yang dihadapi mereka. Cukup lumayan juga untuk mendapat simpati pembaca. Tak lekang oleh waktu. Bukan sekejap muncul, tenar, kemudian tengelam. Menghilang. Nabila memilih membuat tulisan yang masih nyaman untuk dia baca, kelak, ketika lebih dewasa. Atau juga dibaca oleh anak. Mungkin juga cucunya.


Ahh, kok Author jadi curhat ya, hahaha. Maklumi aja ya, Author agak galau. Banyak masalah di dunia maya. Yang ditimbulkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Tuh kan, malah curhat. Maaf ya, pembaca. Maafkan Author yang agak-agak gak jelas karena kegalauannya. Dukung melalui like dan komentar, ya! Agar Author makin semangat dalam berkarya. Terima kasih, wahai para pembaca.

__ADS_1


__ADS_2