Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 33


__ADS_3

Raka memegang pipinya yang memerah karena tamp*ran Dessy, cowok itu tampak begitu tersulut emosi. Matanya tampak melotot dan bibirnya bergetar menahan amarah.


"Apa yang kamu lakukan, Dess? Bukankah perkataanku benar, anak napi ini hanya memanfaatkan kamu saja."


"Jangan samakan semua orang kayak kamu, Ka. Nabila jauh lebih baik dari kamu yang licik, berteman cuma untuk dimanfaatkan. Aku yakin, Nabila tulus, berteman denganku."


"Halah, gak usah kamu membela si anak napi ini, Dess. Kalau dia gak tau kamu anak orang kaya, gak mungkin dia mau berteman denganmu."


"Tutup mulutmu, bangs*t! Gak pantas kamu ngomong kayak gitu ke Nabila. Sebaiknya kamu berkaca, kalau gak punya, bisa nebeng tuh di toilet, ada!"


Nabila menghampiri Dessy yang tampak begitu emosi, kemudian mengajaknya duduk di bangku mereka. Nabila memberikan air minum pada Dessy, agar gadis itu tampak lebih tenang.


"Kamu kenapa, Des? Kok begitu emosi sama Raka, aku aja yang dikatain tak ambil pusing lho," tanya Nabila lembut.


"Nanti aku ceritain ya, Bil, tapi jangan sekarang. Aku masih emosi dengan si Bangs*t satu itu."


"Iya, santai aja, kalau udah siap, kamu boleh cerita ke aku!"


Dessy hanya mengangguk, napas gadis itu juga mulai teratur, pertanda emosinya mulai mereda.


Di tempat lain, Rika berusaha untuk mengambil hati Tasya, anak asuhannya, agar dapat dimanfaatkan untuk melancarkan aksinya. Rika memanjakan Tasya dengan sangat berlebihan, dan membuat gadis kecil itu tak mau berpisah dengannya. Bahkan Tasya selalu merengek dan menangis keras, setiap kali Rika pamit pulang di sore hari.


"Tante Rika jangan pulang, Tasya maunya Tante di sini aja, nemenin Tasya!!"


"Kan besok pagi, Tante akan ke sini lagi, Sayang. Pagiiiii banget, sebelum Tasya bangun, Tante sudah ada di sini, janji."


Rika mengacungkan dua jarinya sebagai lambang dia berjanji, agar Tasya mau ditinggal pulang.


"Hik...hik...hik, Tasya gak mau Tante pulang. Harus nemenin Tasya di sini terus!!"


"Tapi kan Tante harus pulang, Sa---"

__ADS_1


"Kenapa Tasya menangis, Mbak?" tanya Winda yang tiba-tiba muncul.


"Maa...mamaaa, Tante Rika jangan boleh pulang, biar temani Tasya di sini saja."


Tasya berlari dan memeluk mamanya, berharap mamanya memberi ijin Rika untuk tinggal. Sedang Rika tersenyum licik, niat busuknya mungkin akan segera terlaksana.


"Tasya, Tante Rika harus pulang dulu ya, Nak. Besok pagi-pagi kan Tante Rika pasti ke sini lagi. Jadi, sekarang Tasya sama Mama dulu, besok main sama Tante Rika lagi."


"Tasya gak mau! Maunya sama Tante Rika saja, Mama kan sibuk terus, Tasya jadi kesepian!"


Tasya tetap merajuk hingga mamanya kewalahan menenangkan bocah itu. Rika hanya diam, tak berkata sepatahpun, tapi dalam hati tersenyum, senyum yang licik.


"Gimana nih, Mbak Rika? Apa Mbak mau menginap aja di sini malam ini? Aku ada pasien yang akan melahirkan malam ini, jadi kalau Tasya rewel, aku akan kerepotan."


"Ya gapapa sih, Mbak, kalau saya harus menginap di sini. Toh di kontrakan juga kan gak ada yang nungguin saya juga, maklum, saya kan tinggal sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, Mbak Rika bisa menempati kamar tamu. Maaf ya, Mbak, jadi merepotkan."


Winda tersenyum, melihat anaknya yang kembali ceria karena Rika menginap di rumah mereka. Tiba-tiba, wanita itu teringat pada Nabila dan ibunya. Tasya juga sangat lengket dengan mereka berdua, dan selalu menangis apabila mereka pamit pulang.


"Kok ngelihatnya kayak gitu, Mbak?" tanya Rika yang menyadari diperhatikan oleh Winda.


"Aku cuma teringat tetanggaku dulu, Mbak. Tasya begitu lengket sama Bu Bakir dan anaknya, selalu nangis kayak gini ketika mau ditinggal pulang. Akhirnya, Tasya jadi sering tidur di rumah mereka kalau aku ada pasien malam."


"Sekarang mereka ke mana, Mbak?"


"Sudah pindah. Pak Bakir itu seorang napi dengan tuduhan per*mpokan dan pemb*unuhan, terus meninggal di penjara. Nah, si Nabila anaknya, dititipkan di sini sama orang tuanya, sampai dia tamat SMP waktu itu. Jadi Tasya akrab banget sama mereka."


"Apa Mbak Winda gak takut, anaknya dekat-dekat sama orang kayak gitu? Kan bisa jadi kalau bapaknya jahat, anaknya juga nurun. Kalau tiba-tiba Tasya dicul*k gimana tuh, Mbak?"


"Dulu aku sih gak sampai mikir kayak gitu, Mbak Rika. Aku mengenal mereka dan keluarganya, sebelumnya mereka itu baik, tak pernah ada masalah juga sama tetangga. Tapi ketika tiba-tiba Pak Bakir ditangkap sebagai pelaku penb*nuhan, yo aku kaget. Masih berpikir sih, kalau dia itu cuma korban salah tangkap, makanya aku mau menampung anak mereka. Tapi, balasannya malah gak ngenakin."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Ya waktu Pak Bakir meninggal, kan aku sama Mas Dika melayat ke rumahnya, eh dicuekin sama keluarga mereka. Diajak ngomong pun enggak tuh, udah seperti tamu gak diundang saja. Sakit hati aku, Mbak."


"Lha kok kayak gitu ya, Mbak? Padahal kan sudah ditolong juga. Anjing aja lho, gak bakal menggigit tangan yang ngasih dia makan, masa manusia kok tak tahu membalas budi?"


"Entahlah, Mbak. Aku juga gak tau cara berpikir mereka gimana. Maaf ya, Mbak Rika, aku jadi curhat nih!"


"Gapapa, anggap aja kita lagi sharing, Mbak Winda. Saya juga kan bisa belajar dari pengalamannya Mbak Winda, untuk tidak terlalu baik pada seseorang."


"Iya, mending juga gitu, dari pada sakit hati kayak saya."


Rika tersenyum manis untuk mengambil hati Winda, majikannya. Tapi dalam hati, Rika sudah merencanakan sesuatu yang akan memanfaatkan kebaikan Winda dan keluarganya.


"Ya sudah ya, Mbak, ku tinggal dulu. Titip Tasya ya, aku mau memeriksa pasienku dulu, tadi udah bukaan enam, mungkin sekarang sudah mau melahirkan!"


"Iya, Mbak Winda."


Rika menemani Tasya bermain boneka di kamarnya, sambil mulai merac*ni pemikiran anak kecil itu.


"Tasya gak bosan, di rumah mulu?"


"Ya bosan, Tante. Tasya pengen jalan-jalan, tapi Mama ada pasien, jadi gak mungkin mau kalau diajakin."


"Kan ada Tante Rika, Tante mau kok diajak jalan-jalan, asal sama Papa juga."


"Wah, asik. Nanti kalau Papa pulang, kita ajak jalan-jalan ya, Tante."


"He em, boleh. Nanti, kalau Papa gak mau, Tasya nangis aja ya, yang kenceng nangisnya!"


"Oke, Tante. Nanti Tasya akan nangis, biar Papa mau di ajak jalan-jalan. Tasya pengen pergi ke mall, beli mainan."

__ADS_1


Rika tersenyum, usahanya untuk mempengaruhi Tasya berhasil. Saat ini, cuma perlu sedikit kesabaran, menunggu Dika pulang.


__ADS_2