
Kakek dan Nenek masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan Dika dan Winda. Rumah sudah sepi, Dika dan Winda pelayat terakhir yang berpamitan. Di ruang tamu, tampak Bu Bakir memeluk Nabila yang masih menangis. Kedatangan Kakek dan Nenek, membuat Bu Bakir menoleh.
"Mereka sudah pulang, Pak, Mak?" tanya Bu Bakir.
"Iya, semua sudah pulang, juga tetanggamu dulu, baru saja mereka pamitan," jawab Nenek.
"Kenapa kamu tadi enggan bertemu mereka? Bukankah mereka itu yang merawat Nabila, waktu kamu tinggal pergi ke Jakarta?" tanya Kakek.
Bu Bakir tak segera menjawab, wanita itu mendengkus kesal, membuat Kakek dan Nenek saling pandang.
"Ada apa, Ndhuk? Cerita sama kami!"
"Mereka itu cuma berpura-pura baik, Mak. Tapi sebenarnya mereka itu iblis, cuma bentuknya saja manusia."
"Maksudmu apa, Ndhuk?"
"Asal Bapak tau, gara-gara mereka, anak Bapak ini jadi janda, dan cucu Bapak jadi yatim. Merekalah yang sejatinya membunuh Mas Bakir."
Semua yang berada di ruangan itu terkejut, bahkan Nabila menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar di bahu ibunya.
"Kalau ngomong itu yang jelas, Ndhuk! Kami ini sudah tua, malas untuk bermain teka-teki seperti itu."
"Mereka itu, yang menyebabkan Mas Bakir harus masuk penjara, Pak."
"Kamu jangan asal nuduh, Ndhuk! Kalau mereka dengar, kamu bisa dituntut mencemarkan nama baik," nasehat Nenek.
"Enggak, Mak. Semua yang aku katakan itu benar, Mas Bakir sendiri yang memberi tahu aku."
"Sebenarnya, apa yang terjadi sih, Bu?"
Nabila yang sedari tadi diam, tak dapat menahan diri untuk bertanya, gadis itu sangat penasaran.
"Jadi, sebenarnya yang membegal dan membunuh wanita yang ditemukan Mas Bakir itu, Dika dan kawannya yang bernama Sueb. Mas Bakir cuma sedang lewat di tempat itu dan ingin menolong. Tetapi Mas Bakir malah jadi tersangka, karena cuma sidik jarinya dan sidik jari wanita itu, yang ditemukan polisi pada senjata yang dipakai."
Nabila dan Nenek tampak menutup mulutnya dengan tangan, Kakek hanya melipat kening, tapi semua tampak tak mempercayai omongan Ibu.
__ADS_1
"Masa Paklek Dika setega itu, Bu?"
"Awalnya juga Ibu gak mau percaya, Bil. Tapi bapakmu mengatakan pada Ibu, saat ajal hampir menjemputnya. Mana mungkin bapakmu berbohong dalam kondisi seperti itu kan?"
Omongan Ibu sangatlah masuk akal, tak mungkin Bapak berbohong. Toh tak akan mengubah keadaan, dia dibebaskan dari penjara dan bisa narik ojek lagi, misalnya.
"Jadi, Paklek Dika--"
"Iya, Bil. Paklek Dika orang jahat itu. Karena dia, keluarga kita menderita. Kamu juga jadi dimusuhi teman-temanmu, kan?"
Nabila hanya diam, sebenarnya bukan hanya teman-teman saja yang memusuhi Nabila, tapi juga keluarga Rio. Mama Rio, orang yang paling menentang hubungan mereka.
"Hmm, Bapak gak nyangka lho, Ndhuk, ternyata begitu ceritanya. Bapak kira mereka orang baik, yang punya niat tulus buat bantuin keluargamu. Tapi ternyata..."
"Ya sudah lah, Pak. Mungkin ini biar kita semua belajar, jangan mengandalkan manusia, mereka mahluk yang tak dapat dipercaya."
"Iyo, Ndhuk. Dari sini kita bisa belajar, gak semua orang yang terlihat baik itu orang baik."
"Iya, Mak. Cuma aku kasihan aja sama Bila, pasti karena Mas Bakir meninggal, teman-teman dan gurunya jadi tahu, kalau bapaknya seorang napi. Orang kan gak tau alasan bapaknya Bila dipenjara karena apa, yang mereka tau, napi itu orang jahat."
Nabila menggeleng, "Nabila di situ aja, Kek. Toh Nabila juga di sekolah gak punya teman, cuma Dessy dan Kak Rio doang. Meskipun semua tahu kalau Nabila anak napi, gak bakal ngaruh juga."
Ibu menghela napas, sedih rasanya melihat anak semata wayang harus mengalami cobaan berat. Seharusnya, Nabila menjalani masa-masa remaja yang indah, karena cuma sekali seumur hidup, gak bisa diulang.
"Kalau begitu, mari kita menjalaninya sama-sama, saling dukung saling menguatkan, karena kita keluarga," kata Nenek bijak.
Semua setuju dengan pendapat Nenek, sebuah keluarga memang harus saling dukung dan menguatkan.
Di rumah Dika, tampak Winda dengan wajah cemberut dan berkacak pinggang, berdiri di depan Dika.
"Papa tau, kenapa sikap si Mbak Yu kayak gitu ke kita? Tau nyebelin gitu, gak usah kita melayat ke sana deh. Dasar gak tau terima kasih, udah dibaikin juga."
"Ya kalau Papa tau, Papa gak akan ngajak Mama ke sana, daripada Papa kena omel."
"Ya bukan gitu juga konsepnya. Kok bisa-bisanya, Papa mau-mau aja diperlakukan kayak gitu, diam aja, kayak batu."
__ADS_1
"Terus? Papa harus protes, ngamuk-ngamuk kayak Mama gini? Yang benar aja lah, Ma, itu rumah duka, oi, rumah duka."
" Ya tau kalau rumah duka, tapi perlakuan Mbak Yu ke kita, itu yang gak bisa Mama terima. Keliatan banget, kalau Mbak Yu itu gak suka sama kita, ke pelayat lain dia ramah."
Dika memijat pelipisnya yang berdenyut, mendengar omelan Winda, membuat Dika semakin pusing. Rasa bersalahnya pada keluarga Pak Bakir, semakin membuncah. Apalagi melihat Nabila yang berkali-kali jatuh pingsan, sedih kehilangan bapaknya.
"Kamu kok diam aja sih, Pa? Ngomong dong!"
"Papa pusing, Mama aja yang ngomong, Papa dengerin!"
Winda mendengkus kesal, kemudian pergi ke kamar dengan langkah yang lebar. Dika memilih tiduran di sofa ruang tamu, memilih ikut istrinya ke kamar, sepertinya bukan ide baik. Bisa-bisa ada ceramah bersambung seperti di sinetron.
Karena terlalu lama rebahan di sofa, akhirnya Dika tertidur. Dalam tidurnya, Dika bermimpi bertemu Pak Bakir, pria tua itu hanya diam sambil meneteskan air mata. Dika yang berusaha menyapa, tak mendapat respon dari Pak Bakir.
"Mas, ngapain Mas di situ?" tanya Dika.
Pak Bakir hanya memandang Dika dengan pandangan penuh kebencian, hal ini membuat nyali Dika ciut.
"Mas,..."
Dika tak melanjutkan kata-katanya, pria itu tiba-tiba diliputi rasa bersalah. Pak Bakir masih terus mengawasi dengan mata cekung nya, membuat Dika merasa ngeri.
Tubuh Pak Bakir yang tampak sangat kurus, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba. Bahu dari tubuh kurus itu naik-turun, menunjukkan si empunya sedang terisak.
Tanpa sadar, Dika turut meneteskan air mata, bahkan isak Dika terdengar lebih nyaring dari Pak Bakir.
"Maafkan aku ya, Mas! Aku tau aku salah, dan aku gak berani mengambil tanggung jawab dari kesalahanku. Karena aku, takut ... takut anak dan istriku merasa malu."
"Tapi, anak dan istriku yang menanggung malu, padahal itu bukan perbuatan ku," kali ini Pak Bakir berkata lirih, namun jelas terdengar di telinga Dika.
Dika semakin terisak, bahkan dadanya terasa sesak, dari bibirnya juga terucap kata maaf berkali-kali.
"OI, PA! MALAH MOLOR, SANA JEMPUT TASYA DI RUMAH NENEKNYA?"
Dika jatuh terguling dari sofa, karena tiba-tiba Winda berteriak di dekat telinganya.
__ADS_1