Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 30


__ADS_3

Pagi itu, Rara mencari Dessy ke kelasnya, 10MIPA1, untuk mengembalikan uang yang kemarin dipinjamnya untuk membayar jajanan. Dessy belum tiba, tetapi ada Nabila yang sedang asik membaca novel di ponselnya.


"Hay, Dek. Siapa namamu kemarin, kok aku lupa?" sapa Rara.


"Eh, Kakak, namaku Nabila. Ada yang bisa ku bantu, Kak?"


"Aku cuma mau balikin duit temanmu yang kemarin itu, kan katanya buat bayar SPP, hari ini kan terakhir."


"Oh gitu, tapi Dessy belum datang tuh, Kak. Mungkin sebentar lagi, apa mau ditunggu?"


"Ya gapapa ku tunggu, toh bel masuk juga masih lama, boleh kan?"


Nabila menggeser bangku Dessy, agar Rara dapat duduk di situ, " silakan, Kak!"


"Kalau gak salah, kamu itu mantannya Rio ya, Dek?"


"Bukan kok, Kak, cuma sekedar teman biasa."


Nabila sengaja mengelak, agar dirinya tak lagi disangkut pautkan dengan Rio.


"Masa sih? Kok aku gak percaya ya?"


"Ya logika saja lah, Kak, masa pantes sih aku ini pacaran sama Kak Rio yang ketua OSIS? Aku kan cewek biasa aja, ntar malah dibilang gak sadar diri," jawab Nabila sambil tertawa.


"Ta..tapi, aku sering lihat kamu dibonceng Rio lho."


"Oh, itu kan karena aku nebeng sama dia, Kak. Kan rumah kami searah, itung-itung pengiritan."


"Ma---"


"Pagi semua, lho ada Kakak!" sapa Dessy.


"Eh iya nih, Dek. Aku mau balikin duit kamu yang kemarin, makasih ya. Kalau gak ada kamu, bisa malu aku."


"Sama-sama, Kak. Kebetulan aja aku belum bayar SPP, jadi Kakak cuma beruntung."


"Tapi kan kamu mau aja pinjemin ke aku, padahal kita belum kenal juga, itu sudah nunjukin kalau kamu orang baik."


"Gak juga sih, Kak. Kemarin aku cuma kesal saja sama Kak Rio, dia sombong banget."

__ADS_1


"Namanya juga cowok cakep, tajir, pinter, ketua OSIS juga, Dek. Wajarlah kalau dia punya sifat sombong, udah biasa kayak gitu," Rara masih membenarkan tindakan Rio.


"Tapi gak bisa gitu juga, Kak. Masa kita yang cuma murid biasa-biasa saja, harus memuja dia? Emang dia dewa?"


Dessy berubah menjadi tidak suka pada Rio, sejak cowok itu membuat kecewa Nabila. Dan sifat cowok itu juga berubah drastis sejak saat itu, membuat Dessy semakin membencinya.


"Entahlah, Dek. Aku juga baru tau kemarin itu, kalau ternyata Rio mempunyai sifat kayak gitu. Perasaan dulu-dulu dia gak begitu. Dia ramah dan baik pada semua orang, tak segan membantu teman yang membutuhkan juga."


"Ya aku gak tau, Kak, aku gak pernah dekat sama dia. Tapi temanku ada yang bucin sama dia, ya aku gak habis pikir aja, kok bisa lho sampai kayak gitu."


Dessy melirik pada Nabila yang dari tadi diam, seperti tak rela mantan pacarnya dijadikan bahasan.


"Banyak cewek yang bucin pada Rio..."


"Termasuk Kakak juga sepertinya."


Dessy tak bisa menyembunyikan kekesalannya, hingga tanpa sengaja memotong komentar Rara. Rara hanya bisa menghela napas, karena tak enak hati berdebat dengan Dessy, adik kelas yang telah membantunya.


"Aku ke kelas dulu ya, Dek, udah mau bel masuk. Makasih atas bantuan kalian berdua."


Tanpa menunggu jawaban dari Dessy dan Nabila, Rara pergi meninggalkan kelas mereka. Penghuni kelas yang lain melihat mereka dengan pandangan heran, tapi enggan untuk bertanya.


Di tengah rasa putus asa, Rika teringat pada Dika, teman akrab Sueb, yang telah banyak menolongnya saat Sueb meninggal.


"Kenapa aku baru kepikiran buat hubungi Mas Dika, ya? Kan dia pasti mau nolong aku, bagaimanapun aku ini istri sahabat baiknya, kan?"


Rika menepuk jidatnya, kemudian segera mencari nomer Dika di kontak ponselnya. Perempuan itu lega, ternyata dia masih menyimpan nomer Dika.


"Hallo, siapa ya ini?"


"Ap...apa ini nomernya Mas Dika, Mbak?"


"Iya benar, kalau boleh tau, ini siapa ya?"


"Saya Rika, Mbak, istrinya Bang Sueb, temannya Mas Dika."


"Oh, Mbak Rika. Ada apa, Mbak?"


"Gi...gini, Mbak, saya sebenarnya mau minta bantuan sama Mas Dika. Kan saya ini pengangguran, sejak Bang Sueb meninggal, sa...saya belum ada kerjaan, Mbak."

__ADS_1


"Mbak Rika mau kerja apa? Maksud saya, bidang apa yang dikuasai, siapa tau saya dapat bantu."


"Itulah, Mbak, saya ini gak punya keahlian khusus. Sekolah saja cuma tamat SMP, karena itu, saya bingung mau kerja apa."


Rika berlagak sedih, agar istri Dika mau membantunya mendapat pekerjaan, kerja apa saja, asal bisa makan, untung-untung bisa buat bayar kontrakan juga.


"Saya tanyakan dulu sama Mas Dika ya, Mbak. Dia masih di bengkel, ini ponselnya ketinggalan di rumah, baru mau saya antar, nanti saya hubungi lagi."


"Iya, Mbak. Makasih ya, sudah mau peduli sama saya."


"Sama-sama, Mbak. Nanti saya suruh Mas Dika telpon Mbak Rika."


Rika menutup panggilan, dan tersenyum senang. Perempuan itu sangat yakin, Dika dan istrinya akan memberinya pekerjaan.


"Hadeh, emang aku ini bego, kenapa gak kepikiran buat manfaatin mereka aja dari dulu. Malah aku ngeladeni si Rojali kampret, udah jelas-jelas dia itu suami yang takut istri. Dasar Rika, jadi orang kok bego."


Rika masih mengomeli bayangannya di cermin, ketika ponselnya berbunyi, tanda ada panggilan masuk.


"Hallo," sapa Rika.


"Hallo, Mbak Rika, ini saya Winda istrinya Dika. Saya udah berunding sama suami, dan menemukan kata sepakat. Kami mau menawarkan, bagaimana kalau Mbak Rika bekerja di rumah kami, membantu saya mengasuh Tasya.*


" Maksudnya, jadi baby sitter gitu ya, Mbak?"


"Ya semacam itu, sih. Tasya sudah besar, tahun ini udah masuk SD, jadi tugas Mbak Rika ya antar jemput Tasya sekolah juga."


"Iya, Mbak. Saya mau sekali kerja kayak gitu.*


Rika merasa sangat senang, keluarga Dika mau memberinya pekerjaan, perempuan itu juga berharap, akan boleh tinggal di rumah mereka, jadi tak perlu lagi bayar uang kontrakan.


"Baiklah kalau Mbak Rika sudah setuju, boleh bekerja mulai besok."


"Iya Mbak Winda, saya siap. Jam kerja saya bagaimana?"


"Mbak Rika sudah harus ada di rumah sebelum jam enam pagi, karena harus menyiapkan Tasya sekolah. Nanti jam lima sore baru boleh pulang, tapi bisa lebih cepat juga kok. Kalau Mas Dika sudah pulang dari bengkel, Mbak Rika sudah boleh pulang."


"Wah, saya setuju banget dengan jam kerjanya. Masalah gaji, saya terima berapapun itu, asal cukup buat bayar kontrakan dan makan."


"Untuk itu, besok kita rundingkan ya, Mbak."

__ADS_1


Ada yang tergopoh memanggil Winda di seberang sana, dan Winda segera pamit pada Rika. Rika tersenyum, senyum yang sangat mengerikan, karena Rika menyimpan niat buruk pada Winda dan keluarganya.


__ADS_2