
Sampai sore hari, Rika masih saja belum keluar dari kamarnya, bahkan pengasuh Tasya itu melewatkan makan siang, serta hampir melewatkan makan malam.
Winda yang sudah mengetahui kejadian siang tadi dari Bik Sari, hanya mengangkat bahu, tanda tak peduli. Dika pun setali tiga uang dengan istrinya, bersikap bodo amat. Hanya Tasya yang tampak khawatir dengan pengasuhnya itu, apalagi siang tadi melihat Rika menangis.
"Nek, Tante Rika belum makan ya? Apa enggak lapar?"
"Oh, Tante Rika kan sedang diet, makanya gak makan, Ndhuk. Takut badannya melar kayak gajah, nanti cantiknya bisa hilang dong," jawab Bik Sari yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Rika.
"Mama itu, kan kata Papa gendut kayak gajah, Nek, tapi tetap cantik kok. Ya kan, Ma?"
Winda yang mendengar omongan anaknya yang polos, segera melotot ke arah suaminya itu. Dika yang sedang minum, jadi menyemburkan air dari mulutnya, karena menahan tawa.
"Oh, jadi Papa ngajarin anak kita buat ngatain mamanya kayak gajah? Begitu, Pa?" Winda tampak geram.
Dika tertawa ngakak mendengar pertanyaan istrinya," ya enggaklah, Sayang. Body Mama kan seksi, montok, aduhai, masa sih Papa samakan dengan gajah? Cuma mirip aja kok."
Winda mencubit pinggang suaminya karena kesal, membuat Dika menjerit menahan sakit. Tasya dan Bik Sari yang melihat ulah kedua orang itu tertawa ngakak, bahkan Bik Sari sampai memegangi perutnya yang terasa kram.
"Awas aja kalau nanti malam Papa tidur dengan gajah! Tidur di sofa aja kalau begitu!!" ancam Winda kesal.
"Lho...lho...lho, ya jangan dong, Ma! Nanti Papa gak bisa bobo, kan di luar banyak nyamuk," Dika pura-pura merajuk.
"Nanti, Papa bobo sama Tasya aja deh, Pa! Biar aja Mama tidur sama gajah sendiri," celetuk Tasya.
Bik Sari dan Dika tertawa, Winda makin cemberut, sedang Tasya merasa heran, tak ada yang salah pada perkataannya, kan?
Dari dalam kamarnya yang memang dekat dapur dan ruang makan, Rika mendengar percakapan mereka. Wanita itu mengepalkan tangan dengan kesal, karena tak ada yang peduli padanya. Acara ngambeknya tak membuahkan hasil, malah membuat perutnya melilit menahan lapar. Gengsi sekali kalau keluar kamar dan ikut bergabung untuk makan malam.
Di rumah besar dan megah milik orang tua Rio, tampak Tante Hesti sedang menyambut suaminya yang baru saja kembali dari luar kota. Wajah lelah dan mengantuk milik papa Rio, terpaksa mendengarkan ocehan istrinya. Tante Hesti semangat mempromosikan Nabila, keponakan Tante Anna, untuk menjadi pacar Rio, pada suaminya.
__ADS_1
"Mama jamin, Papa pasti setuju, kalau Rio pacaran dengan Nabila ponakan Jeng Anna. Anaknya manis, sopan, pinter lagi. Dan yang terpenting, dia berasal dari keluarga yang sama levelnya dengan kita, Pa. Bukan kayak Nabila yang anak napi itu."
"Terserah Mama aja, deh! Papa ngikut aja."
"Tapi, Papa setuju kan, kalau anak kita pacaran sama ponakan Jeng Anna?"
"Setuju."
"Kalau begitu, Mama akan wacanakan untuk bertemu dengan keluarga Nabila, nanti kita undang mereka makan malam di restoran mahal."
Papa Rio menghentikan gerakannya melepas dasi, kemudian menoleh pada istrinya dengan pandangan heran. Mama Rio, terlihat asik menatap ponsel sambil tersenyum, kemudian tampak mengetik dan tersenyum lagi, entah sedang chatting dengan siapa.
"Secepat itu, Ma?"
"Iya, Pa. Buat apa juga lama-lama, toh kita juga udah yakin, kan? Rio juga sudah mantap kok, dengan Nabila."
"Mama! Mereka itu masih SMA, langkah mereka untuk mengejar cita-cita itu masih sangat panjang. Kenapa Mama malah ngebet cari mantu?"
Papa Rio menghela napas, meladeni istrinya akan membuat wanita itu semakin lama mengajak ngobrol, sedangkan badan sudah berteriak minta istirahat. Pria itu memilih mengabaikan istrinya, dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mama Rio, sedang asik berbalas pesan dengan mama Dessy, apalagi kalau bukan membalas Nabila. Mama Rio mengundang Nabila dan keluarga untuk makan malam, demikian juga keluarga Dessy.
/Ayolah, Jeng! Mumpung suamiku lagi ada di rumah nih, kita makan malam bersama. Jeng Anna dan keluarga juga harus datang, gak boleh enggak!/
Bunyi chat yang dikirim Tante Hesti pada Tante Anna. Tante Anna jadi menggaruk kepala yang gak gatal, setelah membaca chat itu. Mama Rio itu terkesan grusa-grusu, hingga susah bagi Mama Dessy mencari alasan buat menolak.
"Dess, sini dong, Sayang! Mama mau minta pendapat kamu nih," Tante Anna memanggil anaknya.
"Ada apa, Ma?"
__ADS_1
"Ini lho, Tante Hesti, mamanya Rio, mengajak kita untuk makan malam. Keluarga Nabila yang ponakan Mama, juga diundang. Bagaimana menurutmu?"
"Nabila ponakan Mama, teman sebangku Dessy dan mantan Kak Rio, kan orang yang sama tuh. Jadi Nabila mana yang harus datang?"
"Ya Nabila ponakan Mama dong. Kalau Nabila teman sebangku kamu, dan Nabila mantan Rio kan tidak sama levelnya dengan keluarga mereka."
"Nah, yang jadi masalah, gimana tuh reaksi Tante Hesti, kalau mereka orang yang sama?"
"Yang pasti sih bakal shock berat, Sayang, kan mereka orang yang sama."
Kedua anak beranak itu, tertawa ngakak, menertawakan mama Rio yang otaknya sedikit kurang pintar. Dilihat dari mana wanita itu menilai seseorang, padahal mereka itu Nabila yang sama, satu orang.
"Terus gimana, Mama mau datang?"
"Entahlah, ini Mama mau nanya pendapat kamu dulu, enaknya gimana. Untung Tante Hesti nanya lewat chat, jadi Mama ada waktu untuk memikirkan jawabannya."
"Mending gak usah datang aja, Ma! Nanti malah cepat ketahuan, kalau para Nabila itu sebenarnya orang yang sama, kan gak seru. Kita kan belum kasih pelajaran tuh sama mereka."
"Benar katamu, Dess. Jadi, alasan apa nih yang harus Mama bilang ke Tante Hesti, untuk menolak undangannya?"
"Bilang aja kita ada acara keluarga, Ma! Kan Nabila keponakan Mama, jadi acara keluarga kita, acara keluarga Nabila juga, begitu."
"Wah, bener juga ya, Dess. Kenapa Mama gak kepikiran alasan itu ya? Ternyata kamu lebih cerdik dari Mama, Sayang."
"Itu karena Mama gak pernah baca novel di NovelToon."
"Lha? Apa hubungannya?"
"Kan di situ tempat para penulis hebat menuangkan karya-karyanya, Ma. Jadi kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari tulisan-tulisan mereka. Banyak kok yang relevan kita terapkan dalam masalah yang kita hadapi di dunia nyata."
__ADS_1
"Iya deh iya, nanti kapan-kapan Mama bakal ikutan baca di NovelToon. Sekarang, Mama mau balas chat Tante Hesti dulu."
Tante Anna sibuk membalas chat Tante Hesti, dan Dessy berlalu menuju kamarnya.