
"Kamu mau bun*h aku ya, Ra??"
Rio melotot ke arah Rara yang tak tau bahwa dirinya melakukan kesalahan.
"Ma...maaf, Beb! Aku kasih suapan yang kegedean, ya? Aku potong-potong dulu ya cireng ini, biar kamu gampang makannya."
"Kamu kira aku bocah, hah!!"
"Aa...aku bukan...maksudku, bukan begitu. Mungkin karena cireng nya utuh, kamu jadi tersedak, hingga kamu nuduh aku mau bun" h kamu."
"Kamu tau kan, aku punya sakit lambung. Jadi aku gak bisa makan kecut dan pedes, tapi apa ini hah?"
"Aku gak tau, Rio. Ka...kalau kamu punya sakit lambung."
Rara menunduk, tak berani menatap Rio yang tampak emosi. Gadis malang itu sungguh tak tau, penyakit yang diderita Rio serta pantangannya.
"Dasar!! Bilangnya kamu suka sama aku, sayang sama aku, cinta sama aku, tapi apa? Aku punya sakit lambung aja kamu gak tau. Mulai detik ini, jangan dekat-dekat aku, anggap aja kita gak pernah kenal!"
Rio mendorong tubuh Rara, hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Teman-teman Rio, tak satupun berusaha membantu Rara yang berusaha kembali berdiri.
"Makan tuh cireng rujak! Dan bayar sendiri, sekalian punya teman-temanku!"
Rio dan kawan-kawannya meninggalkan kantin, sementara Rara hanya duduk tepekur. Gadis itu tak mempunyai uang yang cukup untuk membayar semua makanan itu. Tadi saja dia berharap, akan mendapat traktiran. Dessy dan Nabila yang melihatnya, jatuh kasihan.
"Gimana, Bil? Apa kita bantu aja si Rara? Tampaknya dia tak punya uang cukup untuk membayar semua makanan itu."
"Aku sih, pengen membantu. Tapi kamu pasti tau kan, Dess? Kalau urusan duit, aku angkat tangan."
"Masalah itu, serahkan padaku, aku butuh kamu untuk menemani nyamperin dia."
Dessy memang anak orang kaya, tapi dia sangat bersahaja, tak pernah menyombongkan diri. Hal itu yang membuat Nabila merasa nyaman berteman dengan Dessy, karena terhindar dari omongan dia cuma memanfaatkan teman. Di kelas bahkan tak ada yang tau, Dessy anak orang kaya.
"Oke kalau begitu, Dess, mari kita bantu dia."
__ADS_1
Nabila dan Dessy mendekati Rara yang mulai menangis.
"Hay, Kak! Ada yang bisa kami bantu?" sapa Nabila.
"Eh...iya nih. Tapi..."
"Kami tau kok, apa kesulitan Kakak. Maaf, dari tadi kami nyimak percakapan Kakak dengan teman-teman, jadi sedikit banyak kami tau," kata Dessy.
"Ya begitulah, tapi..."
"Kami akan membantu Kakak, berapa sih butuhnya?"
Rara melihat dengan pandangan tak percaya pada Dessy. Gadis itu tak menyangka, ada orang yang peduli dengan masalah yang dihadapinya, padahal teman-temannya saja meninggalkan dia.
"Se...sepertinya, seratus ribu udah cukup. Tapi aku tak punya duit sebanyak itu, ada juga cuma dua puluh ribu, itupun nanti buat ongkos pulang."
Dessy memberikan selembar seratus ribuan pada Rara, " ini, Kak, pakai dulu! Tapi nanti kalau sudah ada, jangan lupa kembalikan ya, itu duit sebenarnya buat bayar SPP, tapi aku kasihan lihat Kakak."
"Iii...iya, Dek, nanti akan aku kembalikan kok, janji. Makasih ya, udah bantu aku. Nama kamu siapa, dan kelas berapa?"
"Aku Dessy, Kak. Ini temanku, namanya Nabila, kami dari kelas 10MIPA1."
"Makasih ya, Dessy, Nabila. Besok aku akan ke kelas kalian untuk kembalikan duit ini, karena besok waktu terakhir bayar SPP untuk bulan ini."
"Iya, Kak. Kami pamit dulu ya."
Nabila dan Dessy meninggalkan Rara yang tampak tersenyum senang, karena bisa mendapat pinjaman untuk membayar semua jajanan yang tadi dipesan teman-temannya.
"Kamu beneran tulus bantuin dia, Dess?" tanya Nabila sambil berjalan ke kelas.
"Woo ya jelas tidak, aku cuma pura-pura membantu, agar dia menyangka kita orang baik, dan dia akan berpihak pada kita. Kita butuh banyak sekutu, Bil."
"Sekutu? Buat apa?"
__ADS_1
"Kok buat apa? Ya buat kasih pelajaran ke si Rio kampret itu lah. Dia udah bikin kamu sakit hati, Nabila sayang, jadi harus dikasih pelajaran."
"Haduh, Dessy sayang, ngapain juga sih, biarin aja lah! Toh suatu saat dia juga akan dapat balasan atas perbuatannya, hukum karma pasti berlaku."
"Kelamaan kalau nungguin si karma, mending kita bikin pembalasan sendiri. Kamu diam aja dan lihat, itu aja tugas kamu!"
Nabila menghela napas, gadis itu sangat paham dengan sifat temannya, meskipun belum lama kenal. Dessy selalu mendapatkan apa saja yang dia mau, penolakan tak pernah ada di dalam kamus gadis itu. Dan satu lagi hukum yang dia anut, semua perbuatan harus dapat balasan setimpal, baik itu perbuatan buruk maupun perbuatan baik.
"Aku tuh lama-lama ngeri jadi teman kamu, Dess."
"Ngeri kenapa? Wong aku imut kayak gini kok."
"Ya ngeri aja, kamu selalu menghalalkan segala cara, agar tujuan kamu tercapai. Untung aja kamu itu bukan orang jahat, coba kayak gitu, pasti ngeri banget."
"Nabila, segala sesuatu itu halal, kecuali yang keluar dari mulut, itu baru haram."
Nabila hanya dapat menggeleng, berdebat dengan Dessy gak bakal bisa menang. Mereka sudah sampai di kelas, dan kembali pandangan mencemooh, diterima Nabila dari teman-teman sekelasnya.
Sementara itu, Rio yang kesakitan karena penyakit asam lambungnya kambuh, terpaksa dilarikan ke rumah sakit, karena peralatan dan obat yang ada di UKS kurang memadai. Mama Rio yang dihubungi pihak sekolah, bergegas pergi ke rumah sakit.
Dari keterangan yang didapat, Rio sudah dipindahkan ke ruang perawatan, setelah mendapat tindakan di IGD. Mama Rio bergegas menuju ruang anaknya dirawat.
"KOK BISA SIH KAYAK GINI, RIO? PASTI INI ULAH ANAK NAPI ITU YA? DIKASIH MAKAN APA, KAMU SAMA DIA?"
Mama Rio yang beru saja masuk ke dalam, sudah merepet marah, membuat Rio yang berniat memejamkan mata merasa terkejut.
"Mama ini, datang-datang malah marah-marah, aturan nanyain keadaan anaknya kek," gerutu Rio.
"Ngapain juga ditanyain, kan udah kelihatan, kamu masih hidup. Makanya, jadi anak tuh yang nurut sama orang tua, gak bandel kayak kamu gini. Udah Mama bilang, jauhi gadis itu, gak mau dengar. Kalau udah sakit kayak gini, kan kamu juga yang ngerasain."
"Terus aja Mama ngomel, toh percuma juga Rio membela diri, Mama gak bakal percaya. Rio itu udah putus sama Nabila, dan kalo sekarang Rio sakit, itu emang udah takdir, bukan karena dia."
Rio membalikkan badan menghadap ke tembok, ditutupnya kedua telinganya dengan bantal. Dengan demikian, Rio berharap tak mendengar suara mamanya lagi. Mama Rio mendengkus kesal, melihat ulah anak bujangnya.
__ADS_1