Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Part 47


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Nabila di sekolah, tak lagi sama dengan saat-saat gadis itu mulai menjadi murid baru di tempat itu. Meskipun saat ini, Rio mulai kembali mendekati, Nabila tetap menjaga jarak, enggan terjatuh di lubang yang sama.


Teman-teman sekelas Nabila juga bersikap sama seperti saat mereka tau status Pak Bakir, acuh dan memandang sebelah mata. Bisik-bisik sumbang tentang Nabila yang anak napi, memang mulai mereda, tapi pandangan sinis masih kerap Nabila dapatkan.


Raka juga masih getol bersitegang dengan Dessy. Hampir setiap hari mereka terlibat pertengkaran mulut, bahkan alasan yang sangat sepele seperti Raka ketahuan sengaja melirik Dessy, membuat mereka ribut dan mengeluarkan kata-kata yang kasar.


"Kamu itu kenapa sih, Dess? Tiap ketemu Raka, bawaannya pengen terkam aja, kayak kucing lagi ketemu tikus."


"Aku sebel sama dia, liat mukanya tensiku tiba-tiba aja naik."


"Pasti ada alasannya, kan? Kenapa kamu bisa bersikap seperti itu?"


"Gak perlu alasan buat sebel sama dia. Pokoknya aku sebel!!"


"Hati-hati lho, berawal dari sebel, bisa aja lama-lama jadi jatuh cinta beneran. Ingat, karma itu masih berlaku!"


"Karma apaan?"


"Ya karma karena kamu sebel sama Raka, terus akhirnya jadi jatuh cinta, berlanjut jadi cinta mati dan gak dapat hidup tanpa doi."


Deasy memandang Nabila dengan mata melotot,sedang yang dipandang hanya tertawa jahil.


"Gak bakalan, Bil!! Mending juga aku jomblo bahagia, timbang sama dia. Dia itu cowok paling B*ngs*d yang pernah ku kenal."


"Masa sih, Dess? Jelasin lah, maksudnya itu gimana?"


"Dia tuh pemain cowok yang suka modus ke cewek-cewek yang dia pandang kaya, setelah itu dia porotin duitnya, dan ditinggal deh. Banyak korbannya tuh cowok."


"Kamu tau banget ya, Dess?"


"Dulu kan kami satu SMP, Bil. Pernah sekelas juga, waktu kelas delapan. Jadi aku cukup tau tentang dia. Umur dia juga beda dua tahun dari kita-kita ini, karena dia sempat dua kali tinggal kelas."


"Berarti, harusnya udah kelas dua belas, ya?"


"Iya, kan kelihatan tuh, kalau dia lebih tuwir kan?"


"He em, karena penampilannya juga sih, kumisnya tebal, kayak bapak-bapak. Tapi..."


"Kenapa, Bil?"


"Aku heran aja, kok dia kayak dend*m banget sama kamu. Keliatan banget dari pandangan matanya yang tajam menusuk."


"Aku pernah berurusan sama dia, ceritanya panjang. Kapan-kapan aja ku ceritain."

__ADS_1


Nabila merasa sedikit kecewa, cewek itu ingin tau alasan kenapa Raka dan Dessy tak pernah akur, tapi memaksa Dessy bercerita juga hal yang mustahil. Dessy tipe orang yang keras kepala, dan tak suka dipaksa. Dia akan bercerita, jika benar-benar mau saja.


"Eh, Bil!!! Kok melamun?"


"Enggak kok, Dess. Bingung aja mau ngobrol apa lagi."


"Oh iya, Bil, baru ingat nih. Mama bilang, Tante Hesti, mamanya Kak Rio, mau ngundang kamu dan keluarga untuk makan malam."


"Hah? Ngapain?"


"Kayak e sih, tuh si Tante ngebet banget pengen jadiin kamu mantu deh, jadi istrinya Kak Rio, hahaha."


"Gak usah ngaco, mamanya Kak Rio itu gak suka banget sama aku. Jauh sebelum tau kalau bapakku seorang napi, karena aku berasal dari keluarga yang menurutnya miskin."


"Kalau itu, aku juga udah tau kok, Bil. Terus kan aku cerita sama Mama, dan Mama jadi pengen kasih pelajaran ke Tante Hesti."


"Pelajaran gimana?"


"Ingat kan, waktu Mama bilang kalau kamu tuh ponakan dia?"


"Iya, ingat. Terus?"


"Terus ya Tante Hesti itu setuju kalau Kak Rio dekatin kamu."


"Ya begitulah. Kalau sepupuku, kan level keluarga kamu sama mereka jadi sama, gitu mungkin mikirnya."


"Hem, aneh-aneh aja mama kamu, Dess. Sama aneh dengan anaknya."


Nabila tertawa, tapi Dessy pura-pura cemberut. Dalam hati Dessy mengakui, dia dan mamanya punya persamaan, suka jahil dan ngerjain orang.


"Tapi kan asik juga, biar orang kaya kayak mereka itu gak sombong. Harta itu cuma titipan, gak perlulah dibanga-bangain, toh kalau Tuhan berkehendak untuk mengambilnya, manusia juga bisa apa, ya kan?"


"Prinsip orang bisa gak sama, Dess. Aku aja, kalau ditakdirkan jadi kaya kayak mereka, mungkin juga punya sikap seperti itu."


"Tuhan maha tahu, makanya kamu gak ditakdirkan jadi orang kaya."


"Iya, Tuhan gak mau aku jadi sombong dan akhirnya jadi gak berkenan di hadapan-Nya. Dia tau porsi masing-masing manusia ciptaan-Nya."


"Yup, bener banget. Syukuri aja semua yang ditakdirkan bagi kita, karena itu memang yang terbaik dari Tuhan."


"He em, dan kita berdua ini sekarang jadi mirip dua orang yang pura-pura paham agama, mengadakan diskusi."


Dessy dan Nabila tertawa bersama, menyadari kekonyolan mereka yang sok religius.

__ADS_1


"Terus, gimana lanjutan cerita tadi? Apa kata mama kamu, Dess?"


"Awalnya sih Mama mau setuju, jadi ngajak kamu dan Ibu buat bareng ke undangan itu. Keluarga ku juga diundang gitu ceritanya."


"Terus?"


"Ya kalau gitu kan jadi ketahuan, Bil. Gak mungkin kan kita ngajak Ibu untuk ikut dalam rencana ini? Ibu pasti nolak."


"Ya iya lah, kamu kan tau sendiri, gimana ibuku."


"Makanya...aku bilang aja ke Mama, kalau kita gak bisa datang, alasannya ada acara keluarga besar."


"Mamanya Kak Rio percaya?"


"Percaya dong. Kita kan sepupu, jadi kalau acara keluarga besar, kita kan terlibat."


"Acaranya apa nih, kata mamamu?"


"Kakek mau sunat."


"Dessyyyyyyy!!"


Keduanya tertawa kembali, menertawakan jawaban Dessy yang konyol. Mana mungkin Tante Hesti percaya dengan alasan seperti itu.


"Tante Hesti juga gak nanya, sih, itu acara keluarganya apaan, jadi aman."


"Terus, selanjutnya gimana tuh?"


"Gak usah dipikirin lah, Bil! Mengalir aja kata Mama, lihat perkembangan selanjutnya. Tapi...aku mau nanya deh, Bil."


"Nanya, apa?"


"Kamu masih cinta gak, sama Kak Rio?"


"Entahlah, Dess. Semakin ke sini aku baru menyadari, kalau selama ini rasa aku ke dia itu bukan cinta, tapi cuma simpati. Dia selalu ada di saat aku butuh, jadi aku merasa berterima kasih aja. Terus, gak enak kalau nolak waktu dia nembak."


Dessy tampak tersenyum, perkiraannya selama ini memang tepat. Nabila hanya sekedar merasa simpati pada Rio.


"Tapi, Kak Rio sepertinya cinta beneran tuh sama kamu."


"Ya aku gak tau, buktinya sekarang dia juga dekat sama cewek yang namanya Rara itu kan?"


Senyum Dessy merekah, ketika Nabila menyebut nama Rara. Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya, ide untuk memberi pelajaran pada Tante Hesti.

__ADS_1


Bel panjang tanda istirahat telah usai, berdering. Membuat Nabila urung bertanya, apa yang membuat wajah Dessy tiba-tiba ceria.


__ADS_2