
Rio sudah mulai masuk sekolah kembali, dan tentu saja disambut bahagia oleh para pengagumnya, terutama Rara. Gadis itu tampak sangat bahagia, dan mengikuti kemanapun Rio pergi, seperti bayangan. Bahkan ketika Rio hendak ke kamar kecil, Rara dengan rela menunggunya di depan toilet. Toilet pria dengan aroma yang membuat kucing hamil auto pingsan.
"NGAPAIN SIH, KAMU NGIKUT-NGIKUT AKU TERUS, RA? PERGI SANA!"
Rio tampak emosi, ketika dia keluar dari toilet, Rara ada di depan tempat itu sambil nyengir.
"Gapapa kok, Rio. Aku cuma senang aja kamu sudah kembali masuk sekolah. Aku nyesel banget, udah buat kamu sakit. Aku minta maaf ya, Rio!"
"KAN UDAH KU BILANG BERULANG KALI, KAMU UDAH KU MAAFIN!"
"Iya, terima kasih ya, Rio."
"SEKARANG KAMU PERGI! JANGAN IKUTI AKU LAGI!"
"Tapi...tapi, Rio..."
"Tapi apa lagi, Ra?" Rio menggaruk kepalanya kasar karena kesal.
"Kamu mau kan, maafin aku?"
"BENER-BENER YA KAMU, RA! NGERTI OMONGAN GAK SIH LU???!!!"
Rio tampak semakin emosi, ingin rasanya dia men*njok cewek yang berdiri di depannya ini, cewek menyebalkan yang membuatnya hampir frustasi karena kelakuannya yang bikin kesal.
"Ma...maaf, Rio."
Rara menunduk, matanya juga tampak berkaca-kaca, gadis itu sudah hampir menangis. Tapi rasa rindunya pada sang Pujaan hati, membuat Rara menebalkan muka dan telinga mendengar cacian Rio.
"KALAU GUA LIHAT MUKA LU LAGI, GAK SEGAN-SEGAN GUA TUNTUT ELU KARENA UDAH BIKIN GUA MASUK RUMAH SAKIT."
Seketika tubuh Rara menegang, gadis itu tampak ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Rio meninggalkan Rara yang seketika merosot ke lantai depan toilet yang kotor. Bahu gadis itu terguncang, gadis itu menangis sedih.
Rio melangkah menuju kelas 10 IPA 2, kelas Dessy dan Nabila, cowok itu sangat merindukan mantannya. Di dalam kelas, tampak Dessy duduk sendirian, berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
"Dess..." sapa Rio.
Dessy mendongak, dan tersenyum pada cowok yang baru saja menyapanya.
"Udah sembuh, Kak? Hari ini mulai masuk sekolah?"
Rio mengangguk, kemudian duduk di sebelah Dessy. Teman-teman sekelas Dessy melihat mereka dengan pandangan beragam. Ada yang penuh tanya, heran, sinis, bahkan ada yang mencemooh. Bahkan beberapa teman cewek tampak saling berbisik.
"Mana, nih?" tanya Rio sambil menepuk bangku yang dia duduki.
"Oh, jadi ke sini karena kangen ya?" tanya Dessy sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Banget," jawab Rio sambil menghela napas.
"Cinta banget nih kayaknya, sampai berani melanggar perintah Mama mertua," canda Dessy.
"Ya begitulah. Tapi sejak kamu datang kapan hari itu, pandangan Mama udah berubah sih, gak lagi sinis kayak dulu. Bahkan seperti mendukung gitu lho, Dess."
Dessy tertawa, gadis itu paham arah pembicaraan Rio, Nabila, tentu saja. Tetapi teman-teman yang mendengar percakapan mereka, menangkap lain. Mereka mengira, mama Rio menerima Dessy jadi kekasih anaknya, setelah gadis itu berkunjung ke rumah Rio.
"Kalau begitu, ya lanjut aja, Kak! Seperti yang aku bilang kemarin kan? Jodoh tak bakal ke mana. Asam di gunung, garam di laut, akan bertemu di panci sayur asem."
Keduanya terbahak mendengar kelakar Dessy, dan membuat bisik-bisik semakin santer. Ada pula yang terang-terangan mencibir.
"Nanti pulang bareng Kakak ya, Dess. Aku sudah ijin sama mamamu, jadi jangan berharap kamu bakal dijemput!"
"Siap, Bos. Kemanapun asal bersamamu," kata Dessy yang disambut tawa oleh Rio. Kemudian cowok itu kembali ke kelasnya, karena bel masuk sudah berdering.
Di rumah Nabila, tampak gadis itu membantu ibunya memasak, untuk persiapan acara seratus hari meninggalnya Pak Bakir. Wajah Nabila tampak mendung, karena memendam kerinduan pada bapaknya.
"Sekarang ini, kira-kira Bapak ngapain ya, Bu?" tanya Nabila sambil mengupas kentang.
"Ya mana Ibu tau, Bil. Kan Ibu belum pernah meningal," jawab ibunya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nabila kangen banget sama Bapak, Bu. Apa Ibu gak kangen?"
"Tentu saja Ibu kangen, bapakmu kan satu-satunya suami Ibu, Bil. Tapi masa kita harus ke tempat bapakmu sekarang sih? Kita hanya dapat berdoa, Sayang, agar nanti bisa berkumpul kembali di sorga-Nya."
"Amin. Andai Bapak bukan orang yang terlalu baik ya, Bu, pasti saat ini Bapak masih hidup."
"Maksud kamu?"
"Ya kalau hari itu Bapak membiarkan saja wanita itu di sana, kan Bapak gak mungkin juga dituduh jadi pemb*nuh kan?"
"Hadeh, Nabila, meski bapakmu bukan orang baik sekalipun, tak akan tega untuk tidak menolong wanita yang terluka kayak gitu. Ini memang takdir yang sudah digariskan Tuhan buat bapakmu, sudah menjadi rencana-Nya, bukan rencana manusia."
"Ta...tapi, Bu, Nabila masih belum merelakan kematian Bapak. Nabila masih ingin melihat orang-orang itu mendapat hukuman mereka."
"Yang seorang, sudah kan?"
"Iya, tapi yang satunya kan masih hidup, bahkan terlihat bahagia."
Nabila teringat pertemuannya di mall dengan Dika dan Tasya beberapa waktu lalu. Dika terlihat hidup bahagia bersama istri dan anaknya, juga bersama Rika, janda Sueb.
"Penghakiman itu bukan hak kita, Ndhuk. Tuhan tak akan membiarkan umat-Nya yang senantiasa berharap pada-Nya akan menderita. Tuhan akan membalaskan sakit hatimu, dan kamu akan diam saja dan melihat. Pasrah sama Tuhan, Ndhuk!"
Nabila menghela napas, perkataan ibunya benar, Tuhan tak pernah tidur. Dia selalu memperhatikan hamba-Nya yang berpasrah kepada-Nya. Mungkin saat ini, Dika dan keluarganya terlihat bahagia, tapi waktu Tuhan, akan menentukan kapan keluarga itu akan menangis, seperti keluarga Nabila yang kehilangan Pak Bakir.
"Ngomong-ngomong, nanti Dessy ke sini, Ndhuk?"
"Katanya sih pulang sekolah dia ke sini, terus papa dan mamanya nanti sore juga ke sini. Nabila sampai gak enak sama mereka, Bu. Mereka baik banget sama Nabila, jadi bingung mau balas pakai apa."
"Sekarang ini, kita belum bisa membalas kebaikan mereka, kita cuma bisa berdoa, Nduk. Tapi, suatu saat kita akan membalas kebaikan mereka, mungkin setelah kamu sukses jadi orang."
"Pasti, Bu. Nabila akan berusaha, terlalu banyak hutang budi Nabila pada Dessy dan keluarganya."
"Pada Nak Rio dan keluarganya juga ya, Ndhuk. Bagaimanapun, Nak Rio sudah pernah baik sama kita. Kalau sekarang hubungan kalian tidak baik, jangan menjadi halangan bagimu untuk membalas budi."
__ADS_1
"Iya, Bu. Nabila mengerti kok. Kak Rio itu tulus membantu kita, cuma keadaan saja yang membuatnya sekarang bersikap seperti itu."
Dari depan, ada yang mengucapkan salam. Nabila bergegas menemui tamu itu, karena sudah mengenal suaranya. Mata Nabila membulat, ketika melihat tamu itu datang bersama orang yang tidak disangka-sangka.