Bapakku Bukan Penjahat

Bapakku Bukan Penjahat
Bab 26


__ADS_3

Sueb dan Mus sudah menerima ganjaran dari perbuatan mereka selama ini, keduanya tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Bukan berarti Tuhan tidak memberikan kesempatan buat umatnya untuk bertobat dan berbalik dari perbuatan dosa mereka, agaknya Sueb dan Mus, mengabaikan suara Tuhan. Hati mereka sudah tertutup dengan semua tipu daya setan.


Dika dan Rika, tiba di rumah sakit. Keduanya segera menuju ruang jenasah, sesuai instruksi yang didapat Rika dari petugas.


"Selamat siang, Pak. Saya Rika, istrinya Bang Sueb yang dikabarkan meninggal karena kecelakaan," Rika memperkenalkan diri pada petugas.


"Oh iya, Bu Rika. Apa Ibu mau melihat jenasah almarhum Bapak Sueb? Tapi saya sarankan, jangan deh!"


"Gimana sih, Pak? Tadi ditawari lihat, sekarang kok jangan?" protes Dika.


"Anda siapanya Pak Sueb, ya?"


"Perkenalkan, nama saya, Dika. Saya rekan kerjanya Sueb, lebih tepatnya, Sueb bekerja di bengkel komputer milik saya."


Dika mengulurkan tangan saat memperkenalkan diri, dan Pak Polisi menyambutnya dengan hangat.


"Berarti, Anda bosnya Pak Sueb, ya?"


"Rekan kerja!" jawab Dika.


"Ya terserahlah, apa kata Anda saja. Jadi begini, Pak Dika, jenasah Pak Sueb itu keadaannya sangat memprihatinkan, jadi sebaiknya Ibu tidak melihat. Dikhawatirkan, nanti malah terjadi sesuatu yang tidak diharapkan."


"Maksud Bapak, bagaimana?" tanya Rika.


"Maaf ya, Bu! Jenasah Pak Sueb lumayan hancur, wajahnya saja sukar dikenali. Kami mengidentifikasi dari KTP yang ditemukan dalam dompet di saku Bapak."


Seketika Rika tampak menangis histeris, wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Dika dan petugas kepolisian berusaha menenangkan Rika. Petugas juga memberi Rika air mineral dalam gelas, yang langsung diminum wanita itu hingga tandas.


"Sabar ya, Mbak!" hibur Dika.


"Kenapa Bang Sueb tega ninggalin aku, Mas Dika? Kenapa? Katanya Bang Sueb itu cinta mati, tapi kok tega banget, huhuhu."


"Yang namanya maut, itu hanya Tuhan yang tau, Mbak yang sabar, ya! Supaya Bang Sueb lancar perjalanannya ke alam sana."


Rika terus saja menangis, bahkan kadang sampai berteriak histeris. Dika dan petugas sampai kewalahan menenangkannya. Tapi, tak ada seorangpun yang menyadari, tangis Rika tanpa air mata setetes pun.

__ADS_1


Setelah Rika tenang, Dika mengikuti petugas untuk melihat jenasah Sueb. Rika memutuskan duduk di depan ruang jenasah menunggu Dika kembali. Beberapa saat kemudian, Rika menerima telpon dari seseorang.


"Iya, halo, Bang Rojali."


"Kamu dimana, sama siapa?"


"Masih di rumah sakit, sama bos si Sueb, kenapa Bang?"


"Cuma nanya, kirain udah pulang. Nanti kasih kabar kalau udah di rumah ya!"


"Siap, Bos."


Rika mengakhiri panggilan dan tersenyum bahagia, sebentar lagi keinginannya menjadi nyonya Rojali sang Juragan kontrakan bakal terwujud.( Arwah Bang Sueb akan menangis melihat ini).


Tak lama, Dika tampak menghampiri Rika dengan muka yang susah digambarkan. Antara ngeri, takut, mual dan entah perasaan apalagi yang dirasakannya.


"Kenapa, Mas? Kok mukanya begitu?"


"Benar kata petugas, Mbak Rika mending gak lihat jenasah Bang Sueb. Bisa-bisa susah tidur 40 hari 40 malam, ngeri banget lihatnya."


"Iya, Mbak. Aku aja yang biasa lihat ma--"


Dika menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan mengatakan, melihat mayat korban-korbannya dan Sueb saat beraksi.


"Ma...? ma apa maksudnya, Mas Dika."


"Mayat korban kecelakaan yang di film-film, Mbak."


"Kan beda, di film sama di dunia nyata, Mas."


Rika tampak tertawa renyah, menampakkan deretan giginya yang putih. Tak ada lagi wajah duka yang terlihat, padahal mayat suaminya belum lagi dikuburkan. Sungguh istri yang durhaka.


"Kalau sudah dipastikan itu beneran mayat Bang Sueb, kita boleh langsung pulang kan, Mas?" tanya Rika sambil merapikan rambutnya, dengan menggunakan ponsel sebagai cermin.


"Ya sudah boleh kok, emang Mbak Rika mau kita langsung pulang?"

__ADS_1


"Ya kalau bisa kita mampir ke super market dulu, Mas. Kan pastinya nanti banyak yang datang ke rumah, untuk melayat. Jadi butuh makanan atau minuman kemasan gitu, tapi--"


"Tapi kenapa, Mbak?"


"Tapi aku lagi gak pegang uang, Mas Dika."


Wajah Rika tampak murung, wanita itu menundukkan wajahnya. Tak lama, terdengar isak tertahan dari bibir wanita itu, lalu Rika mengambil tisu dari dalam tas, untuk mengusap air mata.


Dika menghela napas, dia tau sifat istri Sueb yang memang mata duitan. Bisa saja semua yang dilakukan Rika, hany untuk menarik simpati Dika. Tapi, Dika merasa tak tega untuk membantu secara materi, karena yang dia tau, Sueb memang tak punya penghasilan besar, selama beberapa minggu ini.


"Aku ada, tapi gak banyak, kalau Mbak mau pakai, ya silakan!"


"Aku merasa gak enak, sudah sering ngerepotin Mas Dika."


"Gak repot kok, Mbak. Memang sudah kewajiban kita, membantu teman yang kesusahan."


Dika membuka dompetnya, kemudian memberikan lima lembar uang seratus ribuan, pada istri Sueb. Rika menerima uang itu, dan mengucapkan rasa terima kasih sambil menangis, tapi begitu Dika tak melihat, Rika tampak tersenyum licik.


Setelah mengantar Rika ke super market, mereka berdua melaju pulang. Dika melirik belanjaan Rika, cuma sekantong plastik yang tak begitu besar. Dan yang terlihat dibeli Rika, adalah kosmetik dan peralatan mandi. Dika mendengkus, dan menahan amarah, lagi-lagi tertipu istri Sueb--kan kampret--yang berkedok duka cita karena suami tewas mengenaskan.


Mereka berdua sampai di depan rumah Sueb, tapi Dika enggan untuk ikut masuk ke dalam rumah. Dia tak mau, jika nanti dijadikan pembantu gratisan, maklum banyak pekerjaan, menjelang pemakaman.


"Beneran gak mau mampir, Mas Dika?"


"Maaf, aku mau langsung ke bengkel, udah beberapa hari tutup, takutnya dibuat anak-anak muda berbuat hal terlarang."


"Aku masuk dulu, Mas."


Rika berjalan masuk ke dalam rumahnya, sambil menenteng tas plastik berisi barang yang baru dibeli, dari uang Dika. Raut sedih tak lagi nampak pada wajah cantik itu, bahkan Rika berjalan sambil bersenandung riang.


Dika tak segera meninggalkan rumah Sueb, diamatinya istri Sueb dengan segala perilaku ganjil nya. Dalam hati Dika menangis, prihatin akan Sueb temannya. Segala sesuatu telah dikorbankan oleh pria itu, hanya untuk membuat istrinya senang. Tetapi sebagai balasannya, sang istri tidak peduli, bahkan saat ajal menghampiri.


"Hadeh, Bang, malang benar nasibmu. Punya istri cantik, tapi malah menderita, bahkan sampai meregang nyawa. Kamu tau, Bang? Tampaknya istrimu malah bahagia, karena kamu mati," kata Dika seolah Sueb ada di dekatnya.


Sampai di dalam rumah, Rika segera meraih ponselnya. Sambil tersenyum manis, ditekannya nomer Juragan Rojali. Hanya memanggil, tak pernah berubah jadi berdering, bahkan tak ada photo profil, ya Rika telah diblokir.

__ADS_1


Rika berteriak kesal, ingin rasanya membanting ponsel, tapi cuma itu satu-satunya harta Rika yang paling berharga.


__ADS_2