
"MAA, MAMA!! MAMA DI MANA?"
Dengan tergopoh Tante Anna keluar dari dalam kamarnya, mendengar Dessy yang berteriak keras memanggilnya.
"Apaan sih, Dess? Pulang-pulang kok teriak-teriak, kamu kira ini hutan? Mama belum budeg tau!"
Dessy cuma nyengir mendengar omelan mamanya yang tampak kesal. Gadis itu mendekat, memeluk mamanya, kemudian mengajaknya duduk di sofa.
"Gimana, Tante Hesti masih ngeyel ngundang Nabila makan malam?"
"Awalnya sih iya, katanya mumpung ada papanya Rio. Tapi waktu Mama bilang ada acara keluarga yang penting, dia bisa maklum. Emang kenapa, Dess?"
"Ya gapapa sih, cuma nanya aja, hehehe."
"Cuma mau nanya gitu doang, kamu teriak-teriak kayak Ronaldowati?"
"Kok Ronaldowati?"
"Karena kamu cewek. Kalau Mama bilang Tarzan, kan dia cowok."
Dessy memonyongkan bibir hingga maju beberapa senti, mamanya memang jago membuat orang kesal, sama seperti dirinya.
"Dessy punya rencana nih, Ma. Tapi Mama yang eksekusi!"
"Rencana apa?"
"Mama bilang ke Tante Hesti, kalau di sekolah Kak Rio itu lagi dekat sama cewek yang namanya Rara. Terus kita lihat reaksinya gimana!"
"Rara itu siapa?"
"Teman seangkatannya Kak Rio, tapi mereka beda kelas, Kak Rio MIPA si Rara ini bahasa. Itu lho, cewek yang Dessy ceritain jadi bayangannya Kak Rio, yang ke toilet juga diikutin. Rasa ini yang kasih Kak Rio cireng rujak, yang bikin dia masuk rumah sakit."
"Memangnya si Rio juga tertarik sama Rara ini?"
"Entahlah, ini juga yang pengen Dessy tau, Ma. Karena mereka itu di sekolah terlihat seperti pasangan. Tapi, Kak Rio juga ku lihat masih sayang sama Nabila. Buktinya, kemarin dia maksa ikut ke rumah Nabila, untuk membantu persiapan seratus harinya bapak Nabila."
"Hem, Mama jadi merasa muda lagi nih, gara-gara terlibat urusan cinta monyet."
__ADS_1
Tante Anna tersenyum senang, tapi Dessy tampak kesal.
"Kan Mama sendiri tuh, yang melibatkan diri sama urusan ini. Kan ide Mama, buat ngakuin Bila jadi keponakan, untuk kasih pelajaran ke Tante Hesti."
"Ya kan Mama lagi gabut, jadi Mama iseng aja awalnya. Eh, ternyata seru juga."
"Awas aja, nanti Dessy suruh Nabila untuk bikin novel tentang Mama. Judulnya, Puber Kedua Emak-Emak Rempong."
Kali ini, Tante Anna yang terlihat manyun, sedang Dessy tertawa ngakak, melihat raut wajah mamanya.
"Tertawa aja terus! Nanti Mama ogah bantuin kamu, ngasih pelajaran ke mamanya Rio."
"Lha? Kan Mama yang mau ngasih pelajaran, kok jadi Dessy?"
"Oh iya, Mama lupa, maklum udah tuir."
"Jadi gak nih, lanjut misinya, Ma?"
"Lanjut aja, udah kepalang tanggung juga, kan?"
"Ho oh, udah basah, sekalian nyebur aja. Nanti Mama telpon Tante Hesti, pura-pura aja sedih, karena ternyata Kak Rio itu lebih memilih si Rara daripada Nabila keponakan Mama!"
"Ya bilang aja dari Dessy, dan beritanya udah nyebar ke seluruh sekolah, begituuuu."
"Oke lah, Cantik. Nanti Mama yang atur, kamu terima beres. Sekarang kamu ganti baju dan makan, udah Mama masakin sop ayam kesukaan kamu!"
Mendengar kata sop ayam, cacing-cacing di perut Dessy serasa bersorak. Gadis itu segera melesat ke kamar, berganti baju dengan kaos oblong dan celana gemes, kemudian nangkring di meja makan.
Di rumah Dika, tampak keluarga kecil itu juga duduk di meja makan, juga Rika dan Mbok Sari, keduanya gak ketinggalan. Rika duduk di dekat Dika, sengaja, dan hal ini membuat Winda dan Bik Sari geram. Ketika Rika dengan sok manis menyendok nasi ke piring Dika, wanita tua itu tak dapat menutup mulutnya.
"Heh, Ganjen! Harusnya yang kamu urus itu Tasya, bukan bapaknya! Gak tau diri banget sih? Ingat, di sini kamu itu sama kayak aku, babu."
"BIK!"
"Kenapa, Pak? Apa omongan saya salah?"
Dika memberi kode pada Bik Sari dengan pandangan matanya, ada Tasya di situ, jangan bicara kasar. Dan Bik Sari mengerti, juga meminta maaf lewat tatapan mata.
__ADS_1
"Mbak Rika, kamu tukar tempat sama Bik Sari ya! Biar enak kalau mau ngambil yang Tasya mau. Aku bisa sendiri, dan ada istriku juga kok."
Dika berbicara pada Rika, sambil lengannya melingkar di bahu Winda, membuat Rika merasa kesal. Wanita itu bertukar tempat dengan Bik Sari, dan menghempaskan diri ke kursi dengan keras. Alhasil, kursi itu terguling dan Rika jatuh terjengkang.
"sukurin, abis ganjen sama suami orang sih! Itu belum seberapa, baru peringatan, nanti kamu akal dapat balasan yang lebih kejam," bisik Bik Sari di dekat telinga Rika.
Sambil berdiri dan mengusap bokongnya yang berdenyut, Rika melotot ke arah Bik Sari. Dika dan Winda mencoba menahan tawa, sedang Tasya tampak prihatin.
"Tante Rika gapapa? Sakit ya, Te?"
"Enggak kok, Sayang."
"Yuk lanjut makan, keburu dingin, nanti gak enak!" ajak Winda.
Setelah acara makan siang usai, Dika kembali ke bengkel komputer miliknya, Tasya sedang tidur siang dan Bik Sari sibuk bersih-bersih dapur. Winda menghampiri Rika ke kamarnya.
"Apa maksud kamu, Mbak?"
Winda yang tiba-tiba masuk dan bertanya, membuat Rika yang sedang asik nonton you tube terkejut.
"Hah? Apaan, Mbak Winda?"
"Itu tadi di meja makan, apa maksud Mbak Rika? Dengar ya, Mas Dika itu suamiku, dan aku masih hidup! Aku bisa melayani suamiku sendiri di meja makan, jadi gak butuh bantuanmu."
"Aku, cuma..."
"Aku bukan wanita b*go, Mbak! Aku tau sebenarnya maksud kamu itu apa, mau menggoda suamiku, kan?"
"Aku gak punya maksud kayak gitu, Mbak. Demi Tuhan, aku cuma---"
"Jangan membawa nama Tuhan, agar kebohonganmu jadi meyakinkan! Aku tau kok tujuanmu kerja di sini. Dan perlu kamu ingat, Mbak! Aku bisa memecat kamu kapan saja, dan gak perlu minta persetujuan Mas Dika. Kami menampung kamu di sini, cuma karena kasian, tapi kalau kamu ngelunjak, aku tak akan segan memecat kamu. Yang teman baik Mas Dika itu Bang Sueb, bukan kamu. Jadi tak perlu merasa tak enak untuk mengusir kamu dari sini, bila perlu."
Rasa jengkel yang sedari tadi ditahan oleh Winda, akhirnya lolos juga dari mulutnya. Semua beban yang tadi menghimpit, sudah agak sedikit lega karena tersalurkan.
"Benar, Mbak. Aku gak ada maksud apa-apa kok, cuma tadi kebetulan aja aku di dekat Mas Dika, jadi sekalian aja ku ambilkan."
Winda mendelik karena kesal, wanita seperti Rika memang tak bisa dibiarkan. Ibarat memelihara anak singa, ketika kecil begitu menggemaskan, tapi setelah besar malah menerkam tuannya.
__ADS_1
"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu. Kalau udah gak betah kerja di sini, silakan angkat kaki!!"
Winda meninggalkan kamar Rika dengan mendengkus kesal.