Be Honest

Be Honest
Bertemu CEO


__ADS_3

"Kamu dari mana aja sih, Jul?" omel Adel begitu Julie muncul di depan resepsionist. Dia khawatir Julie tersesat karena kantor ini cukup luas.


"Sorry, aku baru saja dari toilet." sahutnya sambil meringis.


"Oke, kita naik ke atas. Aku sudah bicara ke Pak William." Adel menekan tombol lift. Dia merapikan rambut dan pakaiannya dengan bercermin menggunakan kaca dalam lift.


Julie melihat perubahan cukup besar dari penampilan Adel. Dia memoleskan make up dan menggunakan bando hitam, membuatnya terlihat lebih cantik.


"Kamu bisa rapi juga?" celetuk Julie.


"Jul, kamu itu jarang bicara. Tapi sekalinya bicara sungguh menyakitkan."


'Ting'


Pintu lift terbuka. Mereka turun di lantai 7. Adel menyapa beberapa orang yang dia temui dengan gaya premannya.


"Pagi, bro.. Pak William ada kan?" Adel menahan seorang pria yang baru saja akan pergi dari mejanya.


"Baru saja datang, tapi mood nya tidak dalam keadaan baik." pria itu menggeser tubuh Adel, lalu pergi meninggalkan mereka.


Adel menarik nafas panjang. Dia mengubah raut wajahnya supaya menjadi lebih ramah, sebelum mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan CEO.


"Pak William sebenarnya baik, cuma mood nya sering naik turun. Kamu jawab seperlunya saja nanti ya.." pesan Adel sembari menunggu jawaban dari dalam.


"Masuk."


Di dalam ruangan, tampak seorang pria dengan potongan rambut spike sedang sibuk membolak balik dokumen di mejanya.


"Selamat pagi Pak William." sapa Adel dengan nada super ramah.


Tidak ada jawaban dari William.


"Maaf Pak, saya bawa teman saya yang ingin mendaftar kerja di sini." lanjut Adel.


William menengok ke arah mereka. Dia meletakan dokumennya, lalu memperhatikan wanita yang dibawa oleh Adel.


Julie tersenyum kaku. Dia seperti pernah bertemu dengan pria itu, tapi entah di mana.


"Ini Julie, Pak." Adel menyenggol lengan Julie. "Serahkan Lamaran kerja mu."


Julie menepuk jidatnya. Dia tidak membawa CV, lebih tepatnya dia lupa untuk meminta orang suruhannya untuk menyiapkan ijazah.

__ADS_1


"Jul, kamu tidak bawa ya?"


Julie mengangguk lemah.


Ehem. William berdehem untuk menghentikan 2 wanita yang malah bercakap-cakap sendiri.


"Adel, kamu keluar dulu. Aku ingin mewawancarai dia." katanya sambil memberi kode supaya Adel keluar.


Julie menarik blouse Adel karena dia tidak ingin di tinggalkan sendiri bersama dengan William. Tapi, Adel dengan cepat melepaskan tangan Julie. Dia harus kabur sebelum William murka. Dia teringat kata temannya yang tadi mengatakan jika mood bos nya sedang tidak baik.


William berdiri dari bangkunya, lalu dia berdiri di depan Julie. Julie mundur 2 langkah supaya dia tidak berdiri terlalu dekat dengan pria yang terus menatapnya.


"Kamu ingin bekerja tapi tidak membawa CV?" tanya William dengan tegas. "Apakah kamu ingin main-main?"


"Tidak, Pak. Saya sangat ingin bekerja." jawab Julie gugup.


"Apa keahlian mu?"


"Emm,, saya bisa mengoperasikan komputer, saya bisa 5 bahasa, saya bisa bekerja keras dan saya jujur." Julie menyebutkan keahlian yang dia miliki tanpa menyebutkan bidang akademisnya. Dia takut kalau William akan malu dan tidak bisa menerima kenyataan karena Julie merupakan salah satu lulusan terbaik jurusan bussines di Stanford University. Dia bahkan menyelesaikan kuliahnya di usia 22 tahun.


"Bahasa apa saja?"


"Inggris, Indonesia, Mandarin, Jepang, dan Perancis." jawab Julie serperlunya.


Julie membulatkan matanya. Dia baru ingat sekarang. Pria berambut spike dengan wajah blesteran Indo Chinese ini adalah pria yang sama dengan pria di toilet tadi.


"Maaf Pak, saya menyesal sudah masuk dalam toilet pria." jawab Julie sambil menunduk.


"Baiklah, kamu diterima di bagian digital marketing." William berbalik untuk duduk di kursinya yang nyaman. "Kenapa masih di sini?" tanyanya pada Julie yang masih berdiri seperti patung.


"Oh iya, Terima kasih pak.." Julie tersadar. Dia masih tidak menyangka karena William menerimanya untuk bekerja di sini. Bahkan Julie pikir dia tidak akan diterima karena peristiwa salah masuk toilet tadi pagi. Pasti William menganggap Julie itu bodoh.


"Saya akan bekerja dengan baik." lanjut Julie.


Dia membungkukkan badan sebelum pamit pergi.


"Julie..." William memandangi Julie yang kini sudah menghilang di balik pintu. "Dia menarik."


*


*

__ADS_1


*


'Bruk' Julie menabrak Adel yang sedang membungkuk di depan pintu.


Dia sedang menguping pembicaraan Julie dan William di dalam.


"Gimana?" tanya Adel penasaran.


"Diterima, di bagian digital marketing." jawab Julie datar.


"Yes.. satu bagian sama gue dong." Adel memeluk Julie senang. Julie memukul lengan Adel untuk segera melepaskannya, karena bekas operasi nya terasa nyeri.


"Kok kamu ga senang si?" Adel heran karena ekspresi Julie biasa saja.


'Gimana bisa senang kalau mau mati kayak gini.' batin Julie sambil mengelus dadanya pelan.


"Seneng kok.. tapi aku belum punya pengalaman kerja sama sekali."


"Ah, itu mah gampang..Nanti gue ajarin."


"Thanks Del.." Julie tersenyum kecil.


Dia sudah maju satu langkah lagi. Sekarang dia harus bekerja menjadi pegawai kantoran. Ini pencapaian yang terbesar karena sejauh 25 tahun Julie hidup, dia tidak pernah bekerja, apalagi menjadi seorang bawahan.


***


Halo.. Haloo.. author mau menampilkan visual tokoh di novel ini yaa



Ana Wilson/ Julie



Timothy



William


__ADS_1


Adel


__ADS_2