Be Honest

Be Honest
Menyelamatkan Julie, lagi


__ADS_3

Tempat sauna di hotel tampak sepi. Hanya ada beberapa orang asing saja yang sedang berada di sana. Julie mengambil tempat di pojok, tepatnya jauh dari orang-orang.


"Nyaman sekali." Julie menyandarkan kepalanya pada dinding. Dia membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada Willy, jika dia sedang sauna.


"Yah, lowbatt lagi." Julie terpaksa mematikan ponselnya dan memilih untuk memejamkan mata sejenak. Yang penting Julie sudah memberitahu pacarnya, jadi Willy tidak khawatir.


Setelah 30 menit berlalu, Julie terbangun. Dia melihat ke sekeliling, ternyata ruangan sudah kosong. Hanya tinggal Julie seorang yang masih berada di situ. Kaos Julie juga sudah basah dan badannya sudah panas.


Julie berjalan menunju keluar ruangan sauna.


'Ceklek.. ceklek.' Julie menarik kenop pintu, tapi pintunya tidak bisa terbuka. Julie merasakan sesuatu yang tidak beres. Kenapa mereka mengunci pintu padahal Julie masih ada di dalam?


"Halloo...apakah ada orang di sana?" teriak Julie dalam bahasa Inggris. Dia menggedor pintu dengan keras supaya seseorang bisa mendengarnya.


Julie mencoba menyalakan ponselnya, tapi ponselnya sudah mati. Sungguh sial sekali. Julie sudah terlalu lama sauna dan dadanya mulai sesak. Kepala Julie juga pusing dan mual. Jika tidak segera keluar, Julie bisa kena serangan jantung.


"Bagaimana ini?" Julie mencoba mencari pintu lain atau apapun yang bisa dia gunakan untuk mendobrak pintu. Tapi, belum ada 5 menit, pandangan Julie sudah gelap. Dia jatuh tergeletak di lantai.


*


*


*


Tim berlari ke bawah dengan terburu-buru. Dia melupakan Julie karena terlalu lama menelepon Edward. Tim seharusnya mengikuti Julie ke tempat sauna. Sekarang sudah 1 jam sejak Julie berada di tempat sauna. Dan wanita itu tampak belum kembali.


'Bruk' Tim menabrak Willy yang baru saja keluar dari Bar. Tapi, Tim tidak mempedulikan Willy, dia lebih mementingkan keadaan Julie.

__ADS_1


Willy yang melihat wajah panik Tim, akhirnya mengikuti pria itu dan berlari di belakangnya.


"Tim.. kamu kenapa sih?" tanya Willy setengah berteriak.


Tim tidak menjawab. Dia berhenti di depan pintu sauna. Pintu itu terkunci dari luar. Ini pertanda tidak baik.


"Cepat ke resepsionis depan, minta kunci nya Will." perintah Tim.


Willy bukannya mendengar Tim, malah terbengong.


"Julie di dalam." ucap Tim gemas karena gerakan Willy lambat sekali.


Mendengar nama Julie, Willy segera teringat jika tadi Julie ijin pergi untuk sauna. Willy baru sadar jika ini keadaan yang gawat. Willy segera berlari ke resepsionis, sedangkan Tim mencoba mendobrak pintunya.


'BRAK' pintu akhirnya terbuka.


Tim menyeruak masuk dan langsung mendapati Julie yang sudah tergeletak. Tim segera mengangkat tubuh Julie, lalu menggendongnya.


Willy yang baru datang bersama satu petugas hotel, tentu terkejut melihat Tim tengah menggendong Julie.


"Biar aku saja, Tim." Willy memegang lengan Tim untuk menggantikan menggendong Julie.


"Minggir, Will.." Tim mendorong tubuh Willy. Dia lalu segera membawa Julie ke kamar.


Tim meletakkan Julie di ranjangnya. Dia sengaja menutup pintu supaya Willy tidak bisa masuk ke dalam. Pria itu hanya akan mengganggu saja. Tim langsung menangani Julie. Dia mengganjal kaki Julie dengan tumpukan bantal, supaya peredaran darah Julie kembali normal. Tim lalu membuka pakaian Julie yang basah semua. Dia tidak memikirkan hal lain karena yang penting Julie bisa sadar. Tim mengambil bath robe di kamar mandi dan mengenakan pada Julie.


"Jul, sadar Jul." Tim juga memberikan minyak angin di sekitar hidung Julie. Dia menunggu beberapa saat. Tapi Julie tidak sadar juga.

__ADS_1


"TIM.. Buka pintu nya." Willy menggedor pintu kamar Tim dengan kuat.


Tim tidak punya waktu lagi. Dia harus segera membuka kan pintu untuk Willy supaya Willy tidak heboh dan membangunkan semua orang.


Akhirnya, Tim melakukan CPR untuk Julie. Dia sedikit terkejut saat menyentuh bibir wanita itu. Tapi, Tim mengenyahkan pikirannya. Dia harus berfokus membuat Julie sadar.


"Uhuk" Julie terbatuk.


Tim bernafas lega ketika Julie mulai membuka matanya perlahan.


"Julie.. are you okay?" Tim membantu Julie bersandar pada head board.


Julie mengangguk lemah.


"Tunggu sebentar, Jul." Tim beranjak untuk membuka pintu kamarnya.


Willy langsung mendorong tubuh Tim, dan segera menghampiri Julie di ranjang.


"Sayang.. Syukurlah kamu sudah sadar." Willy memeluk Julie yang masih terdiam saja sambil menatap lurus ke depan.


"Aku terkunci di ruang sauna." ucap Julie yang nyawanya sudah mulai terkumpul.


"Maaf, sayang.." Willy mengusap punggung Julie tanpa melepaskan wanita itu.


"Okay, aku pergi keluar dulu." Tim yang berdiri di belakang Willy, menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


"Nanti aku perlu bicara pada mu, Tim." ucap Willy tanpa menengok ke arah Tim.

__ADS_1


Pandangan Tim beralih pada Julie. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Tanpa bicara pun, Tim tau apa yang ingin Julie katakan. Tim hanya mengangguk sambil tersenyum.


'Ana Wilson, kamu benar-benar mempunyai 9 nyawa.' batin Timothy sambil berlalu dari hadapan Julie. Ya, saat ini Tim harus kembali ke bawah dan menyelidiki sebenarnya siapa yang mengunci pintu sauna.


__ADS_2