
Timothy berlari menyusuri bandara Incheon. Dia begitu panik sampai-sampai menabrak beberapa orang yang ada di depannya. Orang-orang yang awalnya marah, tidak jadi protes karena melihat penampilan Tim yang menggunakan piyama saja. Mereka pikir mungkin Tim orang yang kurang waras.
Announcement berbunyi dan memberitahu jika pesawat dengan tujuan California baru saja lepas landas.
Tim berhenti berlari. Dia terduduk lesu di sebuah bangku yang kosong. Upaya nya mengejar Julie tampak sia-sia. Wanita itu sudah pergi sekarang.
"Jul..kenapa kamu pergi?" ucap Tim lirih.
"Ehem." seseorang berdehem.
Tim mendongakkan kepala ke atas. Tampak seorang wanita menggunakan piyama tersenyum padanya. Tanpa aba-aba, Tim berdiri dan segera memeluk wanita itu dengan erat.
"Julie,, aku pikir kamu pergi." Ucap Tim khawatir.
"Ada urusan yang belum selesai, Tim." kata Julie lirih. "Kenapa kamu masih menggunakan piyama? Apa kamu berlari ke sini?" Julie melepaskan pelukan Tim. Dia masih memikirkan perkataan Romano jika Tim menyukainya.
"Aku takut kamu pergi.." Tim kembali memeluk Julie. "Mungkin ini terdengar konyol, tapi sepertinya aku menyukai mu, Ana Wilson."
Deg.
"Tim, bagaimana kamu tau?" Julie tercengang karena Tim menyebutkan namanya.
"Maafkan aku karena aku telah bohong padamu. Aku baru tau jika kamu adalah Ana, ketika kita makan malam bersama William." "Aku takut kamu pergi, jadi aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tau." Aku Tim.
"Tim..." Julie memandang wajah Tim yang tampak penuh penyesalan.
"Aku sungguh tidak bermaksud membohongi mu, Jul." ulangnya lagi.
"Ada lagi yang kamu sembunyikan Tim?"
__ADS_1
"Soal.. Willy.."
"Ya, itu aku sudah tau." Julie menarik nafas panjang.
Dalam semalam, hidupnya seperti di guncang roller coaster. Julie harus menghadapi perselingkuhan dari Willy-Emily. Dan sekarang Julie harus mendengar pengakuan dari Tim.
"Tim...apa lebih baik kita kabur bersama?' entah dari mana ide gila itu muncul. Julie sudah sangat lelah menghadapi yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini.
"Are you sure?"
"Ya, setidaknya sebelum keluarga ku menyadari jika aku masih hidup." jawab Julie pasrah.
"Tapi, kamu seorang konglomerat, An. maksud ku Jul."
"Kenapa kamu takut? Aku masih manusia dan masih makan nasi."
Tim tertawa kecil. Tim tentu sadar perbedaan yang sangat jauh antara dirinya dan Ana Wilson. Itu bagaikan langit dan bumi. Di mata mereka, Tim hanya sebutir debu yang akan langsung hilang jika di tiup.
Skak mat. Tim tidak dapat berkutik lagi. Ana memang pintar sekali membalikkan keadaan.
"Tapi.. itu di luar konteks, Jul." Tim mencoba mengelak.
"Waktu itu kamu yang membawa ku kabur. Kenapa sekarang kamu jadi takut?"
"Ya, karena waktu itu aku tidak tau jika kamu adalah anak Ny.Wilson."
"Jika kamu tau aku itu Ana Wilson, apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja aku akan minum tebusan." ucap Tim dengan sumringah.
__ADS_1
"Tiiim." Julie mencubit pinggang Tim.
Tim tentu saja berteriak kesakitan. Kini giliran Julie yang tertawa. Tapi, kemudian mereka berdua saling memandang dengan intens. Baik Tim dan Julie enggan untuk berpaling menatap ke arah lain.
"Aku akan setuju membawa mu kabur, asal kamu harus penuhi permintaan ku." ucap Tim sambil mengusap pipi Julie.
"Jangan minta yang aneh-aneh." kata Julie yang mulai takut jika Tim minta sesuatu yang lebih darinya.
"Waktu aku CPR.. aku baru sadar jika aku sangat menyukai mu. Tapi itu tidak adil, karena aku tidak tau perasaan mu." "Sekarang, aku ingin memastikan apakah kamu juga menyukai ku, Juliana." Tim menundukkan kepalanya. Dia lalu mencium bibir Julie dengan lembut.
Mata Julie membulat karena terkejut. Tapi kemudian, dia menutup matanya untuk merasakan apakah hatinya memang mengijinkan Tim untuk masuk ke dalamnya.
Mereka berdua berciuman cukup lama sampai akhirnya terdengar suara peluit.
Seorang petugas berlari ke arah mereka dan terpaksa menghentikan kemesraan Tim dan Julie.
"Maaf, Pak, Bu. Apakah kalian ingin pergi ke suatu tempat? Kenapa kalian tidak membawa koper dan berpenampilan seperti ini?" ucap petugas itu heran.
Tim dan Julie saling memandang. Mereka baru sadar jika masih menggunakan piyama. Wajah Julie langsung memerah. Dia bersembunyi di belakang Tim karena malu.
"Maaf, kami tadi buru-buru karena takut berpisah." jawab Tim asal.
Tim menggenggam tangan Julie untuk pergi dari situ. Petugas tadi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah orang jaman sekarang yang berani sekali berciuman di tempat umum seperti dunia milik berdua, dan yang lain ngontrak.
"Tim, kenapa ga mau di lepas?" protes Julie yang lagi-lagi harus menahan malu karena Sopir taksi berulang kali melihat ke arah mereka yang sedang bergandengan tangan.
"Takut kamu pergi lagi." Kata Tim senang. Dia senang karena bisa mendapatkan hati seorang Ana alias Julie.
"Tim...terima kasih untuk semua nya." Julie tersenyum pada Tim. Dia bersyukur karena Tim yang menyelamatkan nya pada waktu itu. Jika Tim tidak ada, pasti dirinya sudah mati.
__ADS_1
"Kamu yakin ingin kembali ke hotel?" tanya Tim ragu. Di hotel pasti ada William dan Emily. Tim tidak ingin Julie sedih lagi karena mengingat segala apa yang telah mereka lakukan.
"Kita ke sana dulu. Aku belum berpamitan pada Adel."