
Julie menyandarkan bahunya pada pundak Tim. Dia begitu senang selama 8 bulan ini, karena Tim benar-benar mengajaknya keliling dunia. Dia bisa merasakan kedamaian dan kebebasan yang selama ini tidak pernah Julie dapatkan.
"Apakah dingin, Jul?" tanya Tim sembari merangkul Julie. Mereka saat ini sedang menatap langit di balkon kamar.
"Kalau kamu di sini, sudah pasti tidak akan dingin." Julie tersenyum pada Tim.
"Apa kamu bahagia?"
"Sangat."
Mereka saling menatap. Timothy sudah jatuh hati dengan Julie, begitu juga sebaliknya. Perasaan mereka semakin kuat karena segala hal yang mereka lakukan bersama. Entah siapa yang memulai, kini mereka saling berciuman dengan begitu mesra. Tim mengendong Julie dan membawanya ke kamar. Dia meletakkan Julie di ranjang.
"Tim,," Julie menghentikan Tim dengan sedikit mendorong tubuhnya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan seperti Emily, meskipun Tim sangat menyukainya.
Begitu juga dengan Tim. Tim harus menahan segala hasratnya pada Julie, mengingat bayangan keluarga Wilson.
"Sorry.. Jul." Tim duduk di pinggir ranjang untuk mendinginkan otaknya.
"Ya, it's okay, Tim. Aku hanya tidak ingin kamu terkena masalah." Julie juga bersandar pada head board. Jika mereka sudah sah sebagai suami istri, Julie tidak keberatan untuk melakukan itu dengan Tim.
"Jul,, sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama." Tim merogoh sakunya. Dia mengeluarkan sebuah kotak merah yang pasti sudah bisa ditebak oleh Julie.
Ya, sudah sejak lama Tim membeli sebuah cincin berlian untuk Julie. Tapi, dia takut untuk memberikannya pada gadis itu. Selain karena kasta, Tim juga takut Julie akan hidup susah dengannya.
__ADS_1
"Jul, aku tau, aku bukan yang terbaik untukmu. Tapi, Will you marry me?" Tim membuka kotak cincinnya di depan Julie.
Julie terkejut. Dia sampai menutup mulutnya karena pernyataan Tim yang memang dia tunggu-tunggu.
"Ya, aku mau menikah dengan mu." Ucap Julie dengan mata berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan kirinya.
Tim segera memasangkan cincin dengan mata berlian itu pada jari manis Julie. Cincinnya begitu cantik dan pas untuk kekasihnya itu.
"Terimakasih, Jul." Tim memeluk Julie dengan erat. Ada perasaan lega sekaligus cemas setelah berhasil mengutarakan keinginannya ini.
"Tim, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi."
"Aku tidak punya kekuatan untuk melawan keluargamu, tapi aku akan berusaha sebisaku, Nona Wilson." Tim mencium pucuk kepala Julie.
"Di tempat yang kamu inginkan, sayang." Tim merapikan rambut Julie yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Aku ingin menikah di Paris."
Ponsel Julie berdering, memutus pembicaraan mereka. Julie mengangkat telepon dari Adel.
"Ada apa Del?"
"Jul, kamu harus segera pergi dari situ, karena sepertinya kakak mu ingin membawa kamu pulang." kata Adel panik.
__ADS_1
"Maksudnya apa, Del?"
"Sorry Jul, aku terpaksa memberitahu posisimu karena dia mengancam Niko."
"Oke Del, terimakasih informasinya."
Julie mematikan telepon Adel, lalu menatap Tim dengan wajah bingung. Darimana kakaknya tau jika dia masih hidup? Apakah Romano yang memberitahukan mereka?
"Ada masalah apa, sayang?" Tim membaca ekspresi Julie yang tampak ketakutan.
"Sayang, keluargaku tau jika aku masih hidup." "Mereka sedang pergi ke sini."
"Ayo, kita cepat pergi dari sini." Tim mengambil koper mereka, lalu membuka lemari. Dia memasukan pakaian mereka sembarangan ke dalam koper.
"Timothy.. sabar dulu." Julie menahan Timothy.
"Ini sudah malam. Kita pergi besok pagi." "Mereka juga tidak mungkin secepat itu sampai kemari."
"Tapi, sayang.." Tim memegang tangan Julie. Dia baru saja melamar Julie dan tidak ingin hubungannya kandas dalam beberapa jam saja.
"Percaya padaku, Tim. Kita juga butuh istirahat."
Akhirnya, Tim mengikuti kemauan Julie. Dia harus memikirkan membawa Julie ke tempat yang aman, setidaknya sampai mereka menikah.
__ADS_1