Be Honest

Be Honest
Pacaran


__ADS_3

Julie cukup terkejut karena William mengajaknya ke restoran yang sama dengan kemarin yang dia datangi dengan Adel. Pelayan yang kemarin menangani Julie sampai hafal dengan wajah wanita cantik itu.


"Nona, anda ke sini lagi?" katanya sambil tersenyum. "Eh, Tuan juga ke sini kemarin." Pelayan itu beralih pada William. Dia memang pergi ke restoran ini kemarin, tapi dia tidak melihat Julie.


"Will, jangan bilang kamu yang bayar semua tagihan ku?" pekik Julie.


William tersenyum kecil.


"Ya ampun, Will.. kenapa kamu ga gabung sama kami Si? Malah jadi di bayarin.."


"Aku takut mengganggu saja." jawab William terbata. Sebenarnya dia berbohong, karena bukan dia yang membayar tagihan Julie. William bahkan tidak melihat Julie pergi ke restoran ini.


"Will.. kamu terlalu baik.." Julie terharu dengan tindakan William kali ini.


William lagi-lagi tersenyum. Dia memberikan sebuah buket bunga yang sejak tadi dia taruh di sebelahnya.


"Ini untuk kamu, Jul." Julie menerima mawar merah yang di berikan William dengan sumringah. Dia jadi teringat ketika di rumah sakit, Tim selalu membawa bunga yang cantik seperti ini.


"Thanks, Will.. Ini sangat cantik."


"Ya, seperti kamu." William meraih tangan Julie, lalu mencium punggung tangannya.


"Malu di liatin orang-orang, Will." Julie segera menarik tangannya.

__ADS_1


"Jul, boleh aku jujur?" William menatap Julie intens.


"Yaa?"


"Sejak pertama kali kamu menabrak ku, aku sudah tertarik pada mu."


Julie terperangah karena pengakuan dari William. Dia melihat dalam ke arah mata William yang tampak begitu meyakinkan.


William kembali mengambil tangan Julie yang berada di meja.


"Jul, mau kah kamu jadi pacar ku?"


Pacar? Julie tidak pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya. Dia bagaikan Rapunzel yang berada di istana dan tidak pernah mengenal dunia luar. Apalagi kedua kakaknya begitu protektif pada Julie. Sekarang Julie memiliki kesempatan untuk merasakan seperti orang lain, yaitu berpacaran.


"Will, bagaimana dengan Emily?" Julie teringat Emily yang tergila-gila pada William.


"Jul, sudah aku katakan. Aku tidak pacaran dengan Emily. Dan aku sudah bicara padanya untuk tidak mendekati ku lagi." jelas William sedikit frustasi.


"Aku bingung, Will."


"Jul, aku pastikan akan menjaga dan melindungi kamu."


"Baiklah. Saat ini aku hanya memiliki sedikit perasaan pada mu. Jadi aku harus beradaptasi dulu." akhirnya Julie membuat keputusan.

__ADS_1


"Jadi? Aku di terima?" William membulatkan matanya tidak percaya.


Julie mengangguk pelan.


William beranjak dari kursinya untuk memeluk Julie.


"Makasih, Jul."


"Will..malu Will.." Julie mencoba melepaskan William karena semua mata memandang ke arah mereka sambil senyum-senyum sendiri.


"Aku sangat senang, Jul. Maaf.." William kembali ke tempat duduknya.


"Jul, kamu sudah lihat soal gathering di Korea kan?" William menuangkan wine ke gelas Julie.


Julie mengangguk. Dia sebenarnya tidak terlalu semangat dengan hal ini. Julie lebih suka tidur dan berada di kost.


"Aku sudah pesan kan tiket VIP untuk mu."


"Ya ampun, Will.. kamu benar-benar mengerti aku." Ucap Julie senang. Dia tidak bisa naik pesawat ekonomi lagi. Itu sungguh membuat badannya pegal-pegal dan sakit semua.


"Tentu saja, sayang... aku akan berikan yang terbaik untuk wanita ku."


Julie tersenyum lebar. Ini awal yang bagus untuk memulai suatu hubungan dengan William.

__ADS_1


__ADS_2